Sabtu, 09 Oktober 2010

Proses Keperawatan

Proses keperawatan secara umum diartikan sebagai pendekatan dalam pemecahan masalah yang sistematis untuk memberikan asuhan keperawatan terhadap setiap orang.

Adapun karakteristik dari proses keperawatan antara lain:

* Merupakan kerangka berpikirdalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien, keluarga, dan komunitas.
* Bersifat teratur dan sistematis.
* Bersifat saling bergantung satu dengan yang lain
* Memberikan asuhan keperawatan secara individual
* klien menjadi pusat dan menghargai kekuatan klien
* Dapat digunakan dalam keadaan apapun

Dalam proses keperawatan terdapat empat tahapan yaitu:

•1. Pengkajian

Pada dasarnya tujuan pengkajian adalah mengumpulkan data objektif dan subjektif dari klien. Adapun data yang terkumpul mencakup klien, keluarga, masyarakat, lingkungan, atau kebudayaan. (Mc Farland & mc Farlane, 1997)

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan selama pengkajian antara lain:

1. Memahami secara keseluruhan situasi yang sedang dihadapi oleh klien dengan cara memperhatikan kondisi fisik, psikologi, emosi, sosialkultural, dan spiritual yagn bisa mempengaruhi status kesehatannya.
2. Mengumpulkan semua informasi yang bersangkutan dengan masa lalu, saat ini bahkan bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi klien guna membuat suatu database yang lengkap. Data yang terkumpul berasal dari perawat-klien selama berinteraksi dan sumber yang lain. (Gordon, 1987;1994)
3. Memahami bahwa klien adalah sumber informasi primer.
4. Sumber informasi sekunder meliputi anggota keluarga, orang yang berperan penting dan catatan kesehatan klien.

Metode pengumpulan data meliputi :

* Melakukan interview/wawancara.
* Riwayat kesehatan/keperawatan
* Pemeriksaan fisik
* Mengumpulkan data penunjang hasil laboratorium dan diagnostik lain serta catatan kesehatan (rekam medik).

•2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan objektif untuk membuat diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.

The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 1992) mendefinisikan diagnosa keperawatan semacam keputusan klinik yang mencakup klien, keluarga, dan respon komunitas terhadap sesuatu yan berpotensi sebagai masalah kesehatan dalam proses kehidupan.

* Dalam membuat diagnosa keperawatan dibutuhkan ketrampilan klinik yang baik, mencakup proses diagnosa keperawatan dan perumusan dalam pembuatan pernyataan keperawatan.
* Proses diagnosa keperawatan dibagi menjadi kelompok interpretasi dan menjamin keakuratan diagnosa dari proses keperawatan itu sendiri. Perumusan pernyataan diagnosa keperawatan memiliki beberapa syarat yaitu mempunyai pengetahuan yang dapat membedakan antara sesuatu yang aktual, risiko, dan potensial dalam diagnosa keperawatan.

•3. Intervensi

Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat. Intervensi dilakukan untuk membantu pasien dalam mencapai hasil yang diharapkan.

Intervensi keperawatan harus spesifik dan dinyatakan dengan jelas. Pengkualifikasian seperti bagaimana, kapan, di mana, frekuensi, dan besarnya memberikan isi dari aktivitas yang direncanakan. Intervensi keperawatan dapat dibagi menjadi dua yaitu mandiri yaitu dilakukan oleh perawat dan kolaboratif yaitu yang dilakukan oleh pemberi perawatan lainnya.

•4. Evaluasi

Evaluasi mengacu kepada penilaian, tahapan, dan perbaikan. Pada tahap ini perawat menemukan penyebab mengapa suatu proses keperawatan dapat berhasil atau gagal. (Alfaro-LeFevre, 1994)

Perawat menemukan reaksi klien terhadap intervensi keperawatan yang telah diberikan dan menetapkan apa yang menjadi sasaran dari rencana keperawatan dapat diterima.Perencanaan merupakan dasar yang mendukung suatu evaluasi.

Menetapkan kembali informasi baru yang diberikan kepada klien untuk mengganti atau menghapus diagnosa keperawatan, tujuan, atau intervensi keperawatan.

Menentukan target dari suatu hasil yang ingin dicapai adalah keputusan bersama antara perawat dank lien (Yura & Walsh, 1988)

Evaluasi berfokus pada individu klien dan kelompok dari klien itu sendiri. Proses evaluasi memerlukan beberapa keterampilan dalam menetapkan rencana asuhan keperawatan., termasuk pengetahuan mengenai standar asuhan keperawatan, respon klien yang normal terhadap tindakan keperawatan, dan pengetahuan konsep teladan dari keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Chase, S. (1994). Clinical Judgement by critical care nurse: An ethnographic study. In R. M. Carroll-Johnson 7 Pacquette (Eds), Classification of nursing diagnosis: Proceedingof the ninth conference, North American Nursing Diagnosis Association (pp. 367-368). Philadelphia: J.B. Lippincott.

Lunney; M. (1992). Divergent productie thinking factors and accuracy of nursing diagnoses. Research in Nursing and Health, 15(4), 303-312.

Kamis, 07 Oktober 2010

ASKEP KANKER

  1. pengertian

Kanker adalah penyakit yang menyerang proses dasar kehidupan sel, mengubah genom sel (komplemen genetik total sel) dan menyebabkan penyebaran liar dan pertumbuhan sel-sel.



Kanker adalah istilah umum untuk petumbuhan sel tidak normal(yaitu, tumbuh sangat cepat, tidak terkontrol, dan tidak berirama) yang dapat menyusup ke jaringan tubuh normal sehingga mempengaruhi fungsi tubuh. Kanker bukan merupakan penyakit menular. (mengenal seluk beluk kaker.2008)

Kanker merupakan penyakit atau kelainanpada tubuh sebagai akibat dari sel – sel tubuh yang tumbuh dan berkembang abnormal, di luar batas dan sangat liar.(kanker,pengenalan, pencegahan dan pengobatannya, 2007)

  1. Jenis – jenis kanker

Beberapa jenis kanker yang telah dikenal sampai saat ini :

1) Karsinoma

Merupakan jenis kanker yang berasal dari sel yang melapisi permukaan tubuh atau permukaan saluran tubuh, misalnya jaringan epitel seperti sel kulit, testis, ovarium, kelenjar mukus, sel melanin, payudara, leher rahim, kolon, rektum, lambung, pankreas, dan esofagus.

2) Limfoma

Merupakan kanker yang berasal dari jaringan yang membentuk darah, misalnya jaringan limfe, lakteal, limfa, berbagai kelenjar limfe, timus dan sumsum tulang. Limfoma spesifik antara lain adalah penyakit hodgkin (kanker kelenjar limfe dan limfa)

3) Leukimia

Leukimia tidak membentuk massa tumor, tetapi memnuhi pembuluh darah dan mengganggu fungsi sel darah normal.

4) Sarkoma

Merupakan kanker jaringan penunjang yang berada di bawah permukaan tubuh seperti jaringan ikat, termasuk sel – sel yang ditemukan diotot dan tulang.

5) Glioma

Merupakan kanker susunan saraf, misalnya sel – sel glia (jaringan penunjang) disusunan saraf pusat

6) Karsinoma insitu

Ini adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sel epitel abnormal yang masih terbatas di daerah tertentu sehingga masih dianggap lesi prainvasif (kalian/luka yang belum menyebur). (kanker,pengenalan, pencegahan dan pengobatannya, 2007)

  1. Lokasi kanker

1) Kanker kolorektal

Tanda dan gejala kanker kolon pada lansia dapat meliputi perdarahan rektal, darah merah atau hitam dalam feces, perubahan kebiasaan BAB (konstipasi atau diare, feses yang mengecil). Tumor dalam kolon kanan dapat menjadi besar dan dapat menyebabkan nyeri tumpul yang samar – samar dan rasa tidak nyaman pada abdomen. Tumor dalam kolon kiri cenderung lebih kecil dan lebih berinfiltrasi, dengan perdarahan dan kemungkinan obstruksi usus.

2) Kanker paru

Resiko kanker paru 10 kali lebih tinggi pada perokok dari pada orang yang tidak merokok. Tingginya mortalitas akibat kanker paru sebagian disebabkan karena diagnosis yang terlambat, biologis tumor yang agresif, seringnya metastasis ke otak dan organ – organ vital yang lain, dan tidak efektifnya pengobatan konvensional. Tidak seperti kanker payudara, deteksi dini kanker paru tidak menjamin kesempatan yang baik untuk penyembuhan. Gejala batuk yang menetap, batu dengan sputum berdarah, atau kesulitan bernapas dapat mengindikasikan kanker paru. Keletihan dan kehilangan berat badan secara tiba – tiba sering merupakan gejala dari penyakit yang lebih lanjut.

3) Kanker payudara

Selain adanya massa, tanda – tanda kanker yang lain adalah retraksi kulit atau adanya lubang kecil pada kulit dan adanya perubahan kontur payudara dari yang biasanya. Sekresi serosanguinosa dari puting susu (jarang) pada wanita yang berusia lebih dari 50 tahun sering dikaitkan dengan kanker payudara. Pemeriksaan tambahan yang perlu dilakukan jika ditemukan benjolan atau jika mamogram mecurigakan atau kedua – duanya dapat meliputi aspirasi cairan dari kista, ultrasonografipada area tersebut, dan biopsi lesi.

4) Kanker ginekologik

Kanker ovarium sebagai kanker ginekologi yang paling sering meningkat dengan bertambahnya usia. Faktor resiko yang berhubungan dengan kanker ini termasuk riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan infertilitas. Pembesaran pinggul dan rasa tidak nyaman pada abdomen adalah gejala yang mungkin terjadi pada kanker ovarium.

5) Kanker prostat

Kanker prostat adalah penyebab kedua kanker pada pria lansia dan merupakan penyebab ketiga kematian akibat kanker pada pria yang berusia 65 tahun atau lebih. Gejala – gejala tidak terjadi sampai kanker telah menyerang daerah sekitarnya atau telah menyebar dan pada umumnya termasuk kesulitan dalam berkemih, hematuria, dan nyeri punggung atau tulang,

6) Kanker kulit

Pemeriksaan kulit seseorang secara mandiri dapat berguna untuk deteksi dini lesi kulit yang mencurigakan yang mungkin merupakan kanker atau premalignan. Adanya perubahan pada kulit dan tahi lalat harus dikaji. Kaker kulit yang paling serius melanoma maligna, lebih mematikan pada lansia dan telah meningkat secara dramatis pada orang yang berusia 65 tahun dan lebih dalam waktu 20 tahun terakir ini.

7) Kanker gastrointerstinal

Berbagai macam tumor GI adalah penyebab morbiditas dan mortalitas yang penting pada populasi lansia.

a) Kanker lambung

Gejala- gejalanya biasanya terjadi setelah penyakit berada pada tahap lanjut dan termasuk nyeri epigastrik, penurunan berat badan , rasa penuh pada lambung setelah makan sejumlah kecil makanan dan hematemesis. Intervensi pembedahan pada umumnya merupakan satu – satunya kemungkinan untuk penyembuhan kanker lambung.

b) Kanker pancreas

Penggunaan tembakau dan pankreatitis kronis adalah faktor resiko yang penting. Penapisan rutin tidak dianjurkan dan gejala – gejala mungkin tidak spesifik. Pembedahan mungkin dapat menyembuhkan, tetapi kemoterapi dan radiasi lebih sering diguakan untuk upaya paliatif.

c) Kanker esophagus

Kesulitan menelan dan nyeri epigastrik adalah gejala potensial dari kanker esophagus. Kanker yang berhubungan dengan tembakau ini lebih sering terjadi pada mereka yang berusia 60-an dan 70-an. Intervensi pembedahan mungkin dapat menyembuhkan tetapi sebagian besar pasien mendapatkan kemoterapi atau terapi radiasi untuk upaya paliatif.

8) Kanker kandung kemih

Hematuria, sering berkemih, dan kesulitan dalam berkemih yang merupakan gejala umum infeksi kandung kemih, juga dapat menjadi gejala – gejala kanker kandung kemih. Pasien yang bergejala memerlukan suatu pemeriksaan termasuk pemeriksaan sistoskopi kandung kemih, termasuk biopsy. Penggunaan temabakau juga merupakan faktor resiko untuk kanker ini.

9) Kanker kepala dan leher

Kanker ini sering terjadi pada lansia terutama pada pria lansia. Konsumsi alkohol dan penggunaan tembakau merupakan faktor resiko yang penting. Pengkajian rongga mulut sangat penting. Kesulitan menelan, suara serak, massa pada leher, atau terjadinya lesi baru dalam daerah mulut harus dikaji lebih lanjut. Pembedahan dan terapi radiasi mungkin menyembuhkan tetapi dapat mengakibatkan morbiditas dan distsres psikologis yang signifikan. (Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006)

  1. Gejal umum, komplikasi, diagnosis, dan stadium kanker

Gejala umum kanker biasanya tergantung pada jenis, tempat dan stadium kanker. Dari sini kemudian, gejala umum kanker adalah sebgai berikut :

1) Pembengkakan pada organ tubuh yang terkena ( misal ada benjolan di payudara, diperut, dll)

2) Terjadi perubahan warna (misal perubahan warna tahi lalat)

3) Demam kronis

4) Terjadinya batuk kronis (terutama kanker paru) atau perubahan suara (pada kanker leher).

5) Terjadinya perubahan pada sistem pencernaan/ kandung kemih (misal perubahan pola BAB, BAB berdarah,dsb)

6) Penurunan nafsu makan dan berat badan

7) Keluarnya cairan atau darah tidak normal (misal keluar cairan abnormal dari puting payudara).

Sedangkan dilihat dari penyebabnya, komplikasi akibat kanker dibagi menjadi 3 yaitu :

1) Akibat langsung kanker (misalnya, sumbatan saluran cerna pada kanker usus, patah tulah pada kanker tulang, dst)

2) Akibat tidak langsung (misalnya, demam, penuruna berat badan, anemia, penurunan kekebalan tubuh, dsb)

3) Akibat pengobatan (misalnya, pembengkakan akiba sumbatan kelenjar getah bening pada radiasi kanker payudara, gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel darah, kebotakan pada kemoterapi)

Sedangkan diagnosa umum untuk kanker ini didasarkan pada hal – hal sebagai berikut :

1) Gejala yang dirasakan pasien

2) Temuan pada pemeriksaan fisik

3) Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap petanda tumor

4) Pemeriksaan radiology: roentgen, CT-Scan, MRI, USG

5) Diagnosis pasti adalah melalui pemeriksaan patologi anatomi.

Sedangkan penentuan stadium kanker biasanya diklasifikasikan dulu menurut sistem TNM ( tumor, node, metastase) sebagai berikut :

1) Tumor : besar atau luas tumor asal (Tis = tumor belum menyebar ke jaringan sekitar; T1-4 =ukuran tumor)

2) Node: penyebaran kanker ke kelenjar getah bening ( N0=tidak menyebar ke kelenjar getah bening; N1-3= derajat penyebaran)

3) Metastase: ada atau tidaknya penyebaran ke organ jauh (M0=tidak ada/M1=ada)

Tujuan klasifikasi TNM adalah untuk perencanaan pengobatan, menentukan prognosis, evaluasi hasil pengobatan, dan juga untuk pertukaran informasi antar pusat pengobatan kanker.

Sehingga terdapat stadium kanker I,II,III,IV, stadium I dan II di sebut juga stadium dini, sedangkan stadium III,IV disebut juga lokal lanjut atau stadium IV disebut juga stadium lanjut atau telah bermetastase.(mengenal seluk beluk kanker,2008)

  1. faktor resiko

1) riwayat keluarga

orang – orang dewasa dengan riwayat kanker keluarga yang kuat harus dipantau secara hati – hati melalui program penapisan. Penemuan baru – baru ini mengungkapkan gen – gen yang terkait dengan kanker payudara dan kanker lainnya memiliki implikasi yang penting untuk penapisan dan penanganan kanker. Namun jenis – jenis tumor dengan predis posisi genetic seperti kanker payudara dan kanker kolon sering terjadi pada orang dewasa muda. Sebagian besar kanker payudara dan kolon terjadi pada orang – orang tanpa adanya kaitan genetic yang diketahui.

2) merokok dan penggunaan tembakau

merokok dihubungkan dengan satu pertiga kematian akibat kanker terutama kanker paru, kepala dan leher, kendung kemih, ginjal, esophagus, pancreas, dan serviks. Pada saat ini, merokok dihubungkan dengan 45% dari senua kemtian akibat kanker pada pria dan 21,5 % kematian akibat kanker pada wanita.

3) diet, berat badan dan latihan

diet dikaitkan dengan satu pertiga dai seluruh kematian akibat kanker. Diet makanan seumur hidup yang tinggi lemak hewani dan rendah serat telah dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker kolon, payudara dan prostat. Makanan yang tinggi nitrat telah dikaitkan dengan peningkatana resiko kanker kolon dan lambung. Obesitas dan diet tinggi lemak dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker payudara dan kolon. Kurangnya olahraga juga dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker kolon. Penggunaan alkohol berat dihubungkan dengan kanker pada daerah kepala dan leher dan kanker hepar.

4) pajanan sinar matahari

kanker kulit yang paling mematikan, melanoma maligna meningkat dengan kecepatan terbesar dari semua kanker. Pencegahan primer meliputi meminimalkan pajanan terhadap sinar ultraviolet dengan menggunakan tabir surya, memakai pakaian yang dapat melindungi, dan membatasi aktivitas diluar rumah sampai waktu – waktu matahari tidak berada di puncak.

5) bahaya – bahaya lingkungan

pajanan sebelumnya terhadap karsinogen – karsinogen di tempat kerja seperti asbestos sangat penting di kaji pada lansia. Bahan kimia dan zat – zat lain di tempat kerja yang telah dikaitkan denga peningkatan insidensi kanker termasuk kromium dan asbestos. Untuk banyak karsinogen ini pajanan yang dikombinasikan dengan merokok secara signifikan telah meningkatkan resiko kanker.

6) pengeruh hormonal

resiko kanker payudara meningkat secara dramatis dengan penuaan. Menapouse setelah usia 55 tahun dikaitkan dengan dua kali resiko kanker payudara dibandingkan dengan menapouse sebelum usia 45 tahun. Penggunaan kontrasepsi oral secara kurang meyakinkan telah dikaitkan dengan peningktan resiko kanker payudara, tetapi penggunaannya telah menunjukkan dapat mengurangi resiko kanker endometrium.

7) riwayat kanker

adanya riwayat kanker pada seseorang telah menempatkan orang tersebut pada resiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya jenis – jenis kanker primer lain. Perilaku pencegahan sangat penting bagi jutaan orang amerika yang saat ini hidup dengan suatu riwayat kanker.

8) masalah pengobatan dan penanganan lain.

Kanker dapat dihubungkan dengan adanya atau kadang – kadang penanganan kondisi – kondisi medis yang lain. Resiko kanker lambung contohnya meningkat dengan adanya penyakit lambung yang lain seperti gastritis, aklorhidria, dan ulkus lambung. Diabetes dan hipertensi telah dikaitkan dengan peningkatan resiko kanker endometrium. (Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006)

  1. Penaganan kanker

1) Kemoterapi

Penggunaan obat anti kanker yang bertujuan mematikan sel kanker

Indikasi dan prinsip :

a) Sebanyak mungkin mematikan sel kanker seminimal mungkin mengganggu sel normal

b) Dapat digunakan untuk : pengobatan, pengendalian, paliatif

c) Jangan diberikan jika bahaya/komplikasinya lebih besar dari manfaatnya

d) Obat kemotherapi umumnya sangat toksik, teliti/cermat evaluasi kondisi pasien

Kompilaksinya :

1) Efek samping :

· nausea, vomiting

· alopecia

· rasa (pengecap) menurun

· mucositis

2) Toksik :

· hematologik : depresi sumsum tulang, anemia

· ginjal, hepar.(http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/)

2) Radiotherapy

a) Menggunakan X-ray atau radiopharmaceuticals (radionuclides).(http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/)

b) Terapi radiaisi eksternal yaitu pengobatan noninvasive dan mungkin lebih sering disarankan untuk lansia lemah yang tidak mampu menjalani pembedahan. (Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006)

3) Pembedahan

Pembedahan dapat digunakan sebagai upaya kuratif atau digunakan untuk meingkatkan kualitas hidup. Pembedahan kurang menimbulkan debilitasi dari pada kemoterapi atau terapi radiasi untuk pasien yang cukup sehat utnuk menjalani anastesi dan hanya merupakan satu – satunya terapi untuk banyak lansia dengan kanker. (Buku Ajar Keperawatan Gerontik,2006)

4) Immunoterapi

Immunoterapi yang disebut juga terapi biologis merupakan jenis pengobatan kanker yang relative baru. Sekalipun demikian diperkirakan akan segera maju pesat dan menjadi andalan para dokter dalam upaya penyembuhan kanker secara total.

Tidak beda dengan imunisasi pada umumnya, immunoterapi bertujuan untuk meningkatkan kekebalan tubuh guna melawan sel –sel kanker. Ada tiga macam immunoterapi, yaitu aktif (vaksin kanker), pasif, dan terapi adjuvant.

5) Terapi gen

Terapi gen dilakukan dengan beberapa cara:1) mengganti gen yang rusak atau hilang, 2) menghentikan kerja gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan sel kanker , 3) menambahkan gen yang membuat sel kanker lebih mudah dideteksi dan di hancurkan oleh system kekebalan tubuh, kemoterapi, maupun radioterapi, 4) menghentikan kerja gen yang memicu pembuatan pembuluh darah baru di jaringan kanker sehingga sel – sel kankernya mati.

  1. peran perawat

Promotif sampai dengan rehabilitatif

1) Memberi dukungan klien terhadap prosedur diagnostic

2) Mengenali kebutuhan psiko sosial dan spiritual

3) Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi klien

4) Memberi bantuan bagi klien yang mendapat pengobatan anti kanker/terhadap keganasan

5) Membantu klien fase penyembuhan/rehabiltasi

6) Membantu klien untuk tindak lanjut pengobatan

7) Berpartisipasi dalam koleksi data penelitian/registrasi kanker. (http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/)

  1. asuhan keperawatan

1) identitas

kanker sering didiagnosis pada orang – orang yang berusia 65 tahun atau lebih. Kejadian kanker sering di derita pada wanita di bandingkan pria.

2) keluhan utama

keluhan biasanya disesuaikan dengan jenis dan lokasi kanker yang dialami oleh klien.

3) riwayat penyakit sekarang

gejala kanker yang dialami klien pada umumnya adalah sebagai berikut :Demam kronis,Terjadinya batuk kronis (terutama kanker paru) atau perubahan suara (pada kanker leher).Terjadinya perubahan pada sistem pencernaan/ kandung kemih, Penurunan nafsu makan dan berat badan, Keluarnya cairan atau darah tidak normal.

4) riwayat penyakit dahulu

untuk mengetahui apakah klien pernah menderita kanker sebelumnya atau pernah melakukan program terapi / pengobatan kanker

5) riwayat penyakit keluarga

untuk mengetahui apakah dalam keluarganyaada yang menderita kanker seperti yang dialami klien saat ini. Karena bila ada keluarga ada yang menderita kanker, resiko tinggi untuk keturunannya.

6) pemeriksaan fisik

a) sistem integument

· Perhatikan : nyeri, bengkak, flebitis, ulkus

· Inspeksi kemerahan & gatal, eritema

· Perhatikan pigmentasi kulit

· Kondisi gusi, gigi, mukosa & lidah

b) system gastrointerstinal

· Kaji frekwensi, mulai, durasi, berat ringannya mual & muntah setelah pemberian kemotherapi

· Observasi perubahan keseimbangan cairan & elektrolit

· Kaji diare & konstipasi

· Kaji anoreksia

· Kaji : jaundice, nyeri abdomen kuadran atas kanan

c) system hematopoetik

1. Kaji Netropenia

· Kaji tanda infeksi

· Auskultasi paru

· Perhatikan batuk produktif & nafas dispnoe

· Kaji suhu

2. Kaji Trombositopenia : <>

3. Kaji Anemia

· Warna kulit, capilarry refill

· Dispnoe, lemah, palpitasi, vertigo

d) Sistem Respiratorik & Kardiovaskular

· Kaji terhadap fibrosis paru yang ditandai : Dispnoe, kering, batuk non produktif - terutama bleomisin

· Kaji tanda CHF

· Lakukan pemeriksaan EKG

e) Sistem Neuromuskular

· Perhatikan adanya perubahan aktifitas motorik

· Perhatikan adanya parestesia

· Evaluasi refleks

· Kaji ataksia, lemah, menyeret kaki

· Kaji gangguan pendengaran

· Diskusikan ADL

f) Sistem Genitourinari

· Kaji frekwensi BAK

· Perhatikan bau, warna, kekeruhan urine

· Kaji : hematuria, oliguria, anuria

· Monitor BUN, kreatinin

7) Diagnosa keperawatan

a) Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.

b) Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri

c) Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake

d) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasive

e) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia

f) Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga

8) Rencana asuhan keperawatan

a) Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.

· Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 2×24 jam nyeri berkurang

· Kriteria hasil :

Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas. Melaporkan nyeri yang dialaminya. Mengikuti program pengobatan. Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin.

· Intervensi :

1) Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas

Memberikan informasi yang diperlukan untuk merencanakan asuhan

2) Evaluasi therapi: pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan klien dan keluarga tentang cara menghadapinya

Untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau malah menyebabkan komplikasi.

3) Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV

Untuk meningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan perhatian klien dari rasa nyeri.

4) Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik.

Meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan stress dan ansietas.

5) Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.

Untuk mengetahui efektifitas penanganan nyeri, tingkat nyeri dan sampai sejauhmana klien mampu menahannya serta untuk mengetahui kebutuhan klien akan obat-obatan anti nyeri.

6) Diskusikan penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien

Agar terapi yang diberikan tepat sasaran

7) Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narkotik dll

Untuk mengatasi nyeri.

b) Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri

· Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 2×24 jam kebutuhan nutrisi terpenuhi

· Kriteria hasil:

Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi. Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat. Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya.

· Intervensi :

1) Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan kebutuhannya.

Memberikan informasi tentang status gizi klien.

2) Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan.

Memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.

3) Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis.

Menunjukkan keadaan gizi klien sangat buruk.

4) Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.

Kalori merupakan sumber energi.

5) Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas.

Mencegah mual muntah, distensi berlebihan, dispepsia yang menyebabkan penurunan nafsu makan serta mengurangi stimulus berbahaya yang dapat meningkatkan ansietas.

6) Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga

Agar klien merasa seperti berada dirumah sendiri.

7) Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan.

Untuk menimbulkan perasaan ingin makan/membangkitkan selera makan

8) Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien.

Agar dapat diatasi secara bersama-sama (dengan ahli gizi, perawat dan klien).

9) Amati studi laboratorium seperti total limposit, serum transferin dan albumin

Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya gangguan nutrisi sebagi akibat perjalanan penyakit, pengobatan dan perawatan terhadap klien.

10) Berikan pengobatan sesuai indikasiPhenotiazine,antidopaminergic, corticosteroids, vitamins khususnya A,D,E dan B6, antacid

Membantu menghilangkan gejala penyakit, efek samping dan meningkatkan status kesehatan klien.

11) Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus.

Mempermudah intake makanan dan minuman dengan hasil yang maksimal dan tepat sesuai kebutuhan.

c) Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake

· Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 1×24 jam kebutuhan cairan terpenuhi.

· Kriteria hasil:

Klien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal,- membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry ferill normal, urine output normal.

· Intervensi :

1) Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak normal seperti emesis, diare, drainase luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.

Pemasukan oral yang tidak adekuat dapat menyebabkan hipovolemia.

2) Timbang berat badan jika diperlukan.

Dengan memonitor berat badan dapat diketahui bila ada ketidakseimbangan cairan.

3) Monitor vital signs. Evaluasi pulse peripheral, capilarry refil.

Tanda-tanda hipovolemia segera diketahui dengan adanya takikardi, hipotensi dan suhu tubuh yang meningkat berhubungan dengan dehidrasi.

4) Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan pada klien.

Dengan mengetahui tanda-tanda dehidrasi dapat mencegah terjadinya hipovolemia.

5) Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu.

Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.

6) Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis dan pethekie

Segera diketahui adanya perubahan keseimbangan volume cairan.

7) Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah.

Mencegah terjadinya perdarahan.

8) Kolaboratif berikan cairan IV bila diperlukan.

Memenuhi kebutuhan cairan yang kurang.

9) Berikan therapy antiemetik.

Mencegah/menghilangkan mual muntah.

d) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasive

· Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam resiko infeksi berkurang

· Kriteria hasil :

Klien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pecegahan infeksi. Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung normal

· Intervensi :

1) Cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Pengunjung juga dianjurkan melakukan hal yang sama.

Mencegah terjadinya infeksi silang.

2) Jaga personal hygine klien dengan baik.

Menurunkan/mengurangi adanya organisme hidup.

3) Monitor temperatur.

Peningkatan suhu merupakan tanda terjadinya infeksi

4) Kaji semua sistem untuk melihat tanda-tanda infeksi

Mencegah/mengurangi terjadinya resiko infeksi

5) Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptik prosedur.

Mencegah terjadinya infeksi.

6) Monitor CBC, WBC, granulosit, platelets

Segera dapat diketahui apabila terjadi infeksi

7) Berikan antibiotik bila diindikasikan

Adanya indikasi yang jelas sehingga antibiotik yang diberikan dapat mengatasi organisme penyebab infeksi.

e) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia

· Tujuan : sdetelah dilakukan tiindakan keperawatan selama 1×24 jam resiko kerusakan integritas kulit berkurang

· Kriteria hasil :

Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik. Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan.

· Intervensi :

1) Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan luka.

Memberikan informasi untuk perencanaan asuhan dan mengembangkan identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit.

2) Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.

Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.

3) Ubah posisi klien secara teratur.

Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah tertentu.

4) Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter.

Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra indikatif

f) Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga

· Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam cemas yang dirasakan klien berkurang

· Kriteria hasil :

Klien dapat mengurangi rasa cemasnya. Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif. Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan.

· Intervensi :

1) Tentukan pengalaman klien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya.

Data-data mengenai pengalaman klien sebelumnya akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi

2) Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.

Pemberian informasi dapat membantu klien dalam memahami proses penyakitnya.

3) Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.

Dapat menurunkan kecemasan klien

4) Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan.

Membantu klien dalam memahami kebutuhan untuk pengobatan dan efek sampingnya.

5) Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll.

Mengetahui dan menggali pola koping klien serta mengatasinya/memberikan solusi dalam upaya meningkatkan kekuatan dalam mengatasi kecemasan.

6) Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system.

Agar klien memperoleh dukungan dari orang yang terdekat/keluarga.

7) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.

Memberikan kesempatan pada klien untuk berpikir/merenung/istirahat.

8) Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.

Klien mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa dia benar-benar ditolong.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC

Junaidi, iskandar.2007. Kanker, Pengenalan,Pencegahan, dan Pengobatannya.Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer

Diananda, rama.2008. Mengenal Seluk Beluk Kanker. Jogjakarta : Katahati

Stanley, mickey. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC

www.medicastore.com/kanker kandung kemih

http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-kanker/