Sabtu, 24 April 2010

Penyakit Langka Progeria

Progeria merupakan penyakit kesalahan kode genetik (terjadi mutasi), tepatnya kelainan protein (Lamin A) di sekitar inti sel atau menurut para ahli lainnya kesalahan terdapat di kromosom nomor 1, pada seseorang yang mengakibatkan penuaan dini sebelum waktunya.Progeria merupakan penyakit kesalahan kode genetik (terjadi mutasi), tepatnya kelainan protein (Lamin A) di sekitar inti sel atau menurut para ahli lainnya kesalahan terdapat di kromosom nomor 1, pada seseorang yang mengakibatkan penuaan dini sebelum waktunya.

Progeria terdiri atas dua jenis yaitu sindrom Hutchinson-Gliford (progeria masa kanak-kanak) dan sindrom Werner (progeria masa dewasa)

Progeria masa kanak-kanak atau yang disebut sebagai sindroma Hutchinson-Gliford ditandai dengan adanya kegagalan pertumbuhan pada tahun pertama kehidupan.

Tampak dengan jelas adanya ketidakseimbangan ukuran tubuh (kecil atau cenderung kurus), kulit terlihat keriput, pertumbuhan gigi terlambat atau bahkan tidak ada sama sekali, kemampuan bergerak sangat terbatas, dan beberapa ciri-ciri lainnya.

Biasanya, penderita hanya sanggup bertahan hidup sampai awal usia remaja, rata-rata hingga usia 13-14 tahun.

Para penderita seringkali mengalami aterosklerosis progresif (kelainan penyumbatan pembuluh darah) seperti yang biasa tampak pada individu lanjut usia.

Hal ini dapat mengakibatkan stroke atau serangan jantung yang berujung pada kematian.

Hingga saat ini belum ditemukan pengobatan dan pencegahan yang tepat untuk penanganan kasus progeria ini.
klik ini dulu








Jumat, 23 April 2010

Askep Kehamilan Ektopik Terganggu ( K E T )

Asuhan Keperawatan Kehamilan Ektopik Terganggu ( K E T )

Definisi :
Adalah kehamilan di tempat yang luar biasa (tdk di cavum uteri) / kehamilan extra uterin

Tempat tjd KET
Tuba
Ovarium atau rongga perut
Cervix
Pars interstitialis tubae/ dlm tanduk rudimenter rahim

Insiden
Banyak terjadi di dalam tuba (mg VI s/d XII)
Amerika = 1 : 150 persalinan

Insiden dipengaruhi faktor sosial dari gol. Rendah + infeksi GO ok berobat kurang
Etiologi
Hambatan perjalanan telur ke dalam cavum uteri, o.k :
salpingitis chronic, kelainan kongenital tuba, tumor yg menekan tuba, perlekatan tuba dgn sekitar, migratio externa
2. Tuba yang panjang, ex : hypoplasia uteri
3. Nidasi lbh cepat dan mudah, o.k : endometrium yang ektopil di dalam tuba, shg tjd :kehimalan ampuler, isthmik, interstitiil.


KET rahim tetap membesar karena hipertrofi otot2 o.k pengaruh hormon dari trofoblas.

Berakhirnya kehamilan ada 2 cara :
Abortus Tuber
Ruptur Tuba
Abortus Tuber
Telur membesar

Menembus endosalpinx

Masuk ke liang tuba

Keluar ke infundibulum


Akibat yang ditimbulkan dari abortus tuber :
Perdarahan cavum douglas

Haematocele retrourina
Haematosalpinx


Ruptur Tuba
Telur tembus ke lap. Otot tuba

Cavum peritonium

Luka ddg tuba + perdarahan rongga abdomen


Akibat yang ditimbulkan dari ruptur tuba :
Telur mati
Telur hidup kehamilan abdominal
Gejala KET
Amenorhea sekonyong2 nyeri perut ka/ki
Pusing tidak sadar
Perdarahan pervag. Sedikit2
Pucat & syock o.k hypovolaemia
Perut tegang dan VT sgt nyeri
Pembesaran uterus
Tumor dlm rongga panggul
Ggn kencing inkontinensia uri
Perub. darah
Diferential diagnosis
Salpingitis
Abortus
Perdarahan o.k kista folikel/corpus luteum pecah
Diagnostik KET
Reaksi Galli Mainini
Douglas punksi dg tanda : darah merah tua, tdk membeku stlh dihisap, ada stolsel
Pitocin test
Sondage Ro Foto
Hysterografi dgn lipidol
Terapi
Operatif
Askep KET
Pengkajian :Biodata, KU, RPS, RPMsL, Status Obgin, R/Kesh klg, dll
Px/ Fisik
Px/ Ginekologi : VT dan RT
Px/ Lab : Hb, Test gravid (+), kuldosintesis, USG, Laparatoskopi
Dx/ Kep KET
Ggn pemenuhan keb. Cairan tubuh b/d perdarahan
Ggn rasa nyaman (nyeri) b/d pembesaran buah kehamilan extrauterin
Resiko shock b/d perdarahan hebat
Ggn psikologis (cemas) b/d krg penget. Ttg kesuburan yg mengancam

1. GGn pemenuhan keb. Cairan tubuh b/d perdarahan
Intervensi :
Kaji perdarahan (juml, warna, gumpalan)
Cek. Hb.
Anjurkan banyak minum
Anjurkan Bed rest
Kolab. Dgn tim medis : transfusi drh

2. Ggn rasa nyaman (nyeri) b/d pembesaran buah kehamilan extrauterin
Intervensi :
Kaji tingkat nyeri klien
Durasi, lokasi, frekw, jenis nyeri (akut, kronik, mendadak, terus2)
Cipt. Lingk. Yg nyaman
Ajarkan tehnik relaxasi dan distraksi
Kompres dingin
Posisi yg nyaman
Kolab. Dg tim medis : analgetik
3. Resiko shock hypovolemik b/d perdarahan hebat
Intervensi :
Monitor vital sign
Kaji perdarahan
Cek Hb.
Pasang infus
Check gol. Drh
Kolab. Dgn tim medis : transfusi darah
Obs. Tanda shock

4. Ggn psikologis (cemas) b/d krg penget. Ttg kesuburan yg mengancam
Intervensi :
Kaji tkt kecemasan
Kaji tkt penget.
Ajari pasien untuk lbh terbuka
Beri penjelasan ttg proses peny.
Anjurkan klg untuk memberi support system

TEKANAN DARAH

PENGERTIAN
Tekanan : aliran darah terhadap setiap satuan luas dari dinding pembuluh darah
Tekanan Darah Menggambarkan :
klik ini dulu
Keefektifan Kontraksi Jantung
Cukup Tidaknya volume darah
Adanya obstruksi / hal-hal lain yang menghambat aliran darah
Bunyi Jantung
Selama gerakan jantung terdengar 2 macam suara :
(Disebabkan oleh katup-katup yang menutup secara pasif)

Bunyi Jantung II Disebabkan :
Menutupnya katub Aortik dan pulmoner sesudah kontraksi dari ventrikel
B J II : Pendek dan Tajam terdengar seperti suara “ D U B “
FASE I : PENGISIAN
Volume Akhir Sistole :
Jumlah darah yang tetap tinggal dalam ventrikel sesudah denyut jantung terdahulu.
Volume Ventrikel : ± 45 ml
Tekanan Diastole hampir 0
Volume Akhir Diastole :
Darah baru yang berasal dari atrium memasuki ventrikel (± 70 ml)
Meningkat ± 115 ml
FASE II ; KONTRAKSI ISOVOLEMIK
Volume tetap , tekanan ventrikel sebesar 80 mm Hg.
FASE IV : PERIODE RELAKSASI ISOVOLEMIK
Akhir periode ejeksi, katup semilunar menutup ke nilai tekanan diastole

Ventrikel kembali ke titik permulaan
( sisi darah dalam ventrikel 45 ml tekanan atrium 0 mmHg
Faktor Yang Mempengaruhi Tekanan Darah (Fisiologi)
Tahanan Perifer
Tahanan yang dikeluarkan oleh gesekan darah yang mengalir dalam pembuluh
Elastisitas dinding P. Darah
Viskositas (kekentalan darah)
Volume Darah
Gerakan memompa jantung
FAKTOR LAIN :
Ber + usia tekanan darah semakin naik
Pria > wanita (pada umur sama)
Formula tekanan darah sistolik untuk anak

Bp. Sistole : 80 + (2 x umur anak dalam tahun)
VARIASI TEKANAN DARAH MENURUT UMUR

CARA MENGUKUR TEKANAN DARAH
Persiapan Alat :
1. manometer air raksa/aneroid
2. stetoskop
3. buku observasi

Cara Kerja :
a. Cuci tangan
b. Terangkan pd pasien ttg prosedur yang
akan dilakukan dan tujuan dilakukan
pengukuran tekanan darah
c. Berikan pd pasien posisi yg nyaman
( berbaring / duduk )


bila pasien duduk salah satu tangan
diletakkan diatas meja (tangan kanan dengan
posisi flexi dan sejajar dgn jantung)
d. Palpasi daerah arteri brachialis
e. Pastikan bahwa manset tidak ada udara,
kemudian pasang manset diatas arteri
brachialis ± 2,5 cm (diatas denyutan )
f. Letakkan manometer (tabung air raksa sejajar
dengan mata)
g. Untuk memulai mengukur tek. Darah, buka dahulu
kait yang terletak dibawah tabung air raksa ke arah
kanan .



h. Palpasi daerah arteri radialis dan temukan
denyutan. Tutup katup pemompa dgn kencang
kemudian pompa sampai tidak teraba denyutan
pada arteri radialis tambahkan ± 30 mmHg.
i. Pasang stetoskop pada telinga dan letakkan di arteri
brachialis
j. Buka katup pemompa secara perlahan-lahan dgn
waktu ± 30 detik/ 2-3 mmHg.
k. Dengar bunyi I dan pada angka berapa bunyi I
terdengar
l. Lanjutkan sampai bunyi II terdengar
m. Ulangi pengukuran dgn selang waktu 30 menit
n. Catat hasil pengukuran dan bereskan alat
o. Cuci tangan
GANGGUAN TEK. DARAH
HIPERTENSI
Tekanan darah yang naik diatas normal
Tekanan diastole yang lebih dari 130
mmHg Hipertensi serius

HIPOTENSI
Tekanan darah dibawah normal
Terjadi :
Waktu istirahat, lelah dan gejala dari
penyakit


.

PEMERIKSAAN FISIK

Tujuan :
1. menentukan masalah kesehatan aktual dan potensial klien
2. menentukan penyebab penyakit dan menentukan penyakit yang diderita klien
klik ini dulu

Manfaat :
1. Deteksi dan dokumentasi perubahan penting kondisi klien. Perubahan kondisi klien bisa cepat dan tidak kelihatan, dan dapat dilihat melalui pengukuran tanda vital dan observasi.
Menetapkan tanda kewaspadaan dini : mengantisifasi kerusakan dan penyimpangan keadaan sebelum adanya diagnostik pasti.


Mengantisifasi masalah : hasil pemeriksaan fisik digunakan untuk perawatan pencegahan
Pemahaman tentang kebutuhan utama dan pengalaman tentang penyakit : akan mengurangi kecemasan dan meningkatkan kesembuhan


SEBELUM PEMERIKSAAN FISIK PERLU RIWAYAT KEPERWATAN
Riwayat keperawatan adalah : kumpulan data mengenai tingkat kesehatan , perubahan pola hidup, peran sosial budaya, reaksi mental dan emosional terhadap penyakit
Tujuan : adalah mengidentifikasi pola kesehatan dan penyakit , faktor resiko kesehatan fisik dan penyimpangan dari normal


Komponen riwayat kesehatan meliputi :
1. Informasi biografi : Nama; tgl lahir; jenis kelamin; status perkawinan
2. Riwayat klien :
Alasan untuk mencari perawatan kesehatan dan pengkajian riwayat kesehatan masa lalu. Meliputi : info timbulnya gejala, lama penyakit, faktor pencetus dan tindakan penyembuhan
Riwayat kesehatan meliputi : penyakit sebelumnya.


3. Riwayat keluarga : Status kesehatan keluarga saat. Dikaitkan keseh klien

4. Riwayat kesehatan lingkungan meliputi : informasi terhadap bahaya cedera dan polutan
5. Riwayat psikososial : Status sossek, nilai kehidupan, kebiasaan sosial, perilaku sexual, koqnitif dan afektif
6. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan kepala s/d kaki dari sistem tubuh klien

KETRAMPILAM PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

PERSIAPAN PEMERIKSAAN FISIK
PERSIAPAN LINGKUNGAN
Ada tirai penghalang ( untuk RS)
Cahaya cukup
Ruangan yang tenang, ruang kedap suara amat ideal
Atur posisi yang nyaman dengan diberi bantal kecil pada kepala
Bila posisi terlentang naikkan kepala tempat tidur ±30ยบ
Ruangan cukup hangat
PERALATAN DAN BAHAN PEMERIKSAAN FISIK

1. Format pemeriksaan fisik dan pulpen
2. Kartu snellen
3. Senter
4. Tensi meter
5. Stetoskop
6. Timbangan BB
7. Pengukur TB
8. Termometer

PERSIAPAN FISIK KLIEN
Pastikan kenyaman fisik klien sebelum pemeriksaan fisik, apa ingin BAB/BAK
Pastikan klien berpakaian dengan baik
Pastikan klien tetap hangat.

SURVEY UMUM
Adalah Observasi penampilan dan perilaku umum klien , mengukur tanda vital, BB dan TB, antropometri meliputi : kepala, dada, lengan atas, abdomen.
PESIAPAN KLIEN
Posisi duduk/berdiri
Melepas sepatu/pakaian yang tebal

RIWAYAT
Tanyakan TB/BB saat ini, apa ada perubahan BB
kaji riwayat pemasukan dan pengeluaran cairan
Minta klien menjelaskan apa saja yang telah dimakan selama 24 jam sebelumnya
Tanyakan alasan mencari pertolongan
TEHNIK PENGKAJIAN
KAJI ULANG PENAMPILAN DAN PERILAKU UMUM KLIEN :
Jenis kelamin , mempengaruhi tipe pengkajian dan bagaimana pengkajian dilaksanakan
Tanda distres : seperti nyeri, sulit nafas
Tipe tubuh : langsing, gemuk, kurus
Postur : merosot, tegak atau bongkok

Pergerakan tubuh : tremor extrimitas, imobilitas extrimitas
Hygine dan kerapian : amati kulit, rambut, kuku , dan cara berpakaian
Bau badan : bau badan tidak enak hygine yang tidak baik
Minat dan afek. Afek ; perasaan seseorang tentang penampilan terhadap orang lain. Minat (moot) ; expresi verbal maupun non verbal
Bicara : normal, pelan atau cepat


PENGUKURAN BB DAN TB
Kalibrasi timbangan pada titik nol
Klien berdiri tegak diatas timbangan, naikkan tangkai logam yang menonjol pada timbangan ke atas kepala klien
MENGUKUR TANDA VITAL
Tekanan darah
Respirasi
Nadi
Suhu tubuh

PENGUKURAN ANTROPOMETRI
Lingkar lengan atas (LILA)
Dada
Kepala
Abdomen

Lingkar kepala bayi : 31 – 37 cn
Lingkar dada bayi : melebihi lingkar kepala ± 2,5 cm
Lingkar dada 1-2 th sama dengan lingkar kepala
Lingkar dada 3-4 th 5-7 cm lebih kecil dari lingkar kepala

PENGKAJIAN NADI

Denyut nadi adl : aliran darah yd dpt teraba pd berbagai titik tubuh
Lokasi denyut nadi : klik ini dulu
Radial paling umum dilakukan
Apikal deteksi kelainan u/ denyut nadi radial
Karotid terbaik menemukan denyut nadi saat kondisi memburuk


Brakhial pengukuran TD
Femoral
Ulna
Politeal, dll
Hasil normal :
Bayi baru lahir : 100-180 x/mnt
Bayi 1 mgg -3 bln : 100-220 x/mnt
3 bln – 2 th : 80-150 x/mnt
Anak 2 – 10 th : 70 – 110 x/mnt
Remaja 10 – 21 th : 60 – 90 x/mnt


Dewasa > 21 th : 69 – 100 x/mnt
Faktor yg memp frekwensi :
Latihan : japen meningk, japan menguat otot jantun frekw > rendah
Demam, panas
Nyeri akut, cemas
Obat-obatan : betabloker memperlambat
Kehilangan darah : meningk
Perubahan posisi tubuh : berbaring (nurun), berdiri (ningkat)

Cheyne stokes : irama resp tdk teratur ditandai periode apnea dan hiperventilasi. Dimulai lambat & dangkal yg perlahan meningk kedalaman dan frekw
Kussmaul : kedalaman respirasi abnormal dg irama teratur frekw meningk
Dispnea : kesulitas bernapas, ditandai peningk u/ menghirup & mengeluarkan udara. Menggunakan otot2 interkosta dan tambahan
Biot’s : respirasi tdk teratur dg periode apnea, ditandai peningk tekan intrakranial

7. Metabolisme : hipertiroid (meningkat) hipotiroid (menurun)

Peralatan :
Jam tangan dengan detik
Pena dan lembar kerja
Langkah langkah :
Cuci tangan
Jelaskan tujuan dan prosedur
Bantu klien terlentang atau duduk.


Bila terlentang , tangan menyilang di dada bawahnya dg pergelangan terbuka dan telapak ke bawah.
Bila duduk , tekuk sikunya 90 dan sangga lengan bawahnya di atas kursi . Julurkan pergelangan dg telapak tangan ke bawah
4. Letakkan ujung dua jari pertama atau tiga jari tengah tangan anda menekan menekan sepanjang celah radial atau ibu jari disamping pergelangan dalam klien

5. Bila nadi dpt diraba dg teratur , gunakan penunjuk detik pd jam tangan anda, mulai menghitung frekwensi ,mulai dari 0 dan kemudian 1, dll
6. Bila nadi teratur , selama 30 dt dan hasil kalikan 2
7. Bila nadi tdk teratur hitumg selama 1 mnt penuh
8. Kaji keteraturan dan frekwensi

9. Tentukan kekuatan nadi. Apakah nadi meninjol kuat, lemah atau cepat.
10. Catat dalam lembar kerja. Laporkan bila ada abnormalitas pd dokter atau perawat senior
11. Diskusikan hasilnya dg klien
12. Cuci tangan
PENGKAJIAN PERNAPASAN
Peralatan :
Jam tangan dengan detik
Pena dan lembar kerja
Langkah langkah :
Pastikan klien posisi yg nyaman, lebih baik duduk/ semi fowler
Letakkan lengan klien posisi rileks menyilang abdomen , tempatkan tangan anda langsung pd abdomen atas klien

3. Obs siklus pernapasan lengkap (inspirasi dan expirasi)
4. Sekali siklus ter obs, perhatikan jarum jam penunjuk dtk dan mulai hitung frekwensi : bl dtk jam tangan mencapai angka putaran , hitung “ satu” untuk mulai siklus pertama yg lengkap.
5. Orang dewasa, hitung jumlah pernapasan dlm 30 dtk dan kalikan 2. Bayi dan anak hitung selama 1 mnt

6. Orang dewasa yg tdk normal (lambat atau cepat) hitung selama 1 mnt
7. Sementara menghitung, perhatikan kedalaman pernapasan (dangkal, normal, atau dalam) dan irama normal atau terjadi perubahan pola.
8. Catat hasil dlm lembar kerja.

Respirasi normal
Bayi baru lahir : 35 X/mnt
1-11 bln : 30 X/mnt
2 thn : 25 X/mnt
4 – 12 th : 19- 23 X/mnt
14-18 th : 18 X /mnt
Dewasa : 12 – 20 X/mnt
Lansia (>65 th) meningkat scr bertahap


Faktor yg memp respirasi :
Latihan
Kecemasan, takut
Kesadaran diri
Terapi obat ; anagetik narkotik (menurunkan), amfetamin dan kokain (meningkatkan
Demam
Merokok
Posisi tubuh : tegak , bungkuk

Jenis kelamin : pria > wanita kapas vital
Usia : dari bayis/d dewasa meningk kaps vital, elastisitas dan kedalaman paru
Nyeri akut : meningk frekw &kedalaman
Asidosis metabolik dan Asd respiratorik : meningk frekw & kedalaman

Gangguan respirasi
Bradipnea : lambat tp frekw teratur
Takipnea : >normal kedalaman teratur
Hiperpnea : Peningk kedalaman & frek
Apnea : penghentian respirasi
Hiperventilasi : ventilasi melebihi kebut metabolisme, pertukaran gas, kecep dan kedalaman meningk
Hipoventilasi : udara yg masuk tdk mencukupi kebutuh

Cheyne stokes : irama resp tdk teratur ditandai periode apnea dan hiperventilasi. Dimulai lambat & dangkal yg perlahan meningk kedalaman dan frekw
Kussmaul : kedalaman respirasi abnormal dg irama teratur frekw meningk
Dispnea : kesulitas bernapas, ditandai peningk u/ menghirup & mengeluarkan udara. Menggunakan otot2 interkosta dan tambahan
Biot’s : respirasi tdk teratur dg periode apnea, ditandai peningk tekan intrakranial
PENGUKURAN SUHU AKSILA
Peralatan :
Termometer kaca merkuri pendek atau termometer elektronik
Kertas tissu
Pena dan lembar kerja
3 botol berisi : air sabun, disinfektan, air
Langkah langkah :
Cuci tangan
Jelaskan prosedur pd klien

3. Tutup gorden sekitar TT , dan tutup pintu ruangan.
4. Bantu klien untuk duduk atau posisi terlentang. Lepaskan pakaian atau baju dari bahu dan tangan klien.
5. Ukur suhu
Termometer kaca :
Pegang ujung atas termometer dg ujung2 jari anda
Baca ketinggian merkuri

Bila diatas tk yg diinginkan. Pegang ujung atas termometer dg kuat dan jauhkan dr benda keras. Dg cepat goyangkan keatas dan kebawah. Lanjutkan sampai pembacaan mencapai tk yg tepat.
c. Masukkan termometer ke tengah aksila klien, turunkan tangan diatas termometer, dan letakkan lengan bawah menyilang di atas dada.
d. Tahan termometer selama 5-10 mnt/sesuai kebijakan institusi

e.Lepaskan termometer dan bersihkan adanya sekret dg tissu. Bersihkan dg cara memutardari jari ke arah pentolan. Buang tissunya.
f. Bila termometer mau digunakan lagi, termometer dicelupkan ke botol air sabur lalu di bersihkan dg kassa/tissu, dicelupkan ke botol disifektan lalu dibersihkan terakhir pd botol berisi air dan dibersihkan dg kassa/tissu.

6. Bantu klien menggunakan baju
7. Cuci tangan
8. Catat suhu pd bagan atau lembar kerja. Tanda A untuk aksila, O (oral) R (rektal)

Panas diprodusi tubuh dg 4 cara :
Dengan metabolisme basal
Latihan meningk kerja otot


Sekresi hormon tiroid
Saat gula darah turun, rangsangan sarap simpatikmemacu sekresi epineprin dan nor epineprin meningk produksi suhu
Suhu hilang dr tubuh dg 4 cara :
Radiasi ; perpindahan panas tanpa ada kontak dr keduanya
Konduksi : perpindahan panas mll kontak langsung dg tubuh


Konveksi : udara panas sekitar kulit tubuh mengalir ke udara yg lebih dingin mll arus konveksi
Evaporasi : kehilangan panas tdk terlihat, Diaforesis mengatur suhu tubuh mll evaporasi
Pusat pengaturan suhu : hipotalamus

Faktor yg mempeng suhu:
Usia : bayi pengat suhu tdk stabil s/d pubertas. Dewasa tua sensitif thd suhu extrim akibat penurun pengat panas
Latihan : lat berat meningk suhu
Variasi diurnal : berubah 0,5-1 C/24 jam,terendah pk 01.00-04.00, memuncak antara pk 4 – 7.00
Stress

Faktor yg mempeng suhu:
Lingkungan : suhu extrim lingk meningk/menurun. Tgt luasnya T4, kelembaban dan arus konveksi
Tingkat hormonal : siklus menstruasi dan menapause menyebab fluktuasi suhu

Aspek Budaya Dan Etika Keperawatan

Berbuatlah baik pada sesama, maka anda etis, benarkah demikian ?
Kholid. SST. M.Kes
Pengantar

Contoh
Ada teman butuh uang satu juta; sebagai orang baik dan etis, anda serta merta meminjami.
ternyata uang tersbt digunakan untuk judi dan minum-minuman keras, teman anda kalah dan mabuk, sampai rumah teman anda memukuli istrinya karena lambat buka pintu.
Sudah etiskan anda ?


Lebih rumit lagi etika di tempat kerja.
Seorang perawat merawat pasien menerima pemberian dari keluarga pasien
Apakah ini etis ?

Etika dalam pertemuan ini adalah Normative Ethics, yaitu standar moral yang mengatur benar atau salah.
Hukum utamanya menggunakan prinsip normatif klasik;
we should do others what we would want others to do us.

Terdapat tiga pendekatan dalam etika normatif
1. Virtue Theories ( Teori kebajikan)
2. Duty Theories ( Teori Kewajiban)
3. Consequentialist Theorist
(Teori Konsekuensi)
Virtue Theories
Teori ini lbh memberi penekanan pada perilaku baik, sbg suatu kebajikan atau Virtue.
Menurut Plato terdapat empat Cardinal Virtue; Bijak, Berani, sederhana, dan adil.
Fieser (2003) menambahkan: tabah, tulus, mempunyai harga diri, sabar dan dermawan
Duty Theories
Menurut Ross ada 7 kewajiban yang harus dilakukan manusia :
1. Menepati janji
2. memberi ganti rugi jika kita merugikan org lain
3. Berterimakasih kpd orang yg membantu kita
4. tidak menyakiti org lain
5. meningkatkan citra
6. Pengetahuan
7. Ketrampilan pribadi

Ross menyatakan bahwa dimungkinkan akan terjadi konflik kewajiban. Kita harus bijak dalam mengambil keputusan.
Cth.
Direktur yang memecat mhsiswa yang mencuri, jelas menyakiti org lain, tatapi ia telah berlaku adil dan membantu mahasiswa lainnya.
Consequentialist Theorist
Teori ini menetapkan baik buruknya suatu perilaku berdasarkan “analisis harga dan manfaat” atas konsekuensi tindakan.
Jadi suatu aksi scr moral dikatakan benar apabila akibat baik dari aksi tersbt lbh banyak daripada akibat buruknya.
Bila konsekuensi baik lebih banyak dari konsekuensi buruk berarti tindakan kita benar.


Contoh
Alkohol lebih banyak buruknya daripada manfaatnya, org yg tdk minum lbih baik dari pada yg minum alkohol.
pertanyaannya sekarang, memberi manfaat kepada siapa ?
Ada 3 jenis Consequentialist;
1. Ethical egoisme, apabila bermanfaat untuk diri kita
sendiri
2. Ethical Altruisme, apabila mamfaatnya untuk semua
orang, kecuali kita sendiri
3. Utilitarianisme, apabila bermanfaat untuk semua
orang termsk diri kita
Mangapa kita bicara Etika ?
Perawat adalah jabatan profesional yang hrs memenuhi kualifikasi tertentu antara lain; adanya keg intelektual, displin ilmu yang khusus, karien hidup yang permanen, mengutamakan pelayanan, mempunyai wadah organisasi, dan kode etik yang ditaati
Sebagai seorang perawat harus memiliki sikap profesional yang meliputi : Peraturan per-UU, Organisasi profesi, teman sejawat, pemimpin, tempat kerja atau pekerjaan itu sendiri.
Profesional
IF I am a profesional, I must be a professional something but what ?
Untuk menjelaskan profesional, kita dapat merujuk
1. seorang dikatakan profesional apabila
menabdikan diri dengan kompetensi yang
amat tinggi dalam suatu pekerjaan
2. Profesional berarti profesi yang di emban
membthkan ilmu pengetahuan yg luas
atau membthkan peltihan dan ketrampilan
tingkat tinggi.

3. Seorang profesional hrs memenuhi tiga hal :
1) Memiliki pengetahuan, keahlian,
ketrampilan khusus yg tdk dimiliki
profesi lain
2) Memegang teguh nilai-nilai dan
perilaku khas untuk profesi
3) Memiliki ukuran-ukuran/standart untuk
kedua hal tersbt

Pengantar Farmakologi Umum

Definisi
Farmakologi berasal dari Kata “Farmakon” Yang berarti : “obat” dalam arti sempit dan dlm makna luas adalah : “Semua zat selain makanan yg dapat mengakibatkan perubahan susunan atau fungsi jaringan tubuh”. klik ini dulu

Logos yaitu : ilmu
Jadi Farmakologi ialah :Ilmu yang mempelajari cara kerja obat didalam tubuh.

Obat ialah : Suatu substansi yang dapat mempengaruhi fungsi normal tubuh pada tingkat sel.
Farmakodinamik ialah : ilmu yang mempelajari cara kerja obat, efek obat thd faal tubuh dan perubahan biokimia tubuh.
Farmakokinetik ialah : ilmu yang mempelajari cara pemberian obat, perubahan yg dialami obat didlm tubuh dan cara obat dikeluarkan dari tubuh (ekskresi).

Kemoterapi ialah : pengobatan dgn tujuan mematikan bakteri, parasit atau sel ganas (kanker).
Toksikologi ialah : ilmu yang mempelajari efek merugikan dari suatu farmakon (obat dan zat-zat yg digolongkan sbg racun).
Dosis ialah : takaran yang diberikan pada penderita.
Habituasi atau ketagihan adalah : kejadian pemakaian obat secara menahun yg menyebabkan gangguan emosi bl pemberian obat itu dihentikan. Contoh :Merokok dan minum kopi
Adiksi ialah ; kejadian pemberian obat yg menyebabkan toleransi dan penghentiannya menyebabkan timbulnya sindrom gejala putus obat Misal : morfin
Toleransi obat : resistensi yg terjadi sbg akibat pemakaian yg menahun. Untuk memperoleh efek yg sm dibutuhkan dosis yg lbh tinggi. Contoh : barbiturat.
Prinsip lima benar terapi pemberian obat
Pasien yang benar
Obat yang benar
Dosis yang benar
Cara pemberian yang benar
Waktu yang benar

Pasien yang benar
Sebelum obat diberikan identitas klien harus diperiksa ( gelang / papan identitas di TT) / ditanyakan.bila pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dpt dipakai misal ; Klien mengangguk
Obat yang benar
Sebelum memberi obat, label / nama obat diperiksa dulu sampai 3x
Perawat harus tahu untuk apa obat itu diberikan
Dosis yang benar
Sblm obat diberikan, perawat hrs memeriksa dosisnya. Jika ragu konsultasi dgn apoteker atau penulis resep sblm dilanjutkan.

Cara pemberian yang benar
Obat dpt diberikan dgn cara yg berbeda, faktor yg menentukan cara pemberian obat ditentukan oleh :
Keadaan umum pasien
Kecepatan respon yg diinginkan
Sifat kimiawi dan fisik obat
Waktu yang benar
Sangat penting, khususnya obat yg efektivitasnya tergantung untuk mencapai / mempertahankan kadar darah yg memadai,obat itu hrs diberikan tepat waktu. Hal ini banyak berlaku pada obat antibiotik

Cara pemberian obat
Oral
Cara pemberian obat lewat mulut,paling banyak dipakai karena ekonomis,aman dan nyaman
Obat jg dpt diabsorbsi melalui rongga mulut (sub lingual/bukal) misal tablet gliserin trinitrat.
Bentuk obat oral:
Tablet : dpt mengandung obat murni atau diencerkan dgn substansi inert agar mencapai berat sesuai.
Kapsul : mengandung obat berupa bubuk, butiran bersalut / cairan dlm kapsul lunak
Lozenges (Obat isap)
Obat padat ini akan larut secara berangsur dlm mulut. Berguna bila diperlukan kerja kerja setempat dimulut atau ditenggorokan.
Sirup : larutan gula ‘pekat” dlm air yg telah ditambahkan obat



2. Parenteral ( tdk melalui saluaran pencernaan )
3. Topikal
Bentuk obat ini dipakai untuk permukaan luar badan dan berfungsi melindungi atau sebagai vehikel untuk menyampaikan obat.bentuk obat topikal bisa salep dan krim
Rektal
Cara pemberian obat melalui rektum
Pemberian rektal mungkin dilakukan untuk memperoleh efek lokal sprt pada konstipasi atau hemoroid
Bentuk obat supositoria, obat dlm bentuk mirip peluru dan akan mencair pada suhu badan
Inhalasi
Pemberian obat melalui saluran pernafasan (dgn cara dihirup)
Pada klien asma : sprei beklometason atau dlm keadaan darurat misal terapi oksigen

Faktor - faktor yang mempengaruhi efek obat yg diberikan
Distribusi
Distribusi obat tdk merata dan tertimbun pada organ tertentu dlm jumlah besar
Penundaan efek obat
Karena obat memerlukan biotransformasi menjadi zat aktiv atau efek obat tertunda karena terikat pd protein dan lemak
Dosis
Dosis anak atau dewasa tentu berbeda, bila hal ini terjadi akan menimbulkan efek yg tdk diinginkan misal : obat kloramfenikol akan sgt beracun bl diberikan pd anak-anak
Efek obat yg dipengaruhi oleh umur, berat badan dan jenis kelamin

Waktu pemberian
Waktu jg mempengaruhi efek terutama obat yg ditelan, obat yg diminum sewaktu lambung kosong akan lebih cepat diserap dr pd obat diminum setelah makan. Selain itu obat yg merangsang mukosa lambung dpt diberikan dlm dosis lebih besar bila diberikan setelah makan
Kecepatan ekskresi obat
Kecepatan ekskresi obat hrs diperhatikan terutama pd penderita penyakit ginjal karena obat akan lbh lama tinggal didalam tubuh mengakibatkan terjadinya keracunan
Cara pemberian obat dpt mempengaruhi efek
Hipersensitivitas atau alergi berupa : gatal, ruam kulit, serangan asma, muntah, diare dan syock anafilaktik
Kombinasi obat dpt memberi efek sinergistik atau antagonistik

Cara Penyimpanan Obat
Tiga faktor utama yg harus diperhatikan dlm penyimpanan obat :
Suhu
Suhu adalah satu faktor terpenting, karena kebanyakan obat itu bersifat termo – labil (rusak atau diubah oleh panas). Untuk itu penyimpanan obat:
Ditempat sejuk : <15 drjt celcius (misalnya:insulin tdk blh beku ) dlm lemari es
Suhu antara 2-10 drjt C (misalnya: vaksin typoid)
2. Letak
Obat itu bersifat toksik karena itu tempat penyimpanan hrs terang, letak setinggi mata, bukan tempat umum. Lemari obat harus terkunci.
Kedaluarsa
Kurangi kedaluarsa dgn cara rotasi stok artinya obat baru diletakkan dibelakang. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan warna (dari bening jd keruh) dan tablet menjadi basah

Pengantar Farmakologi Umum

Definisi
Farmakologi berasal dari Kata “Farmakon” Yang berarti : “obat” dalam arti sempit dan dlm makna luas adalah : “Semua zat selain makanan yg dapat mengakibatkan perubahan susunan atau fungsi jaringan tubuh”.

Logos yaitu : ilmu
Jadi Farmakologi ialah :Ilmu yang mempelajari cara kerja obat didalam tubuh.

Obat ialah : Suatu substansi yang dapat mempengaruhi fungsi normal tubuh pada tingkat sel.
Farmakodinamik ialah : ilmu yang mempelajari cara kerja obat, efek obat thd faal tubuh dan perubahan biokimia tubuh.
Farmakokinetik ialah : ilmu yang mempelajari cara pemberian obat, perubahan yg dialami obat didlm tubuh dan cara obat dikeluarkan dari tubuh (ekskresi).

Kemoterapi ialah : pengobatan dgn tujuan mematikan bakteri, parasit atau sel ganas (kanker).
Toksikologi ialah : ilmu yang mempelajari efek merugikan dari suatu farmakon (obat dan zat-zat yg digolongkan sbg racun).
Dosis ialah : takaran yang diberikan pada penderita.
Habituasi atau ketagihan adalah : kejadian pemakaian obat secara menahun yg menyebabkan gangguan emosi bl pemberian obat itu dihentikan. Contoh :Merokok dan minum kopi
Adiksi ialah ; kejadian pemberian obat yg menyebabkan toleransi dan penghentiannya menyebabkan timbulnya sindrom gejala putus obat Misal : morfin
Toleransi obat : resistensi yg terjadi sbg akibat pemakaian yg menahun. Untuk memperoleh efek yg sm dibutuhkan dosis yg lbh tinggi. Contoh : barbiturat.
Prinsip lima benar terapi pemberian obat
Pasien yang benar
Obat yang benar
Dosis yang benar
Cara pemberian yang benar
Waktu yang benar

Pasien yang benar
Sebelum obat diberikan identitas klien harus diperiksa ( gelang / papan identitas di TT) / ditanyakan.bila pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dpt dipakai misal ; Klien mengangguk
Obat yang benar
Sebelum memberi obat, label / nama obat diperiksa dulu sampai 3x
Perawat harus tahu untuk apa obat itu diberikan
Dosis yang benar
Sblm obat diberikan, perawat hrs memeriksa dosisnya. Jika ragu konsultasi dgn apoteker atau penulis resep sblm dilanjutkan.

Cara pemberian yang benar
Obat dpt diberikan dgn cara yg berbeda, faktor yg menentukan cara pemberian obat ditentukan oleh :
Keadaan umum pasien
Kecepatan respon yg diinginkan
Sifat kimiawi dan fisik obat
Waktu yang benar
Sangat penting, khususnya obat yg efektivitasnya tergantung untuk mencapai / mempertahankan kadar darah yg memadai,obat itu hrs diberikan tepat waktu. Hal ini banyak berlaku pada obat antibiotik

Cara pemberian obat
Oral
Cara pemberian obat lewat mulut,paling banyak dipakai karena ekonomis,aman dan nyaman
Obat jg dpt diabsorbsi melalui rongga mulut (sub lingual/bukal) misal tablet gliserin trinitrat.
Bentuk obat oral:
Tablet : dpt mengandung obat murni atau diencerkan dgn substansi inert agar mencapai berat sesuai.
Kapsul : mengandung obat berupa bubuk, butiran bersalut / cairan dlm kapsul lunak
Lozenges (Obat isap)
Obat padat ini akan larut secara berangsur dlm mulut. Berguna bila diperlukan kerja kerja setempat dimulut atau ditenggorokan.
Sirup : larutan gula ‘pekat” dlm air yg telah ditambahkan obat



2. Parenteral ( tdk melalui saluaran pencernaan )
3. Topikal
Bentuk obat ini dipakai untuk permukaan luar badan dan berfungsi melindungi atau sebagai vehikel untuk menyampaikan obat.bentuk obat topikal bisa salep dan krim
Rektal
Cara pemberian obat melalui rektum
Pemberian rektal mungkin dilakukan untuk memperoleh efek lokal sprt pada konstipasi atau hemoroid
Bentuk obat supositoria, obat dlm bentuk mirip peluru dan akan mencair pada suhu badan
Inhalasi
Pemberian obat melalui saluran pernafasan (dgn cara dihirup)
Pada klien asma : sprei beklometason atau dlm keadaan darurat misal terapi oksigen

Faktor - faktor yang mempengaruhi efek obat yg diberikan
Distribusi
Distribusi obat tdk merata dan tertimbun pada organ tertentu dlm jumlah besar
Penundaan efek obat
Karena obat memerlukan biotransformasi menjadi zat aktiv atau efek obat tertunda karena terikat pd protein dan lemak
Dosis
Dosis anak atau dewasa tentu berbeda, bila hal ini terjadi akan menimbulkan efek yg tdk diinginkan misal : obat kloramfenikol akan sgt beracun bl diberikan pd anak-anak
Efek obat yg dipengaruhi oleh umur, berat badan dan jenis kelamin

Waktu pemberian
Waktu jg mempengaruhi efek terutama obat yg ditelan, obat yg diminum sewaktu lambung kosong akan lebih cepat diserap dr pd obat diminum setelah makan. Selain itu obat yg merangsang mukosa lambung dpt diberikan dlm dosis lebih besar bila diberikan setelah makan
Kecepatan ekskresi obat
Kecepatan ekskresi obat hrs diperhatikan terutama pd penderita penyakit ginjal karena obat akan lbh lama tinggal didalam tubuh mengakibatkan terjadinya keracunan
Cara pemberian obat dpt mempengaruhi efek
Hipersensitivitas atau alergi berupa : gatal, ruam kulit, serangan asma, muntah, diare dan syock anafilaktik
Kombinasi obat dpt memberi efek sinergistik atau antagonistik

Cara Penyimpanan Obat
Tiga faktor utama yg harus diperhatikan dlm penyimpanan obat :
Suhu
Suhu adalah satu faktor terpenting, karena kebanyakan obat itu bersifat termo – labil (rusak atau diubah oleh panas). Untuk itu penyimpanan obat:
Ditempat sejuk : <15 drjt celcius (misalnya:insulin tdk blh beku ) dlm lemari es
Suhu antara 2-10 drjt C (misalnya: vaksin typoid)
2. Letak
Obat itu bersifat toksik karena itu tempat penyimpanan hrs terang, letak setinggi mata, bukan tempat umum. Lemari obat harus terkunci.
Kedaluarsa
Kurangi kedaluarsa dgn cara rotasi stok artinya obat baru diletakkan dibelakang. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan warna (dari bening jd keruh) dan tablet menjadi basah

ASKEP KLIEN LANJUT USIA

Asuhan Keperawatan Klien Lanjut usia

ALASAN PERHATIAN PADA LANSIA
Pensiunan & masalah – masalanya
Kematian mendadak karena penyakit jantung & stroke
Meningkatnya jumlah lansia
Kewajiban pemerintah thd orang cacat & jompo
Pemerataan pelayanan kesehatan
Perkembangan ilmu  gerontologi & geriatri
Program PBB



6. Perkembangan ilmu  gerontologi & geriatri
7. Program PBB
8. Konfrensi di WINA tahun 1983
9. Kurangnya jumlah tempat tidur di RS
10. Mahalnya obat – obatan

KEGIATAN ASKEP DASAR BAGI LANSIA
Depkes (1993)  bertujuan memberi bantuan, bimbingan, pengawasan, perlindungan dan pertolongan kpd lansia scr individu/ kelompok, panti wreda maupun puskesmas
Askep dasar yang diberikan
Untuk lansia yg masih aktif
Dukungnan tenteng personal hygiene,kebersihan lingk (tempat tidur),gizi yg sesuai(porsi kecil tp bergizi,mudah dicerna)

Untuk lansia yang mengalami pasif
Pd dasarnya sama dg lansia aktif akan tetapi dg bantuan penuh oleh anggota klg atau petugas. Khusus bagi yg lumpuh perlu dicegah supaya tidak terjadi dekubitus




Resiko Dekubitus Pada Lansia
Berkurangnya jaringan lemak subkutan
Berkurangnya jaringan kolagen dan elastisitas
Kulit menjadi tipis dan rapuh
Ada kecenderungan lansia imobilisasi  ada potensi untuk terjadi dekubitus
Faktor Intrisik Terjadinya Dekubitus
Status gizi
Adanya penyakit – penyakit pembuluh darah
Adanya dihidrasi
Faktor ekstrinsik Terjadinya Dekubitus
Kurang bersihnya tempat tidur
Alat – alat tenun yg kusut dan kotor
Kurangnya perawatan / perhatian yg baik dr perawat
Derajat Dekubitus
Derajat I  Peradangan terbatas epidermis : kemerahan & lecet pd daerah yg tertekan
Derajat II lebih dalam sampai dermis bahkan subkutan: Ulkus dangkal dg batas tegas,ada perubahan pigmen
Derajat III Ulkus > dlm mencapai lemak subkutan : mulai terdapat jaringan infeksi & bau
Derajat IV Meluas sampai tembus otot :
dasar ulkus terlihat tulang

PENDEKATAN PERAWATAN LANSIA
Pendekatan Fisik
Utk lansia aktif  bimbingan mengenai personal hygiene, lingk & dlam hal makanan
Utk lansia pasif  Pd dasarnya sama dg lansia aktif akan tetapi dg bantuan penuh oleh anggota klg atau petugas. Khusus bagi yg lumpuh perlu dicegah supaya tidak terjadi dekubitus
Komponen lain : O2,intake,eliminasi,tidur, sikap tubuh waktu jln, duduk, rubah posisi tidur, dll
Pendekatan psikis
Perawat sbg penampung rahasia pribadi & sbg sahabat akrab.
“Trippel S” Sabar, Simpati dan Service  perawat hrs sll ciptakan suasana yg tenang, aman & membiarkan mrk melakukan kegiatan dlm batas kemampuan dan hobi yd dimilikinya.
Pendekatan Sosial
Menciptakan hub sosial antara lansia dg lansia lainnya maupun lansia dg perawat.
Kesempatan utk komunikasi & mengetahui dunia luar mll TV, surat kabar atau radio
Mencegah pertengkaran diantara sesama lansia dg mengadakan kontak dg mrk bhw mrk senasib sepenanggungan
Pendekatan Spiritual
Perawat memberikan ketenangan & kepuasan batin dlm hub dg Tuhan terutama dlm keadaan sakit atau mendekati kematian
Dlm hadapi kematian, lansia pnya reaksi yg berbeda2  perawat hrs cermat  hub rohaniawan utk mendengarkan keluhan2, karena wkt kematian datang agama & kepercayaan saat penting utk melapangkan hati lansia
TUJUAN ASKEP LANSIA
Lansia bisa mandiri dlm melaksanakan ADL
Pertahankan kesehatan serta kemampuan diri dg perwatan & pencegahan
Bantu pertahankan serta besarkan semangat hidup (Life Support)
Menolong & merawat lansia yg sakit
Merangsang para petugas kesht utk dpt mengenal & menegakkan dx yg tepat
Upaya semaksimal mgkin lansia yg sakit dpt mempertahankan kebebasan yg optimal (memelihara kemandirian scr max)
FOKUS ASKEP LANSIA
Peningkatan kewsehatan (Health promotion)
Pencegahan penyakit ( preventif)
Mengoptimalkan fungsi mental
Mengatasi gangguan kesehatan yang umum
PENGKAJIAN
Tujuan :
Menentukan kemampuan klien memelihara diri sendiri
Melengkapi dasar – dasar renc perewatan individu
Memberi waktu pada klien untuk menjawab
1. Fisik
Wawancara :
Pandangan lansia tentang kesehatannya
Kegiatan yg mampu dilakuakn lansia
Kebiasaan lansia merawat diri sendiri
Kekuatan fisik lansia : otot, sendi, penglihatan, pendengaran
Kebiasaan makan, minum, tidur, eliminasi, olahraga, dll.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan dg inspaeksi, palpasi, perkusi, auskultasi untuk ketahui perub sistem tubuh
Pendekatan yg digunakan : Sistem tubuh & head to toe
2. Psikologis
Bgm sikap terhadap proses menua
Apakah dirinya meras dibutuhkan atau tidak
Apakah optimis dlm memandang kehidupan
Bgm mengatasi stres yg dihadapi
Apakah harapan pd saat ini dan yg akan datang
Perlu dikaji : daya ingat, proses pikir, orientasi dan kemampuan dlm menyelesaikan masalah
3. Sosial Ekonomi
Darimana sumber keuangan lansia
Kesibukan lansia dalam waktu luang
Dengan siapa lansia tinggal
Kegiatan organisasi yg diikuti lansia
Pandangan lansia terhadap lingkungan
Siapa saj yg biasa mengunjungi
4. Spiritual
Keteraturan melaksanakan ibadah
Keteraturan aktif mengikuti kegiatan keagamaan
Bgm cara lansia menyelesaikan masalahnya, apakah dg do’a
Apakah lansia terlihat sbar dan tawakal

ASKEP OTITIS MEDIA

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DG OTITIS MEDIA
OLEH :
WINARNO,SPd, S Kep. Ns
Anatomi Telinga
Dibagi dlm 3 bag : telinga luar, t.tengah. Dan t.dalam

Telinga Luar
Tdd aurikula dn meatus akustikus eksternus (MAE) / liang telinga luar
MAE terletak antara aurikula & membrana timpani, seluruhnya dilapisi kulit dg rambut, kelj.sebasea,kelj.apokrin(seruminosa)
Dipisahkan dg t.tengah oleh membrana timpani
Telinga tengah
Sebuah rongga
Dinding lateralnya m.timpani, dinding medialnya permukaan luar t.dalam
Dibtk 3 buah tl.kecil  malleus, inkus, stapes
Rongga ini berhub.dg nasofaring mll tuba eustachii
Telinga dalam/labirin
Tdd sistem saluran yg tdk beraturan (labirin membranosa) yang dibatasi oleh tulang (labirin tulang)
Labirin tulang dibagi vestibulum, koklea, & kanalis semisirkularis
L.tulang berisi perilimfe
L. membranosa berisikan endolimfe
Otitis Media Akuta
Adalah infeksi akut telinga tengah
Penyebab utama adl masuknya bakteri patogen kedlm telinga tengah yg normalnya steril
Paling sering terjadi bila ada disfungsi tuba eustachius spt ISPA, sinusitis, hipertropi adenoid, reaksi alergi spt Rinitis alergika
Bakteri penyebab: Streptococcus Pnemoniae, Hemophylus influensa, Moraxella catarrhalis
Stadium Pd otitis media
Stadium Kataralis
Stadium Supurasi
Stadium Perforata
Stadium Resolusi

Stadium Kataralis
Keradangan yg mengenai mukosa hidung dan orofaring akibat adanya Ispa diteruskan pd tuba eustachii dan cavum timpani.
Akibatnya mukosa tuba eustachii mengalami oedem dan oedem ini akan menyempitkan lumen tuba eustachiii tsb. Dan akan mengakibatkan terganggungnya fungsi tuba untuk ventlasi dan drainase. Ini akan menyebabkan berkurangnya suplay O2 ke dlm cavum timpani, tekanan udara dlm kavum timpani berkurang(hipotensi)disebut “Vacum”
Lanjutan..
Keadaan Vacum mengakibatkan timbulnya perubahan pada mukosa cavum timpani yaitu :
Meningkatnya permeabilitas tabung2 darah dan limfe
Meningkatnya permeabilitas dinding2 sel
Terjadinya proliferasi sel2 kelenjar sub mukosa

Hal ini mengakibatkan terjadinya perembesan cairan kedalam cavum timpani (transudasi)Di sebut “ Hydrops ex vacuo”
Gejala klinis
Anamnesa
Timbulnya gangguan yang dirasakan pada telinga. Gangguan ini akibat adanya “Vacuum” dan Hydrops ex vacuo” berupa:
Telinga dirasakan penuh, seperti kemasukan air
Pendengaran terganggu
Nyeri pada telinga/otalgia
Tinitus/grebeg-grebeg


Pemeriksaan otoskopis : didapatkan gambaran membran timpani sbb:
Membran timpani menjadi hiperemis
Posisi membran timpani berubah menjadi retraksi(tertarik ke medial)dg tanda –tanda:
*Membran timpani tampak lebih cekung
*Processus brovis lebih menonjol
*Manubrium malei lebih horizontal danlebih pendek
*Reflek cahaya hilang atau berubah

Stadium supurasi(Bombans)
Perubahan 2 yg mengenai mukosa cavum timpaniakibat adanya Vacuum pd stadium kataralis, menyebabkan menurunnya pertahanan mukosa setempat (lokal).
Kuman2 yg datangnya dr hidung dan nasofaring besar kemungkinannya untuk mampu mengadakan penetrasi kedalam jar. Mukosa cavum timpani, pus dg cepat terbentuk, shg tekanan dlm cavum timpani berubah mjd lebih tinggi (hipertensi)
Gejala Klinis
Anamnesa: penderita dewasa biasanya datang dg keluhan otalgi hebat. Penderita bayi atau anak-anakmjd rewel dan gelisah, Penderita mengalami febris tinggi
Pemeriksaan Otoskopis :
*Meatus eksternus tidak didapatkan sekret
* Membran timpani sangat hiperemis, tampak cembung dan lateral, kadang tampak adanya pulsasi
Stadium Perforata
Tekanan yang tinggi pd cavum timpaniakibat kumpulan mukosa, akhirnya menimbulkan luban perforata pd mukosa cavum timpani.
Mukopus kemudian mengalir
Kearah meatus eksternus shg keadaan ini akan menurunkan tekanan didlm cavum timpani.
Gejala Klinis
Anamnesa : keluhan yg dirasakan pd stadium bombas kualitasnya sudah jauh berkurang, akibatnya tekanan didlm cavum timpani telah jauh berkurang, otalgia berkurang, adanya otore, pendengaran berkurang.
Pemeriksaan otoskopis:
* Meatus eksternus bersih dr sekret, membran timpani tdk hiperemis, ada lubang perforasipd pars tensa.
Web Of Caution
Penatalaksanaan
Pemberian antibiotika
Bila keluar cairan : otik antibiotika
Miringotomi(Timpanotomi): dibuat insisi mell membran timpani u/ mengurangi tekanan dan mengalirkan cairan serosa / purulen dr telinga tengah


Otitis media Serosa
Adalah keradangan non bakterial mukosa kavum tympani yang ditandai dengan terkumpulnya cairan serous / mukus
Etiologi :
Gangguan fungsi Tuba Eustachii akibat:
Radang kronis : hidung, nasopharing, pharing
Pembesaran adenoid, tonsi
Tumor Nasopharing / celah langit-langit

Lanjutan..
Cairan ini akibat tekanan negatif dlm telinga tengah yg disebabkan oleh obstruksi tuba eustachii
Biasa ditemukan pada anak-anak: krn pada anak/bayi tuba eustachii relatif lebih besar, lurus, pendek, dan posisi lebih horizontal, maka susu dpt masuk kedlm cavum timpani, bila bayi menyusu posisi berbaring, atau pd bayi yg sedang muntah

Lanjutan..
Pada orang dewasa efusi telinga tengah sering terlihat pada pasien setelah menjalani radioterapi dan barotrauma (penyelam) dan pda pasien d disfungsi tuba eustachii akibat infeksi atau alergi saluran nafas atas
Barotrauma terjadi bila terjadi perubahan tekanan mendadak dlm telinga tengah akibat perubahan tekan barometrik, seperti pd penyelam, saat pesawat udara turun
Manifestasi klinik
Kehilangan pendengaran
Rasa penuh dlm telinga
Suara letup atau berderik
Membran timpani tampak kusam pd pemeriksaan otoskopi, reflek cahaya tida ada
Terlihat gelembung udara dlm telnga tengah
Patofisiologi
Penatalaksanaan
Tidak perlu ditangani secara medis kecuali bila terjadi infeksi, simtomatis
Bila kehilangan pendengaran yg berhubungan dengan efusi telinga tengah maka bisa dilakukan miringotomi
Kortikosteroid dosis rendah dpt mengurangi tuba odema eustachii pada kasus barotrauma.
Antibiotika
Otitis media kronika
OMP kronika adl keradangan atau infeksi kronik yg mengenai mukosa dan struktur tulang didalam kavum tympani
Etiologi :
OMP akut atauOMP serosa
Kuman : Pseudomonas, Stafilokokus, Proteus, E. Coli
Faktor yg mempengaruhi tjd OMP Kronik
Rinogen : Infeksi saluran nafas bagian atas yg berulang yg menjalar melalui tuba eutachii
Eksogen : Kebersihan MAE yg buruk, kuman masuk mell lubang perforasi ke dlm kavum tympani. Mis. Mandi disungai, korek telinga
Endogen : Keadaan umum yg buruk. Mis malnutrisi, Kp, alergi
Gabaran patologi
Perubahan pd membran tympani
Perforasi sentral, perforsi pd pars tensa berbentuk sentrak bulat, atau total
Perforasi marginaltjd mada margo timpani
Perforasi atik ,perforasi pd pars flaksida


Lanjutan..
2. Perubahan pd mukosa
Hipertropi : mukosa kavum tympani hanya mengalami pembesaran
Degenerasi: Mukosa kavum tympani mengalami degenerasi dan berubah mjd jar granulasi atau polip
Metaplasi : mukosa tympanum mengalami perubahan
3. Perubahan pd tulang:struktur tulang dalam kavum tympani mengalami destruksi dan nekrosis
Patofisiologi
Lanjutan..
Pemeriksaan
Anamnesis
Keluhan utama dapat berupa :
Gangguan pendengaran/pekak.
Bila ada keluhan gangguan pendengaran, perlu ditanyakan :
Apakah keluhan tsb. pada satu telinga atau kedua telinga, timbul tiba-tiba atau bertambah secara bertahap dan sudah berapa lamanya.
Apakah ada riwayat trauma kepala, telinga tertampar, trauma akustik atau pemekaian obat ototoksik sebelumnya.
Apakah sebelumnya pernah menderita penyakit infeksi virus seperti parotitis, influensa berat dan meningitis.
Apakah gangguan pendengaran ini diderita sejak bayi , atau pada

tempat yang bising atau pada tenpat yang tenang.
Suara berdenging/berdengung (tinitus)
Keluhan telinga berbunyi dapat berupa suara berdengung atau berdenging yang dirasakan di kepala atau di telinga, pada satu sisi atau kedua telinga.
Apakah tinitus ini menyertai gangguan pendengaran.
Rasa pusing yang berputar (vertigo).
Dapat sebagai keluhan gangguan keseimbangan dan rasa ingin jatuh.
Apakah keluhan ini timbul pada posisi kepala tertentu dan berkurang bila pasien berbaring dan timbul lagi bila bangun dnegan gerakan cepat.
Apakah keluhan vertigo ini disertai mual, muntah, rasa penuh di telinga dan telinga berdenging yang mungkin kelainannya terdapat di labirin atau disertai keluhan neurologis seperti disentri, gangguan penglihatan yang mungkin letak kelainannya di sentral. Kadang-kadang keluhan vertigo akan timbul bila ada kekakuan pergerakan otot-oto leher. Penyakit DM, hipertensi, arteriosklerosis, penyakit jantung, anemia, kanker, sifilis, dapat menimbulkan keluhan vertigo dan tinitus.
Rasa nyeri di dalam telinga (Otalgia)
Apakah pada telinga kiri/kanan dan sudah berapa lama.
Nyeri alihan ke telinga dapat berasal dari rasa nyeri gigi, sendi mulut, tonsil, atau tulang servikal karena telinga di sarafi oleh saraf sensoris yang berasal dari organ-organ tersebut
Keluar cairan dari telinga (otore)
Apakah sekret keluar dari satu atau kedua telinga, disertai rasa sakit atau tidak dan sudah berapa lama.
Sekret yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga luar dan sekret yang banyak dan bersifat mukoid umumnya berasal dari teklinga tengah. Bila berbau busuk menandakan adanya kolesteatom. Bila bercampur darah harus dicurigai adanya infeksi akut yang berat atau tumor. Bila cairan yang keluar seperti air jernih harus waspada adanya cairan liquor serebrospinal.
Terapi OMSK
adalah pembedahan, yaitu mastoidektomi. Jadi, bila terdapat OMSK tipe maligna maka terapi yang tepat ialah dengan melakukan mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti.
Terapi konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan.
Lanjutan..
Bila terdapat abses subperiosteal retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi (sederhana atau radikal
Asuhan Keperawatan
Pengkajian Fokus
Riwayat kesehatan meliputi penggambaran lengkap msl telinga : infeksi, otalgia, otorea, kehilangan pendengaran
Penyebab masalah, penanganan sebelumnya, obat yg sdh diminum
Pemeriksaan fisik : eritema, odema, otorea, lesi dan bau cairan yg keluar

Lanjutan pengkajian
Telinga eksterna dilihat apakah ada cairan yang keluar dan bila ada harus diterangkan. Palpasi pada telinga luar menimbulkan nyeri pada otitis eksterna dan media
Pengkajian dari saluran luar dan gedang telinga (membran timpani). Gendang telinga sangat penting dalam pengkajian telinga, karena merupakan jendela untuk melihat proses penyakit pada telinga tengah
Diagnosa Keperawatan Pre Operasi
Gangguan berkomunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran.
Perubahan persepsi/sensoris berhubungan dnegan obstruksi, infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran.

Dx. 1
Tujuan : Gangguan komunikasi berkurang / hilang.
Kriteria hasil :
1.Klien akan memakai alat bantu dengar (jika sesuai).
2.Menerima pesan melalui metoda pilihan (misal : komunikasi tulisan, bahasa lambang, berbicara dengan jelas pada telinga yang baik.
Intervensi
Dapatkan apa metode komunikasi yang dinginkan dan catat pada rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien, seperti :Tulisan,Berbicara,Bahasa isyarat.
Kaji kemampuan untuk menerima pesan secara verbal.
1. Jika ia dapat mendegar pada satu telinga, berbicara dengan perlahan dan dengan jelas langsung ke telinga yang baik (hal ini lebih baik daripada berbicara dengan keras).
2. Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu.
3. Dekati klien dari sisi telinga yang baik.
Lanutan intervensi
Jika klien dapat membaca ucapan :
1. Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan jelas.
2. Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat membaca bibi anda.
Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien.
Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakan komunikasi tertulis.
Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya.
Lanjutan..
Jika ia hanya mampu bahasa isyarat, sediakan penerjemah. Alamatkan semua komunikasi pada klien, tidak kepada penerjemah. Jadi seolah-olah perawat sendiri yang langsung berbicara kepada klien dnegan mengabaikan keberadaan penerjemah.
Lanjutan..
Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman.
Bicara dengan jelas, menghadap individu.
Ulangi jika klien tidak memahami seluruh isi pembicaraan.
Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi.
Validasi pemahaman individu dengan mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dari ya dan tidak.
Dx. 2
Tujuan : Persepsi / sensoris baik.
Kriteria hasil.
Klien akan mengalami peningkatan persepsi/sensoris pendengaran samapi pada tingkat fungsional
Intervensi Keperawatan
Ajarkan klien untuk menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat.
Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh.
Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut.
Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik yang diresepkan (baik itu antibiotik sistemik maupun lokal).

Diagnosa Keperawatan Post Operasi
Ansietas b/d prosedur pembedahan
Nyeri akut b/d pembedahan mastoid
Resiko terhadap infeksi b/d mastoidektomi, trauma bedah thd jaringan
Perubahan persepsi sensori auditoris b/d pembedahan telinga

Intervensi Keperawatan
Meredakan ansietas:
Meredakan nyeri
Memperbaiki komunikasi
Mencegah cidera
Mencegah gangguan Persepsi sensori
Meredakan ansietas
Memberikan informasi lokasi insisi, hasil pembedahan yg diharapkan (pendengaran, keseimbangan, gerakan fasial)
Dorong pasien untuk mendiskusikan setiap ansietas dan keprihatinan mengenai pembedahan
Peredaan Nyeri
Pasien diajarkan cara penggunaan tehnik mengatasi nyeri
Pasang tampon kanalis auditorius untum menstabilkan membran tympani
Kolaborasi pemberian analgetik
Memperbaiki komunikasi
Kurangi kegaduhan lingkungan
Pandang pasien ketika berbicara
Berbicara dengan tegas dan jelas tanpa berteriak
Memberikan pencsahayaan yg memadai bila pasien membasa gerak bibir
Gunakan tanda non verbal saat berbicara(ekspresi wajah, menunjuk,sikap tubuh)
Mencegah cidera
Upayakan keamanan : ambulasi terbimbing
Pantau mengenai efek obat antiemetik dan anti vertigo

Mencegah gangguan persepsi sensori
Instruksikan pasien untuk segera melaporkan bila ada tanda kelemahan nervus fasialis seperti mulut monyong atau wajah kearah sisi yg dioperasi
Ganggua saraf korda tympani : gangguan pengecapan, mulut kering pd sisi yg diopersi selama beberapa bulan.
Evaluasi
Ansietas thd pembedahan berkurang
Mengungkapkan dan memperlihatkan pengurangan stres, ketegangan dan peka rangsang
Memberitahu pada perawat bahwa ia dpt menerima hasil pembedahan dan menyesuaikan kemungkinan gangguan pendengaran
2. Bebas dari rasa tak nyaman atau nyeri
Tdk memperlihatkan tanda mengernyitkan waja, mengeluh atau menangis
Meminum analgetik bila diperlukan
Lanjutan..
3. Pendengaran stabil atau membaik
4. Menunjukkan tidak adanya cidera atau trauma akibat vertigo
5. Tidak mengalami, atau telah menyesuaikan terhadap perubahan persepsi snsori

Sejarah Perkembangan Keperawatan Komunitas

Pembagian era sejarah perkembangan keperawatan komunitas
Empirical health era (< 1850 )<>
- Pendekatan kearah symptom/gejala yg dikeluhkan si sakit -- pendidikan, yankes, penelitian berorientasi pada gejala penyakit
2. Basic science era (1850-1900)
ditemukannya laboratorium -ilmu kesehatan berkembang ke arah penyebab terjadinya penyakit yg dpt dibuktikan secara laboratoris




3.Clinical science era ( 1900-1950)
Ilmu kesehatan - bagaimana mendiagnosis, mengobati dan memulihkan individu yg menderita sakit tertentu/ Patient oriented
4. Publc health science era (1950-2000)
Mulai dikembangkan kesehatan masyarakat (public health)- yankes tdk lagi mengutamakan upaya kuratif tetapi juga memikirkan upaya promotif dan rehabilitatif
5. Political health science era (skr-y.a.d.)
Konsep pendekatan thd semua penduduk.
Masalah yg dihadapi meliputi : environment, health services, behavior & herediter  LS



Catatan penting dalam perkembangan per.kes.masy.
Sairey Gamp
melakukan kunjungan rumah utk tujuan memberikan perawatan tetapi dg moral yg sangat rendah.
2. St. Vincent de Paul
usaha mengadakan kunjungan kepada orang2 dakit di rumahnya(home nursing)
3. William Rathbon
mendirikan District Nursing association
sebagai usaha per.kes.masy


4. Florence Nightingale
Menyadarkan dunia kedokteran - penting melakukan upaya pencegahan penyakit& perawat terdidik.
5. The order orst.John of Jerusalem
mendirikan badan kep. Militer krn perang salib. Memperbaiki mutu perawatan atas dasar militer

6. The Queens Institute in London
->melatih perawat yg berbakat dg peraturan yg keras dlm melaksanakan home nursing
7. Victorian Order of Nurses for Canada
->mengadakan pelatihan tambahan 6 bulan ttg per.kes. Masy
8. Lilian Wald
->Perawat kes.masy. pertama di USA yg mendirikan National organization for public health nursing

Perkembangan Kes. Masy di ind.
Periode penjajahan Belanda
-> Militair Genees Dienst(MGD) & Burgelyke Kundige Diest(BGD) - pengobatan pd orang belanda->orang perkebuunan->masy umum
2. Periode Penjajahan Jepang
-> Dinas kesehatan rakyat u/ usaha promotif & preventif tetapi usaha berjalan sendiri-sendiri
3. Setelah ind. Merdeka
1977Health for All by The year 2000
1978 - - konferensi ditetapkan prinsip primary health care KBS thn 2000
Perkembangan Keperawatan Kes. Komunitas di. Ind
Pasca perang kemerdekaan
- pelayanan preventif melengkapi upaya kuratif.
2. Tahun 1960—UUPokok kes no 9
tiap2 warga negara berhak mencapai derajat kesehatan yg setinggi2nya & wajib diikut sertakan dlm kegiatan yg diselenggarakan oleh pemerintah
3. Pelita I mulai yankes melalui puskesmas
4. Pelita II
Dikembangkannya PKMD timbul kesadaran & keterlibatan partisipasi masyarakat dlm bidang kesehatan
5. Pelita II SKN (1982) dgn penekanan :
- pendekatan kesisteman
- Pendekatan kemasyarakatan
- LP& LS
- Penekanan PSM
- Penekanan upy promotif & preventif
6. Pelita IV PKMD dg prioritas Penurunan AKB,AKI , kelahiran-posyandu tiap desa

7. Pelita V panca krida&sapta krida posyandu
8.Menjelang 2000(1988)
Pergeseran paradigma sehat “ind sehat 2010”
Misi :
Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan
Mendorong masy hidup sehat
Yankes Merata, bermutu, terjangkau
Meningkt kes masy&ling

Strategi :
-paradigma sehat
Profesionalisme
JPKM
Desentralisasi

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT DALAM KEP KOMUNITAS

<>

Peran adl seperangkat tingkah laku yg diharapkan o/ org lain thd sso sesuai kedudukannya dlm s/u sistem
Peran adl bentuk dr perilaku yg diharapkan dr sso pd situasi sosial tertentu (Kozier Barbara,1995:21)
Peran perawat menurut Konsorsium Ilmu Keseh th 1989 yaitu :

Peran sbg Pemberi Askep
Dilakukan Perawat dg mempertahankan kebut dasar manusia mll pemberian yankep dg menggunakan proses keperw
2. Peran sbg Advokat
Dilakukan dlm membantu klien, kelg dlm menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelyan khususnya dlm pengambilan persetujuan
Mempertahankan dan melindungi hak2 pasien meliputi hak atas pelyan yg sebaik-baiknya

3. Peran sbg edukator
Dilakukan dlm membantu klien meningkatkan pengetahuan keseh, gejala penyakit, shg terjadi perubahan perilaku dr klien
4. Peran sbg koordinator
Dilaksanakan dg mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi yankes dr tim keseh shg pemberi yankes dpt terarah serta sesuai kebutuhan

5. Peran sbg kolaborator
Dilakukan krn perawat bekerja mll tim keseh yg terdiri: dokter, fisioterapi, gizi dll, dg berupaya mengidentifikasi yankep yg diperlukan termasuk diskusi dlm penentuan bentuk pelayanan selanjutnya
6. Peran sbg konsultan
Sbg tempat konsultasi thd maslah/tind keperw yg tepat
Peran dilakukan atas permintaan klien

7. Peran sbg pembaharu
Dilakukan dg mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yg sistematis dan terarah sesuai metode pemberian askep

Peran perawat menurut lokakarya keperw th 1983
Perawat sbg pelaksana yankep
Ber- T.J dlm memberi yankep dr yg bersifat sederhana sampai yg paling kompleks
Merupk peran utama dr perawat u/ memberi askep yg profesional

2. Sebagai pengelola pelayanan dan institusi keperawatan
Ber-T.J dlm administrasi keperw baik di masy maupun di institusi dlm mengelola pelyanan keperw untuk indiv, kelg, kelomp dan masy.
3. Sebagai pendidik dlm keperawatan
Ber-T.J dlm pendidikan dan pengajaran ilmu keperw kpd klien, tenaga keperw, maupun keseh lainnya

4. Sebagai peneliti dan pengembang pelayanan keperawatan
Diharapkan sbg pembaharu dlm I. Keperw
Keg dilakukan mll riset dan penelitian

Peran perawat kesehatan masyarakat dlm mengorganisasi upaya2 keseh mll pusksmas baik di dlm maupun diluar gedung diantaranya:
Sebagai pelaksana
Sebagai pendidik
Sebagai koordinator

Sebagai inovator
Sebagai Organisator
Sebagai organisator yankes
Sebagai pengelola


Fungsi perawat dlm melaksanakan peran.
Fungsi Independen
Melaksanakan perannya scr mandiri
2. Fungsi dependent
Keg dilakauakn dan dilaksanakan atas instruksi dari tim keseh lainnya
3. Fungsi interdependent
Berupa kerjasma tim yg sifatnya saling ketergantungan
klik ini dulu

KONSEP DASAR KEPERAWATAN KOMUNITAS

<>
SANTOSO, S.Kep Ns
Definisi Keperawatan Komunitas
American Nurses Assosiation (1973), Suatu sintesa dari praktek keperawatan dan praktek kesehatan masyarakat yang diterapkan untuk meningkatkan dan pemeliharaan penduduk
Depkes RI (1986), suatu upaya yankep yg merupakan bag integral dari yankes yg dilaksanakan o/ perawat dg mengikutsertakan team kesehatan lainnya dan masy untuk memperoleh tingkat keseh lebih tinggi dari indiv,kelg dan masy

Rapat kerja Keperw keseh Masy (1990), suatu bidang keperw yg merup perpaduan antara keperw dan keseh masy dg dukungan peran serta masy secara aktif dan mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yg ditujukan kepada :indiv, kelg, kelomp dan masy sebagai kesatuan utuh melalui proses keperw untuk meningkatkan fungsi manusia secara optimal sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan
TUJUAN KEPERW KOMUNITAS
Untuk pencegahan dan dan peningkatan keseh masy melalui :
Pelayanan keperw secara langsung terhadap indiv, kelg dan kelomp dalam konteks komunitas
Perhatian langsung terhadap keseh seluruh masy dan mempertimbangkan bagaimana masalah /issu keseh masy mempengaruhi kelg, indv dan kelomp
SASARAN KEPERW KOMUNITAS
Seluruh masy termasuk indiv, kelg dan kelomp baik yg sehat maupun yg sakit khususnya mereka yg beresiko tinggi dalam masy.
1. Individu
Adalah anggota kelg sbg satu kesatuan utuh dari aspek biologi, psikologi, social dan spiritual

2. Keluarga
Merupakan unit terkecil dari masy yg terdiri dari KK, anggota kelg lainnya yg berkumpul dalam satu rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi
Kelg menjadi fokus yankes strategis karena :
Kelg sbg lembaga yg perlu dipertimbangkan
Kelg merup peran utama dlm pemeliharaan keseh seluruh anggota kelg
Masl keseh dlm kelg saling berkaitan
Kelg sebagai tempat pengambilan keputusan dlm perawatan keseh
Kelg merup perantara yg efektif dlm berbagai usaha-usaha keseh masy

3. Kelompok khusus
Sekumpulan indiv yg mempunyai kesamaan jenis kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yg terorganisasi yg sangat rawan thd maslh keseh anatara lain :
a. Kelomp khusus dg kebuth khusus sbg akibat tumbang seperti : bumil, BBL, anak balita, anak usia sekolah dan usila.
b. Kelopm khusus yg memerlukan pengawasan dan bimbingan serta askep, a.l : kasus peny TB Paru, aids, peny kelamin
STRATEGI INTERVENSI KEPERW KOMUNITAS
Strateginya yaitu :
Proses kelompok
Pendidikan kesehatan
Kerjasama
PRINSIP KEPERW KOMUNITAS
Prinsip dlm melaksanakan keperw komunitas harus mempertimbangkan :
Kemanfaatan : intervensi yg dilakukan harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas
Autonomi : dlm keperw komun diberi kebebasan untuk melakukan/memilih alternatif yg terbaik yg disediakan komunitas
Keadilan : mel;akukan upaya sesuai dg kemampuan atau kapasitas komunitas
FALSAFAH KEPERW KOMUNITAS
Keperw komunitas merupakan pelayanan yg memberikan perhatian thd pengaruh lingk baik biologis, psikologis, social, kultural dan spiritual thd keseh komunitas.
Keperw komunt mengacu kepada paradigma keperw secara umum, yg terdiri dari 4 komponen : Manusia, Kesehatan, Lingkungan da Keperawatan.


Manusia.
Komunitas sbg klien berarti sekumpulan individu yg berada di lokasi tertentu yg memiliki nilai-nilai, keyakinan dan minat yg relatif sama dan adanya interaksi satu sama lain untuk mencapai tujuan
2. Kesehatan
Sehat adalah suatu kondisi terbebasnya dari gangguan pemenuhan kebutuhan dasar klien atau komunitas. Sehat merupakan keseimbangan yg dinamis, sbg dampak dari keberhasilan mengatasi stressor

3. Lingkungan
Semua faktor internasl dan eksternal disekitar klien yg bersifat biologis, spikologis, social, kultural dan spiritual
4. Keperawatan
Tindakan yg bertujuan untuk menekan stressor atau meningkatkan kemampuan klien atau komunitas menghadapi stressor melalui upaya pencegahan primer, sekunder dan tersier
PERBEDAAN YANKEP DI RS DAN KOMUNITAS

TINGKAT PENCEGAHAN DLM KEPERW KOMINITAS
Intervensi kep komintas mencakup :
Pendidikan kesehatan
Mendemontrasikan ketrampilan dasar yg dapat dilakukan di komunitas
Intervensi kepw yg memerlukan keahlian perawat sperti : konseling remaja, balita usila,dll



Kerjasama lintas program dan lintas sektor dlm rangka mengatasi masalah
Rujukan
Leavell dan Clark membagi TK pencegahan dlm kepw komunitas dpt dilakukan sebelum terjadi peny (prepathogenesisi) dan pathogenesisi
I Prepathogenesis.
Tahap ini dilakukan mll kegiatan primeri prevention/pencegah primer.
Pencegahan primer dilakukan 2 kelompo yaitu


Health promotion/peningk keseh
Yaitu pening status lkeseh masy melalui :
Pendidikan kjesehatan
Penyul keseh masy (PKM) ; ttg mas gizi
Pengamatan tumbangh anak
Konsultasi perlawinan
Pendidikan sex



Keseh lingkungan dg menjaga ling agar aman dari bibit peny dan berkembangnya vektor
Pelayanan KB
Masalah keseh lain yg dpt dicegah : kecelakaan, keseh jiwa, , keh kerja, dll


2. General dan spesific protecsion (perlindungan umum dan khusus)
Merup usaha keseh u/ memberikan perlindungan khusus /umu kepada seseorang/masy a.l :
Imunisasi
Hygiene perseorangan
Perlindungan diri dari kecelakaan
Keseh kerja
Pengendalian sumber-sumber pencemaran


2. Pathogenesis phase
Dapat dilakukan dua kegiatan yaitu :
Pencegahan sekunder
Yitu pencegahan thd masy yg masih sedang sakit, dg 2 kelomp kegiatan:
1.1 Diagnosa dini dan pengobatan segera, a.l :
a. Penemuan kasus secara dini
b. Pemeriksaan umum lengkap


c. Pemeriksaan massal (mass screning)
d. Penangan kasus
e. Pengobatan adekuat
1.2 Pembatasan kecacatan
a. Penyempurnaan dan intensifikasi terapi lanjutan
b. Pencegahan komplikasi
c. Perbaikan fasilitas keh, dll

3. Pencegahan tersier.
Yaitu usha pencegahan thd masy setelah sembuh dari sakit serta mengalami kecacatan a.l :
a. Pendidikan keseh lanjutan
b. Perkampungan rehabilitasi sosial
c. Terapi kerja
d. Penyadaran masy.


Contoh :
1. Perawat mengajarkan pd kelg u/ melakukan perawatan pd anak dg kasus kolostomi
2. Membantu kelg pd anak dg kelumpuhan anggota gerak u/ lath scr teratur

ASUMSI DASAR DAM KEYAKINA PELYAN KOMUNITAS
Asumsi.
Menurut ANA , didasarkan pada :
a. Sistem pelyan bersifat komplek
b. Yankes primer, sekunder, tersier merup komponen sistem pelayanan
c. Kepw merupakan sus sistem pelyan keseh


d. Fokmus utama adalah : Kepw primer, shg kepkomunitas perlu dikembangkan di tatanan kese utama
2. Keyakinan
Keyakinan yg mendasari yaitu :
a. Pelyan sebaiknya tersedia, dpt dijangkau dan dpt diterima semua org
b. Penyusunan kebijakan seharusnya melibatkan penerima pelayanan,dlm hal ini komunitas


c. Perawat sbg pemberi pelyan dan klien sbg penerima pelyan perlu terjalin kerjasama yg baik
d. Ling dpt mempe komunitas , baik bersifat mendukung maupun menghambat, u/ itu perlu diantisipasi
e. Pencegah peny dilakukan dlm rangka upaya penng keseh
f. Keseh merup T. jawab bersama
klik ini dulu

Kamis, 22 April 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN RETINOPATI DIABETIKUM

PENGERTIAN

Kelainan2 retina pada penderita Diabetes mellitus

Stadium Non proliperatif

Terjadi mikroaneurisma disekitar makula

Bisa terjadi dot hemoragic, eksudasi serum dan lipoprotein sehingga makula menjadi oedem



Stadium Preproliperatif

Retina menjadi iskemik

Muncul bercak2 mirip kapas



Stadium Proliperatif

Perdarahan ke dalam badan kaca, terjadi diskorsi dan ablasi retina

KElainan2 yang terjadi

Obstruksi kapiler

Mikroaneurisma

Exudate

Shunt arteri – vena

Kelainan vena

Perdarahan retina

Neovaskulerisasi

Proliferasi glia

Penatalaksanaan

Penanganan terhadap DM ; pentalogi terapi DM

Fotokoagulasi xenon / laser.



script src="http://kumpulblogger.com/scahor.php?b=111410&onlytitle=1" type="text/javascript">

Rabu, 21 April 2010

Manusia Berdarah Langka Selamatkan Jutaan Nyawa Bayi



Kematian bayi karena penyakit rhesus darah sering terjadi karena sulitnya mencari donor darah langka tersebut. Salah satu yang memiliki darah langka itu adalah James Harrison. Pria tua itu telah menyelamatkan nyawa jutaan bayi karena darahnya yang istimewa.



James Harrison pria Australia berusia 74 tahun, telah menjadi donatur darah selama 56 tahun. Darahnya yang tergolong jenis langka telah menyelamatkam dua juta lebih nyawa bayi. Karena kebaikannya, dia dijuluki 'manusia bertangan emas' atau 'manusia dalam dua juta orang'.



Harrison telah memberikan darah tiap beberapa minggu sekali sejak ia berusia 18 tahun, dan kini total sudah 948 sumbangan darahnya.



Dia telah membantu banyak ibu melahirkan bayi yang sehat, termasuk juga menjadi donor untuk bayi anaknya sendiri, Tracey. Kini bayi Tracey bisa tumbuh sehat berkat darah kakeknya.



Harrison memiliki antibodi dalam plasmanya, yang menghentikan kematian bayi akibat penyakit Rhesus, yaitu salah satu penyebab penyakit hemolitik pada bayi baru lahir dan merupakan suatu bentuk anemia yang parah. Darahnya telah mengarah pada pengembangan vaksin yang disebut Anti-D.



"Saya tidak akan pernah berhenti. Tidak akan pernah," kata Harrison yang berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi pendonor sejak usianya 14 tahun, setelah ia menjalani pembedahan dada mayor yang membutuhkan 13 liter darah, seperti dilansir dari Dailymail.



Menurutnya, ia harus berada di rumah sakit selama tiga bulan saat menjalani pembedahan. Darah yang ia terima telah menyelamatkan hidupnya, dan sejak itu ia berjanji akan memberikan darahnya ketika ia berusia 18 tahun.



Tepat setelah ia mulai menyumbangkan darahnya, ia mengetahui bahwa darahnya adalah jenis yang langka dan terdapat antibodi penyelamat di dalamnya.



Pada waktu itu, ribuan bayi di Australia sekarat tiap tahunnya karena penyakit Rhesus. Bayi yang baru lahir lainnya menderita kerusakan otak permanen karena kondisi tersebut.



Penyakit ini menciptakan ketidakcocokan antara darah ibu dan bayinya yang belum lahir. Ini dikarenakan salah satu dari mereka memiliki Rh-positif (memiliki antigen D) dan lainnya Rh-negatif (tidak memiliki antigen D).



Setelah tipe darahnya ditemukan, Harrison menawarkan diri untuk menjalani serangkaian tes untuk membantu mengembangkan vaksin anti-D. Harrison memiliki Rh-negatif dan ia diberikan suntikan darah Rh-positif.



Harrison telah memberikan darahnya pada ratusan ribu perempuan. Ia juga memberikan darahnya pada bayi setelah mereka dilahirkan untuk menghentikan mengembangan penyakit. Diperkirakan, ia telah menyelamatkan 2,2 juta bayi sampai saat ini.



Darah Harrison dianggap begitu istimewa. Hidupnya telah diasuransikan untuk satu juta dolar Australia.



"Saya tidak takut. Saya senang membantu. Saya harus menandatangani setiap bentuk pendonoran dan pada dasarnya menandatangi kehidupan saya," kata Harrison.

ASUHAN KEPERAWATAN KELAINAN INFLAMASI PADA MATA

ASKEP KELAINAN INFLAMASI PADA MATA

PALPEBRA (kelopak mata) terdiri :
Bulu mata
Kelenjar kelopak mata
- Seis pada pangkal rambut (kelenjar minyak)
- Moll kelenjar keringat (Sudorifera)
- Meibom pada tarsus kelenjar minyak
M. Orbikularis Okuli melingkar pada superior dan inferior dibawah kulit kelopak
M. Levator palpebra


Intervensi :
Berikan kompres hangat
Bila bengkak bertambah obs sell. Orbita
Anjurkan u/ tdk memencet dengan tangan
Kolaborasi pemeilihan obat:topikal(gentamisin), Sistemik ( ampisilin).
Bila sering kambuh cek GD
Abses tdk hilang persiapkan insisi


Intervensi Kep pada hordeolum & Kalasion :
Pada insisi
Jelaskan operasi dgn lokal anestesi
Buka bebat mata setelah 6 – 8 jam kompres air hangat
Bila nyeri beri analgetika
Ajarkan cara membuka menutup tutup mata dan pemberian zalf mata
Jelaskan mungkin mata tampak memar untuk beberapa hari dan dapapt memakai kaca mata sampai memar hilang

KONJUNGTIVITIS
Inflamasi konjungtiva oleh virus, bacteri, klamidia, alergi, sengatan matahari.
Keluhan dan Tanda :
Kemerahan pada konjungtiva
Oedema
Gatal
Keluar sekret

Intervensi :
Bersihkan kelopak dan bola mata
Beri kompres hangat
Antibiotika tetes, steroid (u/ alergi), kontraindikasi pada herpes simpleks.
Mata tidak boleh dibebat

KONJUNGTIVITIS GONOROIKA
Mrpk radang konjungtiva akut dan hebat diserta sekret purulen
Penyebab : neiseria gonoroika diplokokus sifat aerobic gram negatif
Neonatus infeksi saat ada di jln lahir
Dewasa o/k penyakit kelamin
Gambaran klinis :
Inkubasi 1 – 5 hari
Tiga stadium mulai, infiltratif – supuratif – penyembuhan
Diagnosa pasti dgn sediaan hapusan sekret

Penatalaksanaan :
Sekret dibersihkan dgn kapas basah tiap ¼ jam
Salp Penisillin G 10.000 – 20.000 u/ml tiap menit – 30 menit
Disusul salp Penisillin tiap jam selama 30 hari
Pengobatan dihentikan bila pemeriksaan hapusan 3X berturut2 hasil negatif.

KORNEA
Sifat jernih, transparan avaskuler dgn diameter + 12 mm.
Tersususn 5 lapis :
Epithelium → dpt beregenerasi bila erosi, syaraf trigeminus
Membran Bowman’s → non regenerasi, barrier protektif
Stroma → jar. Colagen, 90% tebal kornea.
Membran decemens
Endothelium → bergenerasi

KERATITIS
→ Inflamasi pada kornea o/k virus, bakteri, herpes zoster, alergi.
→ Keluhan nyeri pd mata sangat hebat, fotopobia, mata berair, disertai visus menurun.
Pathofisiologis :
Tjd krn ketidakseimbangan antara kekuatan penyerangan MO patogen dan mekanisme pertahanan kornea itu sendiri.
Mekanisme pertahanan, ada 2 :
Secara anatomi – fisiologi
Imunologi – Antibodi

Mekanisme Pertahanan Secara anatomi – fisiologi :
Glikokalik → mrpk bag dr sel membran.
Lap. mukus dr sel gobelt konjungtiva
Epitel korne yg intak
Lisosim dlm air mata

Mekanisme Pertahanan imunologi – antibodi
Bila ada kuman masuk, akan tertahan di epitel kornea atau stroma kornea.
Kuman yang dapat lolos dari epitel kormea :
Neiseria gonorrhoeae
Listeria
Corine bacterium dipteria

KERATITIS DAPAT TJD ULKUS KORNEA :
Kornea rusak (epitelium) memudahkan masuknya bakteri, virus atau jamur
Gejala yg nampak : peningkatan air mata, fotopobia, iritasi okuler dan nyeri.
Pencegahan :
Pakai kaca mata di tempat berdebu atau para pekerja las.
Penggunaan obat steroid dibatasi.
Keratitis dpt dikurangi dgn pembersihan mata bag penderita yg beresiko.

KOLABORASI MANAJEMEN
PENGKAJIAN :
Data Demografi
Masalah kesh scr umum :
Gx yng nampak : nyeri dan penurunan visus
7 gx yg digunakan sbg petunjuk tjdnya ulkus :
Lokasi nyeri :
Nyeri pd mata → ada abrasi kornea, ulkus
Nyeri pd alis mata → herpes zoster opthalmikum.
2. Kuantitas : dpt diukur dgn skala 1 – 10.
3. Kualitas : herpes zoster nyeri seperti terbakar, Ulkus kornea terasa seperti benda asing.
4. Waktu : tjd penurunan visus bbrp jam setelah kejadian disebabkan mungkin oleh pseudomonas. Bila penurunan visus kejadiannya lebih lama o/k keratokonus.
5. Latar Belakang : Biasa ditemukan di daerah tropis, atau sanitasi kurang/buruk.
6. Faktor yg bisa mengurangi perlu pertimbangan penggunaan kontak lensa.
7. Manifestasi gabungan pada ulkus kornea dijumpai mukopurulen drainase.

Riwayat Penglihatan : pernahy menjalani pembedahan, perlukaan, pemberian obat2 mat jangka lama.
Riwayat Pengobatan : obay yg dipakai.
Manifestasi Klinik :
- Mengeluh : bila melihat terasa ada kotoran yg menutupi, berkabut seperti melihat kristal. Perlu dilakukan pemeriksaan visus.
- Fotofobia
- Sekresi dr mata
- Hipopion

DIAGNOSA KEPERAWATAN :
DK Umum :
Perub sensori/ persepsi visual b/d b’kurangnya transparansi kornea.
Resiko tjd perlukaan b/d aktual/ resiko kehilangan penglihatan
Nyeri b/d iritasi tepi saraf kornea.

Dx Tambahan :
Ansietas b/d potensial/aktual kelemahan pandangan
Antisipasi thd kesedihan b/d aktual/resiko kehilangan penglihatan.
G3 body image b/d perub struktur/bentuk kornea.
Isolasi sos b/d ketakutan pd keadaan dlm lingkungan keluarga.
Ketidakberdayaan b/d trauma akan kehilangan indra penglihatan pd gaya hidup.
G3 pola tidur b/d ketdkmampuan utk b’istirahat krn jadwal berkala u/ p’berian tetes mata.

RENCANA DAN TINDAKAN KEPERAWATAN :
DK : Perub sensori /persepsi visual b/d berkurangnya transparansi kornea.
Tujuan :
Kx mampu menyesuaikan diri dgn keadaan penglihatannya
M’demonstrasikan scr maksimal kemampuan dlm m’gunakan penglihatan.
Intervensi :
Penanganan non bedah
Perawatan dititikberatkan pd pengurangan gx yg nampak atau gx yg ada

What is Conjunctivitis

1. Red Eye or Acute Conjunctivitis?
Conjunctiva is a layer of transparent membrane covering the eyes. When it is inflamed or infected, it is known as conjunctivitis. Conjunctivitis is one of the most common eye diseases and it is usually infective in nature, either by virus or bacteria. Other causes include allergy, contact lens, air pollutant, or chemical agents.

2. What is the incubation period?
Usually one to twelve days, depending on different inciting agents. That means when one is exposed to the inciting agent, he/she may not develop the disease until as long as twelve days later.

3. How does one get conjunctivitis?
Conjunctivitis usually spreads through direct or indirect contact. The infective agent is present in the tears and discharge, which may then contaminate the sufferers' belongings like handkerchief, basin, towel, eyedrops or toys. Other people may get the disease if he/she comes into contact with these objects

4. What are the signs and symptoms?
Early: itchiness, scratching or foreign body sensation, congested and red eyes, discharge from eyes. Late: tearing, chemosis, severe red eyes and hemorrhage, lid swelling Both eyes can be affected at the same time or one eye may follow the other.
The disease process varies with different inciting agents. It may last from a few days to a few weeks. By the time there is no more redness and discharge, the disease ends. Conjunctivitis is usually a self-limiting disease without significant long-term consequences.

5. Nursing care and self care
Seek proper medical advice, apply medication as instructed and take adequate rest - Avoid strong light which may be uncomfortable to the eyes - To prevent the disease from spreading - Avoid sharing or towels, basin with family members. - To sterilize the towel, basin, bed cover, pillow cover and other contaminated self-belongings. Method: Put these things into - boiling water for 15-20 minutes to ensure complete eradication of the infective agents. - Used tissue paper should be properly disposed of into litterbin or flushed down the toilet. - Keep the hands clean, not to rub the eyes with fingers, and not to share eyedrops or cosmetics with others. - Always wash the hands before using eyedrops. - Patients should avoid using some public facilities, like swimming pool, before they have recovered

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN KELAINAN REFRAKSI

Kelainan Refraksi
Refraksi adalah pembiasan sinar atau cahaya
Kemampuan mata untuk memfokuskan bayangan pada retina tergantung pada panjangsumbu mata dari depan kebelakang,kekuatan refraktif pada lensa
Masalah sumbu mata atau refraksi dapat mengakibatkan kesalahan refraksi
Kesalahan refraksi meliputi : Miopia,Hipermetropia,Presbiopia dan Astigmatisme

Miopia
Miopia ( penglihatan dekat atau rabun jauh ),kemampuan refraksi mata terlalu kuat
Sinar sejajar yang masuk kemata dlm keadan istirahat (tanpa akomodasi)akan dibiaskan membantu bayangan jatuh didepan retina atau makula lutea
Dibagi menjadi :
Miopia aksial (sumbu mata lebih panjang dari normal)
Miopia refraktif atau pembiasan karena indeks bias optik meningkat (sistem optik terlalu kuat)

ASSESMENT
SUBYEKTIF :
Mengeluh kabur melihat jauh
Mata cepat lelah
Pusing
Berair (astenovergen)
Seperti melihat benang at dilpg pandang pd miopia tinggi
oBYEKTIF
Bilik mata depan dalam
Bola mata lebih menonjol kedepan
Strabismus
Pupil melebar
Pada miopia tinggi fundus degenerasi retina
Pemeriksaan
Koreksi dengan lensa SPH (-)

Ditentukan visus masing-masing mata

Bila visus tidak normal bisa dikoreksi

Koreksi KM dengan terkecil/ terlemah yang menghasilkan visus yang bai
Hipermetropia
Hipermetropia adalah penglihatan jauh / rabun dekat

Kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk kemata dalam keadaan istirahat akan dibias membentuk bayangan dibelakang retina

Penyebab
Sumbu bola mata pendek

Refraktif (daya pembiasan mata),terlalu lemah
Example : Lensa mata tipis

ASSESMENT
Subyektif :
Kabur utk melihat dekat
Sakit kepala
Mata cepat lelah
Sering berair
Mengantuk bila membaca( astenopia akomodatif)

Obyektif :
Bilik mata depan dangkal
Pupil kecil
Mata kelihatan merah
Pembagiannya :
Hipermetropia totalis :bl sebelum dikoreksi otot akomodasi dilumpuhkan dengan obat tetes mata ( sikloplegi mk hsl refraksikan akan membutuhkan lensa SPH (+) yg terkuat menghasilkan visus terbaik
Hipermetropia manifest :refraksi dgn lensa SPH (+) yg terkuat menghasilkan visus terbaik
Hipermetropia latent : dimana akomodasi masih aktif sehingga masih dikoreksi selisih dr HIP total & Hip Manifest
Pemeriksaan trial and error
Tentukan visus masing-masing mata
Koreksi dengan lensa SPH (+)
Anak kel pusing koreksi dgn sikloplegi
Koreksi kacamata dgn speris (+) terkuatyg bs mencapai penglihatan terbaik

Presbiopia
Adalah makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dgn makin meningkatnya umur
Pd akomodasi normal tjd daya refraksi mata krn adanya keseimbangan antara elastisitas lensa dan kapsul shg lensa menjadi lbh cembung
Fokus dibelakang retina
Presbiopia terjadi pada usia 30 dan 40 tahun keatas


Assesment
Mengeluh kesulitan membaca dekat huruf kecil
Mata mudah lelah
Berair
Sering merasa pedas
Menjauhkan obyek yg dibacanya
Penatalaksanaan
Diberi lensa korektif SPH (+) sesuai pedoman umur

40 th koreksi dgn SPH(+) 1.00

50 th koreksi dgn SPH(+) 2.00

60 th koreksi dgn SPH(+) 3.00



Astigmatisme
Astigmatisme terjadi jk kurvatura kornea tdk rata

Karena cahaya tidak direfraksikan sama pada satu arah,titik fokus retina tidak dicapai (dibiaskanlebih dari satu titik)
Intervensi pd kelainan refraksi
Non surgikal :
Kacamata yg lazim mengoreksi kesalahan refraksi
Keuntungan kacamata mudah dipakai lama,terjangkau,biaya rendah
Kerugian :perubahan penampilan fisik,frame,membebani hidung,pandangan perifer berkurang
Contact lensa
Contact lensa
mengoreksi kesalahan koreksi dgn merubah ukuran kornea,meningkatkan kemampuan refraksi dan dengan menempatkan daya refraksi dan ukuran tertentu yg diperlukan didepan mata sehingga cahaya difokuskan diretina
Komplikasi
Odema kornea,tjadi jika dipakai lama
Abrasi kornea
Kontak lensa lunak
Ukuran lbh besar ttp tetapi lebih toleransi pada lensa keras
Bentuk tebal dan dapat dipakai lebih lama,sifat hidrofilik lensa shg korne tetap basah dan cukup oksigen
Masalah kurang dapatnya perawatan lensa lunak
Intervensi surgical
Radial keratotomi
Prosedur operasi rawat jalan
Komplikasu kekeringan lensa
Scarring kornea
Under coreksion/koreksi error
Photo refraktif keratectomi (PRK)
Lasik ( laser in – situkeratomileusis)

Prosedur rawat jalan
Lokal anestesi 2 mata bisa dilakukan sekaligus
Penglihatan bisa kembali 1 jam post op sembuh komplit 4 minggu
Over / under koreksi
Komplikasi scarring kornea
Kekeringan kornea
LENSA KONTAK
Lensa kontak merupakan bentuk lain dari penatalaksanaan kelainan refraksi, terbuat dari plastik berbentuk bulat yang ditempatkan di depan kornea dan ditahan oleh kelopak mata.
Lensa kontak disesuaikan dengan mengukur bentuk kornea dan kekuatan refraksi yang dibutuhkan. Alat ini dapat dipakai sendiri oleh klien atau perawat.
Perawatan lensa kontak sangat diperlukan untuk mempertahankan oksigenasi kornea.
Setiap kali berkedip, air mata mengalir di bawah lensa untuk melembabkan kornea dan membersihakan kotoran.

RENPRA
1. DK : Penurunan persepsi sensori b.d
Tujuan : Klien dapat mengoptimalkan penglihatan dengan alat bantu yang sesuai
Intervensi :
- Berikan penjelasan penyebab terjadinya perubahan persepsi sensori
- Jelaskan prognosis untuk masing-masing kelainan refraksi
- Jelaskan prosedur koreksi dan perlunya mengikuti instruksi yang diberikan



- Beri masukan keuntungan dan kerugian dalam memilih alat bantu yang dikehendaki
- Jelaskan pentingnya menggunakan alat bantu yang sudah ditentukan selama melakukan aktifitas sehari hari
- Jelaskan cara perawatan alat bantu yang digunakan


2. DK : Gangguan citra diri b.d penggunaan alat bantu penglihatan
Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan penambahan alat bantu penglihatan
Intervensi :
- Fasilitasi klien untuk mengungkapkan perasaannya
- Libatkan keluarga dalam diskusi dan membantu penerimaan perubahan ketajaman penglihatan serta penggunaan alat bantu
- Berikan dorongan dan penghargaan terhadap bentuk penerimaan yang diekspresikan klien

ASUHAN KEPERAWATAN PADA GLAUKOMA

DINAMIKA AQUOS HUMOR
Pembentukan pada badan siliar bilik mata belakang pupil sudut bilik mata depan merupakan alur pengaliran.
Trabekuler meshwork kanal schleem saluran intra sklera merupakan pembuangan.

Pemeriksaan pada glaukoma
Periksa tekanan intra okuler
Digital
Dengan menekan kelopak mata dgn jari mtulunjuk
Tonometri
Periksa sudut bilik mata
Senter iris dr samping,bl tdk ada byngan sudutnya dalam,bl ada byangan iris berarti sudut sempit.

ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Pemeriksaaan fisik :
Pd glaukoma COA dangkal, aguos humor keruh,dan pembuluh darah menjalar keluar darai iris
Terjadi penurunan lapang pandang
Melalui inspeksi,adanya inflamasi mataskler kmerahan,kornea keruh,dilatasi pupil
Pd pemeriksaan tonometri didpt nilai 22-23 mmHg sedangkan akut lbh dr 30 mmHg.
TIO meningkat mk sudut COA akan menutup

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Perubahan persepsi sensori visual b/d kerusakan serabut saraf oleh karena peningkatan tekanan bola mata
Nyeri b/d peningkatan tekanan intra okuler
Kurang pengetahuan b/d kurang informasi
Cemas b/d penurunan tajam penglihatan ,penurunan lapang pandang.
Isolasi sosial b/d takut cidera


Intervensi Glaukoma
Tujuan
Mengidentifikasi perubahan visual
Mengidentifikasi adanya peningkatanTIO

Intervensi keperawatan :
Lakukan tindakan tuk mencegah peningkatnya TIO
Diet rendah natrium
Pembatasan kafein
Mencegah konstipasi
Mencegah manuver valsalva
Mengurangi stres
Pantau klien untuk melihat denga jelas
Kolaborasi dalam pemberian pengobatan
Bahan hiperosmotik, manitol 20 % 1-2 gr/kg bb 1-2 tetes
Selama terapi :
Kolaborasi dalam pemberian pengobatan
Miotik
Untuk kontriksi pupil dan kotraksi otot silier
Example : pilokarpin 2-4 %, 1-2 tts setiap 5 menit,1`-2 tts setiap 30 menit,selama 2 jam kemudian 1 – 2 tts tiap jam
Cara kerja; miosis,sudut terbuka,cairan mengalir TIO turun.
Agens penghambat pembentukan akueos humor
Example : timolol , 0,25 %,

Asuhan Keperawatan Klien dengan DHF

DIAGNOSA KEPERAWATAN :
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
Resiko gangguan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun
PERENCANAAN
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Tujuan : Suhu tubuh kembali normal
Kriteria : TTV khususnya suhu dalam batas normal ( 365 – 375 )
Membran mukosa basah.

Rencana Intervensi ;
Observasi TTV setiap 1 jam
Rasional : Menentukan intervensi lanjutan bila terjadi perubahan
Berikan kompres air biasa / kran
Rasional : Kompres akan memberikan pengeluaran panas secara induksi.
Anjurkan klien untuk banyak minum 1500 – 2000 ml
Rasional : Mengganti cairan tubuh yang keluar karena panas dan memacu pengeluaran urine guna pembuangan panas lewt urine.

Anjurkan untuk memakai pakaian yang tipis dan menyengat keringat.
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan memperbesar penguapan panas
Observasi intake dan out put
Rasional : Deteksi terjadinya kekurangan volume cairan tubuh.
Kolaborasi untuk pemberian antipiretik
Rasional : Antipireik berguna bagi penurunan panas.

Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik
Kriteria : TD 100/70 mmHg, N: 80-120x/mnt
Pulsasi kuat
Akral hangat

Rencana Intervensi ;
Observasi Vital sign setiap jam atau lebih.
Rasional : Mengetahui kondisi dan mengidentifikasi fluktuasi cairan intra vaskuler.
Observasi capillary refill
Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer.
Observasi intake dan output, catat jumlah, warna / konsentrasi urine.
Rasional : Penurunan haluaran urine / urine yang pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.

Anjurkan anak untuk banyak minum 1500-2000 mL
Rasional : Untuk pemenuhan kebutuhan ciran tubuh
Kolaborasi pemberian cairan intra vena atau plasma atau darah.
Rasional : Meningkatkan jumlah cairan tubuh untuk mencegah terjadinya hipovolemik syok.

Resiko gangguan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun.
Tujuan : Nutrisi terpenuhi
Kriteria : Nafsu makan meningkat
Porsi makan dihabiskan

Rencana Intervensi :
Kaji keluhan mual, muntah atau penurunan nafsu makan
Rasional : Menentukan intervensi selanjutnya.
Berikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna
Rasional : Mengurangi kelelahan klien dan mencegah perdarahan gastrointestinal.
Berikan makanan porsi kecil tapi sering.
Rasional : Menghindari mual dan muntah

Hindari makanan yang merangsang : pedas, asam.
Rasional : Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah.
Beri makanan kesukaan klien
Rasional : Memungkinkan pemasukan yang lebih banyak
Kolaborasi pemberian cairan parenteral
Rasional : Nutrisi parenteral sangat diperlukan jika intake peroral sangat kurang.