Selasa, 25 Mei 2010

ANTIBIOTIKA




Pengertian

Adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme hidup, terutama fungi/jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain termasuk turunan yang dibuat secara sintetik dan dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme
Antibiotika harus memiliki toksisitas selektif : membunuh mikroorganisme penginvasi tetapi tidak merusak host.

Yang harus selalu diingat, antibiotika hanya ampuh dan efektif membunuh bakteri tetapi tidak dapat membunuh virus. Karena itu, penyakit yang dapat diobati dengan antibiotika adalah penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Penggolongan
1. Berdasarkan daya kerja : bakterisid (pada dosis biasa berkhasiat mematikan kuman, Contoh : pensisilin, sefalosporin, dll), bakteriostatik (pada dosis biasa berkhasiat menghentikan/menghambat pertumbuhan kuman, contoh : sulfonamida, kloramfenikol)
2. Berdasarkan struktur kimia : beta laktam (penisilin, sefalosporin), aminoglikosida, kloramfenikol, tetrasiklin, rifampisin, makrolida, polien, antibiotika lain

2. Berdasarkan Mekanisme kerja
Menghambat sintesis dinding sel atau mengaktivasi enzim yang merusak dinding sel mikroba shg menghilangkan kemampuan untuk berkembang biak, lisis (penisilin, sefalosporin, sikloserin, basitrasin)
Antibiotika yang bekerja langsung thd membran sel, mempengaruhi permeabilitas sehingga menimbulkan kebocoran dan menghilangkan senyawa intraseluler (polimiksin, nistatin, amfoterisin)

Antibiotika yang mengganggu fungsi ribosom bakteri, menyebabkan inhibisi sintesis protein (kloramfenikol, tetrasiklin, eritromisin, dll)
Antibiotika yang mengganggu pembentukan asam-asam inti (DNA,RNA) : rifampisin, kuinolon
Antagonisme saingan yaitu menyaingi zat-zat yang penting untuk metabolisme bakteri (sulfonamid, trimetoprim)

4. Berdasarkan sasaran kerja

Zat dengan aktivitas sempit (narrow spektrum) terutama aktif untuk beberapa jenis bakteri saja. Aktif untuk bakteri gram positif (penisilin G, V, kanamisin, eritromisin). Aktif untuk bakteri gram negatif (streptomisin, gentamisin, dll)
Zat dengan aktivitas luas (broad spektrum) baik gram positif maupun gram negatif (penisilin, sefalosporin, dll)

Efek samping
Sensitasi/hipersensitif
Resistensi
Super infeksi

Seleksi Obat Antimikroba
Dasar pertimbangan (ideal) :
Identifikasi & sensitivitas organisme,
Tempat infeksi,
Status pasien (umur, BB, keadaan patologis, kehamilan & laktasi),
Keamanan antibiotik,
Biaya.


Dalam prakteknya :
Terapi empirik sebelum identifikasi organisme.
Berdasar bukti-bukti ilmiah & pengalaman, dengan mempertimbangkan : mengutamakan obat bakterisid, memilih obat dengan daya penetrasi baik (jaringan tubuh, sistem saraf pusat), memilih obat dengan frekuensi pemberian rendah (drug compliance), mengutamakan obat dengan pengikatan protein rendah, tidak merutinkan penggunaan antibiotik mutakhir (misalnya sefalosporin gen-3) agar terjamin ketersediaan antibiotik yang lebih efektif bila dijumpai resistensi)

Pemberian AB

Dosis : kadar obat di tempat infeksi harus melampaui MIC kuman. Untuk mencapai kadar puncak obat dlm darah, kalau perlu dengan loading dose (ganda) dan dimulai dengan injeksi kemudian diteruskan obat oral.
Frekuensi pemberian : tergantung waktu paruh (t½ obat. Bila t½ pendek, maka frekuensi pemberiannya sering.
Lama terapi : harus cukup panjang untuk menjamin semua kuman telah mati & menghindari kekambuhan. Lazimnya terapi diteruskan 2-3 hari setelah gejala penyakit lenyap.

Kombinasi AB

Pemberian AB tunggal lebih dianjurkan untuk :
Organisme penyebab infeksi spesifik.
Menurunkan kemungkinan superinfeksi.
Menurunkan resistensi organisme.
Mengurangi toksisitas

Pemberian Antibiotik kombinasi untuk keadaan khusus :
Infeksi campuran.
Ada risiko resistensi organisme, misalnya pada TBC.
Keadaan yang membutuhkan AB dengan dosis besar, misalnya sepsis, dan etiologi infeksi yang belum diketahui.

Keuntungan AB Kombinasi

Efek sinergistik / potensiasi, misalnya :
a) Betalaktam + Aminoglikosid; b) Kotrimoksazol (Sulfametoksazol + Trimetoprim)
Mengatasi & mengurangi resistensi, misalnya : a) Amoksisilin + Asam klavulanat; b) Obat-obat TBC
Mengurangi toksisitas, misalnya : Trisulfa + sitostatika.

Kerugian Pemberian Antibiotik kombinasi :
Antagonisme pada penggunaan bakteriostatika & bakterisid yang bekerja pada fase tumbuh.

Resistensi Obat
Bila pertumbuhan bakteri tidak dapat dihambat oleh antibiotik pada kadar maksimal yang dapat ditolerir host.
Penyebab resistensi :
Perubahan genetik,
Mutasi spontan DNA,
Transfer DNA antar organisme (konjugasi, transduksi, transformasi),
Modifikasi tempat target,
Menurunnya daya penetrasi obat (adanya lapisan polisakarida, adanya sistem refluks),
Inaktivasi oleh enzim.

Pencegahan resistensi
Penggunaan AB hanya sesuai indikasi dan dosis yg tepat,jangka waktu cukup
Pembatasan penggunaan AB spektrum luas
Penggunaan AB di rumah sakit pada waktu tertentu sebaiknya dibatasi pada jenis jenis AB tertentu
Aplikasi penggunaan AB, khususnya di bidang peternakan perlu dibatasi

Antibiotika Profilaktik

Pemberian antibiotik untuk pencegahan infeksi, bukan untuk pengobatan infeksi.
Lama pemberian ditentukan oleh lamanya risiko infeksi.
Dapat timbul resistensi bakteri & superinfeksi.

Komplikasi Terapi AB

Hipersensitivitas, misalnya pada pemberian Penisilin berupa reaksi alergi ringan (gatal-gatal) hingga syok anafilaktik.
Toksisitas langsung, misalnya pada pemberian Aminoglikosid berupa ototoksisitas.
Superinfeksi, misalnya pada pemberian antibiotik spektrum luas atau kombinasi akan menyebabkan perubahan flora normal tubuh sehingga pertumbuhan organisme lain seperti jamur menjadi berlebihan dan resistensi bakteri.

Efek Samping
Reaksi hipersensitifitas dan dermatologi : shock, rash, urtikaria, eritema, pruritis, udema,
Hematologi : pendarahan, trombositopenia, anemia hemolitik Hematologi : pendarahan, trombositopenia, anemia hemolitik
Reaksi toksik
ex: tetrasiklin dapat mengganggu pertumbuhan tulang, gigi, hepatotoksik
Perubahan biologik dan metabolik

Kontra Indikasi
Hipersensitivitas pada antibiotik sefalosporin atau golongan betalaktam lainnya. Sebelum penggunaan antibiotik sefalosporin, terlebih dahulu dilakukan skin tes

Antibiotika dapat digolongkan sebagai berikut :

Antibiotika golongan aminoglikosid, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.
Antibiotika golongan sefalosforin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
Antibiotika golongan klorampenikol, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.
Antibiotika golongan makrolida, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri. Ex : Eritromisin
Antibiotika golongan penisilin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan.
Antibiotika golongan beta laktam golongan lain, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
Antibiotika golongan kuinolon, bekerja dengan menghambat satu atau lebih enzim topoisomerase yang bersifat esensial untuk replikasi dan transkripsi DNA bakteri. Ex : Siprofloksasin
Antibiotika golongan tetrasiklin, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.

Aminoglikosida
Efektif untuk bakteri gram –
Mekanisme kerja : menghambat sintesis sel bakteri
Sifat : bakterisidal
Efek samping : alergi, iritasi, ototoksik, nefrotoksik
Jenis : streptomisin, gentamisin, kanamisin, neomisin, amikasin, tobramisin, paromomisin
Indikasi : aerob gram -, Pseudomonas
Kontraindikasi : kehamilan, gangguan ginjal

Sefalosporin
Mekanisme menghambat sintesis dinding sel
Aktivitas bersifat bakterisid dengan spektrum luas terhadap gram positif dan negatif
Sefalosporin hanya digunakan untuk infeksi yang berat atau tidak dapat diobati dengan antimikroba yang lain


Kloramfenikol
Mekanisme kerja : menghambat sintesis protein kuman
Sifat : bakteriostatik
Spektrum antibakteri luas
Indikasi : demam tifoid, meningitis purulenta, riketsiosis, kuman anaerob
Efek samping : depresi sumsum tulang, alergi, reaksi sal.cerna, sindrom Gray, reaksi neurologik
Kontrindikasi : neonatus, gangguan faal hati, penderita yang hipersensitif

Penisilin
Antibiotika pertama yang ditemukan oleh Alexander Fleming
Mekanisme kerja : menghambat sintesis dinding sel bakteri sehingga bakteri lisis
Dapat terjadi resistensi bakteri dimana bakteri membentuk enzim betalaktamase atau berubah menjadi bakteri huruf L

Derivat Penisilin
Penisilin spektrum sempit
1. Benzil penisilin
Tidak tahan asam lambung, penggunaan secara injeksi
Fenoksimetil penisilin
Tahan terhadap asam lambung, pemberian sebaiknya sebelum makan
Penisilin tahan penisilinase
Aktivitas lebih ringan dari Penisilin G, cth kloksasilin, dikloksasilin, flukloksasilin.
Penisilin spektrum luas
Ampisilin, amoksilin

Sulfonamide
Aktivitas : spektrum antibakteri luas baik gram (+) maupun (-) yg peka, ct : Str. Pyogenes, E.coli, B. anthracis, v. cholerae, C. trachomatis, C. diphteriae
Bersifat bakteriostatik
Mekanisme kerja :antagonisme kompetitif PABA (para amino benzoid acid) dan sulfa
Sediaan : oral, parenteral, topikal
Efek samping : reaksi alergi, agranulositosis, trombositopeni, gangguan saluran kemih

Kotrimoksazole
Kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol
Spektrum antibakteri luas, ct : S. aureus, Str. Pneumoniae, N. meningitis, E. coli
Mekanisme kerja : sulfonamid menghambat masuknya PABA ke molekul asam folat, trimetoprim menghambat tjdnya reaksi reduksi dihidrofolat mjd tetrahidrofolat
Sediaan : tablet, suspensi, tablet pediatrik
Indikasi : ISK, infeksi saluran napas, infeksi gonokokal akut, shigellosis
Efek samping : alergi, mual, anemia, stomatitis

Tetrasiklin
Spektrum : luas, baik gram + atau -, aerob, anaerob, spirochaeta, klamiidia, riketsia
Derivat : tetrasiklin, klortetrasiklin, oksitetrasiklin, demeklosiklin, rolitetrasiklin, doksisiklin, minosiklin, limesiklin
Indikasi : infeksi klamidia, riketsia, mikoplasma, gonore, kokus, kollera
Efek samping : reaksi kepekaan, toksik dan iritatif
Sediaan : tablet, kapsul, sirup, salep, pulveres

Tuberkulostatik
Streptomisin
Bersifat bakteriostatik terhadap M. tuberkulosis
Waktu paruh obat 2-3 jam
Sediaan : bubuk injeksi 1 & 5 gram
Efek samping : sakit kepala, malaise, reaksi alergi
Untuk mengobati tuberkulosis harus diberikan kombinasi dengan obat lain

Isoniazid/INH

Invitro bersifat tuberkulostatik dan tuberkulosid pd kuman yang tumbuh aktif
Mekanisme kerja : menghambat sintesis dinding sel mikobakteria
Mudah diabsorbsi pada pemberian oral maupun parenteral
Efek samping : demam, urtikaria, anemia, neuritis perifer, hepatotoksik, mulut kering
Sediaan : tablet 50, 100, 300 dan 400mg, sirup 10 mg/ml

Rifampisin
Mekanisme kerja : menghambat polimerase RNA mikobakteria
Rifampisin meninggikan aktivitas streptomisin dan isoniazid
Efek samping: kemerahan, demam, mual, muntah, urtikaria, ikterus, anemia
Merupakan pemacu metabolisme obat yg cukup kuat, misalnya obat hipoglikemik oral, kortikosteroid, kontrasepsi oral
Sediaan : kapsul 150 dan 300 mg, tablet 450 dan 600 mg, suspensi 100 mg/5 ml

Etambutol
Bersifat tuberkulostatik
Resistensi dapat terjadi jika tidak dikombinasikan dengan obat lain
Efek samping : peningkatan kadar asam urat, neuritis optik, pruritus
Sediaan : tablet 250 mg dan 500 mg

Pirazinamid
Bersifat tuberkulostatik
Efek samping : kelainan hati, muntah, naussea
Bekerja pada suasana asam

Leprostatik
Sulfon
Derivat 4.4 diamino difenil sulfon (DDS, dapson)
Bersifat bakteriostatik
Mekanisme kerja : sama dengan sulfonamid
Pengobatan harus dimulai dengan dosis kecil baru dinaikkan perlahan
Merupakan sediaan terpilih untuk semua bentuk lepra

Minggu, 23 Mei 2010

LOSS GRIEVING

LOSS / KEHILANGAN



situasi aktual atau potensial dimana sso / obyek yang dihargai tidak dpt dicapai atau diganti shg dirasakan tdk berharga spt semula
Pengalaman individu yang dasar : terjadi kapan saja
Bisa terjadi scr tiba2 atau berangsur-angsur : pengalaman traumatik
Kehilangan pengaruh pada perkembangan individu : part of being matur


Sumber-sumber kehilangan Salah satu aspek “diri”
Bagian tubuh
Fungsi/fisiologis organ
“Kelengkapan” psikologis
Hasil tumbuh kembang
Obyek eksternal
Benda mati, benda hidup : hewan, tumbuhan
Lingkungan yang biasa dikenal
Lingkungan fisik ( termasuk orang )
Orang yg dicintai
Menetap atau sementara

Dalam menghadapi kehilangan, individu dipengaruhi : Tahap perkembangan
Kekuatan dalam dirinya
Support system

Tahap – Tahap Proses Kehilangan
Menurut Lambert and Lambert (1985) ada 3 fase :
Repudiation ( penolakan )
Recognition ( pengenalan )
Reconciliation (pemulihan/reorganisasi )

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Reaksi Kehilangan Pengalaman yang lalu dengan kehilangan
Pentingnya arti kehilangan dan gangguan yang bersangkutan
Kebudayaan
Ekonomi
Dukungan keluarga

Bentuk – bentuk Kehilangan Kehilangan orang yang berarti
Kehilangan kesejahteraan
Kehilangan milik pribadi

Sifat Kehilangan : Tiba – tiba (tidak dapat diramalkan )
Berangsur – angsur
(dapat diramalkan)

Type Kehilangan Actual Loss ( fisik )
Kehilangan yang dapat dikenal/diidentifikasi oleh orang lain, sama dengan individu yang mengalami kehilangan.Ex: kematian, kehilangan bag. Tubuh & perubahan kesehatan fisik

Perceived Loss (psikologis) Perasaan individual, tetapi menyangkut hal – hal yang tidak dapat diraba/dinyatakan secara jelas. Ex : martabat, kekuatan, mimpi, rencana & keamanan seseorang, dll

Anticipatory Loss Perasaan kehilangan terjadi sebelum kehilangan terjadi
Individu memperlihatkan perilaku kehilangan dan berduka untuk suatu kehilangan yang akan berlangsung
Sering tampak pada keluarga dengan klien (anggota) menderita sakit terminal

GRIEVING (BERDUKA) Grieving merupakan respon individu/reaksi emosi thd kehilangan dan biasanya akibat perpisahan. Dimanifestasikan dlm perilaku, perasaan & pikiran, seperti:kehilangan hak, kehilangan hak hidup, menuju kematian
Breavement adalah keadaan berduka yang ditunjukkan selama individu melewati reaksi berduka, seperti mengabaikan keadaan kesehatan secara ekstrem

Mourning (berkabung) : periode penerimaan thd kehilangan & berduka yg tjd selama individu dlm masa kehilangan. Sering dipengaruhi oleh kebud. Dan kebiasaan

Proses Keperawatan
Pengkajian
Pengumpulan data
Tahap pengingkaran
Tidak percaya diri
Shock
Mengingkar kenyataan akan kehilangan
Selalu membantah dengan perkataan tidak
Diam terpaku
Bingung, gelisah
Lemah, letih, pernafasan dan nadi cepat, berdebar- debar
Nyeri tubuh, mual

2. Tahap marah
Klien marah – marah, nada bicara kasar, suara tinggi, iritabel/sensitif
3. Tahap tawar – menawar
Sering mengungkapkan kata – kata kalau, andai
Sering berjanji pada Tuhan
Mempunyai kesan mengulur – ulur waktu
Merasa bersalah terus – menerus
Kemarahan mereda


4. Tahap Depresi
Klien tidak banyak bicara
Sering menangis dan sedih karena akan kehilangan nyawa
Putus asa

5. Tahap Penerimaan
Tenang, damai
Mulai ada perhatian terhadap obyek baru
Berpartisipasi aktif
Tidak mau banyak bicara, karena merasa sudah terungkapkan semua ganjalan hatinya
Siap menerima maut

Diagnosa Keperawatan
Disfunctional Grieving : (Pathologi Grieving)
Individu tdk dpt mengekspresikan rasa berdukanya scr normal

Impaired Adjusment
Individu tdk dpt menyesuaikan diri thd perub. status kesh

Sosial Isolation
Individu menarik diri dari lingk. / trauma yg dialaminya

Intervensi


Fase Pengingkaran
Memberi kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya
Mewujudkan sikap menerima, ikhlas dan mendorong klien untuk berbagai rasa
Memberi jawaban yang jujur terhadap pertanyaan klien ttg sakit, pengobatan & kematian
Fase Marah
Mendorong klien untuk mengungkapkan rasa marah secara verbal dan nonverbal secara konstruktif

Fase Tawar – Menawar
Membantu klien mengidenifikasi rasa bersalah dan perasaan takutnya
Fase Depresi
Mengidentifikasi tingkat depresi dan resiko bunuh diri klien
Membantu klien menerima kehilangan yang tidak bisa dijelaskan
Fase Menerima
Membantu klien menerima kehilangan yang tidak bisa dijelaskan

Evaluasi


Tahap Pengingkaran
Klien berhasil mengungkapkan perasaannya yang menganjal
Klien dapat melakukan aktifitas yang diperlukan
Klien tenang
Tahap Marah
Klien dapat mengungkapkan rasa marah baik verbal maupun non verbal

Tahap Tawar – Menawar
Klien dapat mengungkapkan rasa takut dan bersalahnya
Klien dapat menerima kenyataan
Klien merasa takut
Tahap Depresi
Klien pasrah diri pada Tuhan
Klien melakukan ibadah dengan baik

Tahap Menerima
Klien siap menerima maut yang akan
menimpanya

Jumat, 21 Mei 2010

ASKEP BAYI DENGAN INFEKSI HERPES DAN VARICELLA ZOOSTER


Oleh
Diyan Indriyani, M.Kep., Sp.Mat
Konsep Dasar
Herpes zoster adl peradangan pd kulit dan mukosa yg disebabkan oleh virus varicella zoster
Etiologi : terjadi krn rektivasi dari virus varicella zoster
Frekuensi meningkat pd bayi yg memiliki imunitas lemah.

Cara penularan : kontak langsung dg lesi aktif, sekresi pernapasan.
Manifestasi klinik : gejala prodromal (80%) rewel (krn nyeri, demam), kelainan kulit : lesi eritema papula dan vesikula bula, isi lesi jernih keruh dan dpt bercampur darah, lokasi bisa disemua tempat, paling sering unilateral pd servikal IV dan lumbal II.

Pemeriksaan penunjang : tzanck’s smear dan punch biopsi : adanya sel raksasa berinti banyak dan sel epitel mengandung badan inklusi eosinofilik
Isolasi virus : cairan vesikel, darah cairan cerebrospinal, jaringan terinfeksi.
Komplikasi : jaringan cikatrik, neuralgi pascaherpetik

Penatalaksanaan : dukung kenyamanan bayi, analgetik, asiklovir selama 7 hari, paling lambat 72 jam setelah lesi muncul. Dosis asiklovir 10 mg/KgBB/hr scr IV setiap 8 jam selama sekurang-kurangnya 14 hr.
Mata, rongga mulut dan kulit bbl diperiksa cermat utk deteksi lesi.
Spesimen kultur diambil di mata, mulut dan lesi.
Sirkumsisi ditunda samapai by siap diplgkan
Bayi pulang bila kultur thd virus negatif
Bayi yg berisiko, berikan salep profilaksis mata topikal (viradabin) mencegah keratokonjungtivitis

Tindakan keperawatan :
Berikan dan Kaji efektifitas terapi
Kompres dingin, gunakan antipruritus dingin
Jaga agar vesikel tdk pecah, dengan pemberian bedak salisil 2%
Informasikan pd keluarga tentang cara penularan dan pencegahan
Informasikan pd keluarga ttg pencegahan infeksi sekunder
Berikan pd kelg support emosional ttg intervensi yg berkelanjutan

Varicella :
Adalah infeksi akut primer oleh virus varicella zoster yg menyerang kulit dan mukosa yg ditandai oleh demam mendadak, malaise, erupsi kulitberupa makulopapular bbrp jam yg kemudian berubah mjd vesikel selam 3-4 hr dan dpt meninggalkan keropang.

Virus varicella zooster bila Infeksi primer menyebabkan penyakit varicella, sdgkan reaktivasi (kambuh setelah sembuh dari varicella) menyebabkan herpes zoster.
Epidemiologi : masa penularan sekitar 7 hr dihitung dr timbulnya gejala kulit.

Mortalitas/morbiditas
Angka kesakitan krn penyebaran virus dlm darah, infeksi otak dan selaputnya.
Pd bumil infeksi varicella usia gestasi 20 mgg dpt menyebabkan kelainan kongenital pd bayi termasuk atrofi anggota gerak, abnormalitas saraf dan mata juga retardasi mental.
Bayi yg lahir dg ibu varicella bbrp hr sblm inpartu atau 2 hr postnatal : menimbulkan disseminated varicella neonatorum.

Manifestasi klinik :
Bayi demam, lemah, muntah, rewel (krn nyeri), lesi kulit yg berbentuk bentolan air, biasanya berawal dr badan dan menyebar ke luar (muka, kepala, anggota gerak), lesi juga bisa ditenggorokan.

Pemeriksaan fisik
Terdpt lesi kulit yg has : lesi berupa air bentuk oval dengan kemerahan pd kulit bagian dasarnya, timbul pd tubuh dan wajah, dg diawali bentolan merah, selama 12-14 hari mjd besar, berair,berisi nanah dan kering. Lesi biasanya pd sentral tubuh atau anggota gerak bagian proksimal (lengan paha) dan menyebar ke bwh tp tdk banyak.
Suhu tbh meningkat sampai 39,5 derajat C selam 3-6 hr stlh terbentuk lesi
Benjolan dpt berdarah
Penyebaran ke kulit lainnya dpt berupa pengaktifan kembali
Bayi biasanya rewel krn nyeri
Pemeriksaan pd organ lain bila mungkin terjadi komplikasi.

Penatalaksanaan:
Isolasi
Obat2an mengurangi simptomatik
Obat antivirus : acyclovir
Pemberian varizella zoster immuno globullin (VZIG) diberikan kurang dr 96 jam stl terpapar, yaitu : bumil, bbl dg ibu tertular varizella dlm 5 hr sblm melahirkan atau 48 jam stlh melahirkan
Bayi prematur 28 minggu/lbh dg ortu tanpa riwayat cacar sblmnya.
Asuhan keperawatan

Pengkajian :
  • Anamnesa
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan diagnostik

Diagnosa keperawatan :
Hipertermi yg b.d proses inflamasi sekunder thd perjalanan penyakit.
Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yg b.d bayi malas minum
Gangguan rasa nyaman (rewel) yg b.d efek invasi virus dlm sistem persyarafan
Kerusakan integritas kulit yg b.d lesi vesikel, pustula
Risiko perluasan dan penyebaran infeksi yg b.d kurangnya pengetahuan keluarga ttg risiko penularan dan cara pencegahannya

Kerusakan integritas kulit :
Mandikan bayi scr teratur.
Hindarkan bayi thd perluasan kerusakan kulit dg cara memberikan sarung tangan bayi, memotong kuku bayi.
Berikan bayi pakaian yg halus dan lembut
Pertahankan suhu ruangan tetap sejuk dg kelembaban yg adekuat
Berikan bedak antipruritus.

Risiko penyebaran dan perluasan infeksi :
Lakukan isolasi.

Prosedur strict isolation :
  1. Ruangan tersendiri, pintu selalu tertutup
  2. Gunakan masker, pakaian khusus dan sarung tangan bagi semua org yg masuk dlm ruangan
  3. Selalu cuci tangan sblm dan sesudah prosedur.
Pendidikan kesehatan
Berikan minum yg banyak.
Kuku bayi pendek dan gunakan sarung tangan bayi agar tidak melukai lesi dan kulit yg utuh
Penggunaan obat antipruritus secukupnya.
Keluarga hrs segera membawa bbl ke rs bila ditemukan tanda-tanda lesi herpes maupun varicella

Askep bayi baru lahir terinfeksi HIV



Oleh
Diyan Indriyani, M.Kep., Sp.Mat

Misteri AIDS
Semua Orang Bisa Terkena AIDS
Belum Ada Vaksin Pencegahannya Belum Ada Obatnya Penyebaranya Sangat Cepat
Pengetahuan tentang AIDS adalah langkah pertama untuk pencegahan penyebaran AIDS lebih meluas

Apa penyebab AIDS
Perkembangan AIDS tahun 2002
Setiap hari kasus bertambah kira-kira 8.500 kasus
Bayi yang lahir dengan HIV + lebih dari 400.000 bayi
Untuk orang dewasa bertambah kira-kira 7.000 kasus tiap hari
Sampai akhir tahun ada 28,7 juta kasus

Perkembangan AIDS di Indonesia
Pertama kali kasus ditemukan tahun 1987
Perkembangan tajam mulai tahun 1993
Jumlah kasus sampai bulan Juni 2003 mencapai 3647 kasus
60% kasus adalah usia produktif bangsa

Penularan HIV
HIV Dalam jumlah yang bisa menularkan ada di
CAIRAN SPERMA
CAIRAN VAGINA
DARAH
AIR SUSU IBU

Kegiatan yang menularkan:
Hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang terinfeksi HIV
Transfusi darah yang tercemar HIV
Mengunakan jarum suntik, tindik, tatto bersama-sama dengan penderita HIV dan tidak disterilkan
Dari Ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada janin yang di kandungnya


Fase dan gejala AIDS
Fase 1 (0 – 5 Tahun terinfeksi)
Tanpa Gejala (asimtomatik)
FASE II (5-7 TAHUN TEINFEKSI)
Muncul Gejala Minor:
Hilang selera makan, tubuh lemah, keringat berlebihan di malam hari, pembengkakan kelenjar getah bening, diare terus menerus, flu tidak sembuh-sembuh
FASE III (7 TAHUN ATAU LEBIH)
Masuk penyakit AIDS:
Kekebalan tubuh sudah sangat sedikit dan muncul infeksi oportunistik: TBC, Radang Paru, Gangguan Syaraf, Kaposi Sarkoma (kanker Kulit)

AIDS tidak menular lewat
Bersentuhan, senggolan, salaman, berpelukan, berciuman dengan penderita AIDS
Mengunakan peralatan makan bersama-sama dengan penderita AIDS
Gigitan nyamuk
Terkena keringat, air mata, ludah penderita AIDS
Berenang bersama-sama dengan penderita AIDS
Mengurangi Resiko Penularan

Bagi yang belum aktif melakukan kegiatan seksual: tidak melakukan hubungan seks sama sekali
Bagi yang sudah aktif melakukan kegiatan seksual: melakukan seks mitra tunggal, mengurangi mitra seks, menggunakan kondom, segera mengobati PMS kalau ada
Hanya melakukan transfusi darah yang bebas HIV
Mensterilkan alat-alat yang dapat menularkan: jarum suntik, tindik, tatto dll
Ibu yang terinfeksi HIV perlu mempertimbangkan lagi untuk tdk hamil

Apa yang bisa kita lakukan
Menerapkan informasi pada diri sendiri
Berperilaku bertanggung jawab
Menyebarkan informasi tentang AIDS kepada orang lain
Mendukung kegiatan pencegahan AIDS di lingkungannya

Tes HIV perlukah?
Konseling dan Tes HIV
HIV/AIDS
Merupakan kumpulan gejala yang merusak kekebalan tubuh manusia
Perkembangannya sangat cepat sekali terutama di negara berkembang
Melakukan tes HIV merupakan satu-satunya cara untuk mengetahuinya
Tidak gejala yang khas untuk mengetahuinya

Jenis Tes
Mendeteksi antibodi
Antibodi HIV diproduksi begitu menginfeksi oleh tubuh
Tes Elisa, tes sederhana/cepat dan tes konfirmasi
Mendeteksi virusnya

Prinsip
Sukarela
Tidak boleh ada tekanan oleh sebab apapun
Rahasia
Hasilnya hanya diketahui oleh yang tes dan konselor
Keputusan di tangan klien
Semua keputusan baik sebelum dan sesudah tes merupakan keputusan klien

Program yang Menyertai

Konseling sebelum dan setelah
Informed consent (persetujuan)
Kerahasiaan
Supervisi dan kontrol kualitas tes
Kegiatan untuk perawatan dan pendukung untuk ODHA (orang dengan HIV/AIDS)
HIV dan AIDS...
HIV: Human Immunodeficiency Virus, adalah virus menyerang dan bertahap merusak sistem immunitas badan dan berkembang menjadi AIDS.

AIDS: Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan tanda atau gejala berat dan kompleks yang disebabkan oleh penurunan respon immunitas tubuh.

“HIV tidak sama dengan AIDS”
Tahapan infeksi HIV
Tahap Serokonversi : infeksi awal, belum ada antibodi
Tahap Asimtomatik : belum ada gejala yang dirasakan
Tahap Simtomatik : Mulai merasakan gejala : Infeksi Oportunistik
Tahap AIDS

Perjalanan Infeksi HIV dan Komplikasi Umum


Pathway
Fase I
Virus HIV - sel dendrit - kelj getah bening - jaringan limfoid - virema dan sindroma HIV akut - keseluruh tubuh - respon imun adaptif - virema berkurang
Pathway
Fase II
Replikasi HIV & destruksi sel - penghancuran sel T CD4+ - fase kronik progresif.
Pathway
Fase III
Infeksi - respon imun - peningkatan produksi HIV - AIDs - destruksi seluruh jaringan limfoid perifer, penurunan jml sel T CD4 - virema HIV meningkat - infeksi opportunistik, neoplasma, gagal ginjal, degenari SSP

Prinsip penularan HIV
Prinsip Three Ones

  1. Ada orang yang positif HIV
  2. Ada kegiatan yang memungkinkan terjadinya pertukaran cairan tubuh
  3. Ada orang yang belum terinfeksi atau orang yang juga sudah terinfeksi HIV

Bagaimana HIV ditularkan?
  • Kegiatan Seksual tertentu
  • Kontak Darah
  • Kehamilan, kelahiran dan pemberian air susu ibu
  • Faktor terkait dengan penularan dari Ibu ke bayi
  • Jumlah virus dari Ibu yang positif
  • Tahapan HIV dari Ibu yang bersangkutan
  • Pemberian ASI
  • Kelahiran melalui vagina
  • Penularan HIV dari ibu ke bayi
  • Melalui plasenta pd berbagai usia kehamilan.
  • Masa intranatal melalui darah dan sekresi ibu.
  • Masa pascanatal melalui ASI, cairan tubuh ibu
Prevalensi
Kemungkinan 50%-60% pd bayi lahir dg ibu HIV.
Penularan bisa 20%-35%

HIV dapat dicegah melalui
  1. Menggunakan kondom untuk seks yang penetratif
  2. Tidak berbagi jarum suntik dan perlengkapan menyuntik
  3. Perawatan HIV bagi ibu yang positif, mengganti ASI dengan susu formula jika memungkinkan.
  4. Menapis darah dan produk darah

Pencegahan HIV dari ibu ke bayi dengan cara :
Perode antenatal : penggunaan antiretroviral selama kehamilan, agar vital load rendah shg jml virus yg ada dlm darah dan cairan tbh kurang efektif utk menularkan HIV
Saat melahirkan : penggunaan ARV saat persalinan dan BBL, persalinan sebaiknya SC (terbukti mengurangi risiko penularan 80%)
Setelah persalinan : informasi yg lengkap pd ibu ttg risiko ASI.

  • Wanita hamil dg HIV akan memproduksi antibodi IgG
  • IgG menembus plasenta ke janin
  • Darah tali pusat memberi hsl positif saat test ELISA (enzime linked immunosorbent assay)/western blot

Depresi fisiologis

BBL memproduksi respon antibodi yg tdk terlalu aktif
Lebih terbatas thd infeksi HIV
Bayi lahir dg ibu HIV seropositif : memiliki antibodiHIV saat lahir.
Bayi tdk terinfeksi akan kehilangan antibodi maternal sekitar 8-15 bl.
Sebagian besar bayi terinfeksi : mengembangkan antibodi mereka sendiri dan tetap seporopositif


Bayi yang memperlihatkan tanda2 infeksi saat lahir cenderung meninggal dlm satu bulan.

Penatalaksanaan
Meningkatkan kewaspadaan universal
Kewaspadaan utk membatasi prosedur invasif
Sirkumsisi pd anak laki2 dihindarkan saat lahir
Ujung tali pusat dibersihkan dg cermat tiap hr sampai pulih.
Terapi gamma globulin utk profilaksis
Medikasi antimikroba yg spesifik utk infeksi
Kortikosteroid jika terdpt pneumonitis interstisial limfoid.

Penatalaksanaan
Asuhan ibu : ikuti panduan Center for Disease Control (CDC) utk profilaksis antiretrovirus gestasional.

Asuhan keperawatan
Pengkajian bayi baru lahir berisiko :
Anamnesa : tanyakan faktor risiko (ibu dengan HIV positif dan hal-hal yg terkait)
Pemeriksaan fisik :
Sistem integumen :
Apakah bayi mengalami sianosis, mottling, pucat, terdpt lesi, ruam, insisi, kulit maserasi, edema, terdpt akses intravena

Sistem neurologi :apakah fontanel anterior cekung atau menonjol, terdpt bengkak pd kulit kepala, rentang gerak sendi terbatas, apakah tangisan lemah, letargi, bagaiman bayi berespon thd stimulus saat dipegang
Sistem pernapasan : apakah terdpt gerakan dinding dada yg tdk sama, suara nafas yg tdk sama, bunyi rales, ronkhi, wheezing, napas cuping hidung, apakah frekuensi napas diluar parameter normal.

Sistem cardiovaskuler : apakah ada ritme yg abnormal, nadi perifer yg tdk sama, CRT memanjang, apakah ht terlalu tinggi.
Sistem pencernaan : apakah abdomen distensi, apakah umbilikus meradang atau berair, apakah bising usus hipoaktif, hiperaktif atau tdk terdengar, diare
Sistem perkemihan : apakah bj urine rendah atau tinggi, apakah haluaran urine kurang dr 2 ml/kgBB/jam, apakah terdpt residu yg berlebihan.

Bayi baru lahir dengan HIV belum menunjukkan gejala yg khas, tapi pd perkembangannya akan memiliki gejala umum :
  • Gangguan tumbang
  • Kandidiasis oral
  • Diare kronis
  • Hepatosplenomegali
  • Hal yg mrpk pedoman diagnosis adalah melalui pemeriksaan diagnostik.

Diagnosa keperawatan
Risiko infeksi yg b.d peningkatan kerentanan sekuder terhadap perlemahan sistem imun.
Perubahan nutrisi kurang dr kebutuhan tbh yg b.d dg gangguan pencernaan
Kelemahan yg b.d defisiensi nutrisi
Ansietas (orgtua) yg b.d status bayi sakit

Rencana tindakan
Risti infeksi :
Tujuan : ibu dpt mengidentifikasi risiko infeksi, dpt memonitor faktor risiko yg ada disekitarnya, menunjukkan kemampuan utk mencegah terjadinya infeksi
Rencana tindakan :
  • Berikan informasi risiko infeksi apa saja yg dpt muncul
  • Ajarkan lifestyle yg sehat.
  • Lakukan universal precaution yg tepat saat prosedur tindakan

Nutrisi kurang :
Tujuan : nutrisi tubuh tercukupi sesuai usia bayi.
Rencana tindakan :
  • Informasikan pentingnya nutrisi yg adekuat utk bayi
  • Anjurkan utk menggantikan ASI dengan susu formula.

Kamis, 20 Mei 2010

INFEKSI TULANG (Osteomyelitis)



Bakteri pyogenik : PUSStaphylococcus Aureus (90%)
Streptococcus
Haemophylus Influensa
Mycobacterium tb : Granulomatous

Osteomyelitis Pyogenik
PRIMER : acute hematogenous (krn timbul sebagai komplikasi dari infeksi di tempat lain : faringitis, otitis media, impetigo)---- ikut aliran darah dan berhenti di Metaphysis tulang
SEKUNDER: operasi / luka

Osteomyelitis Pyogenik
ACUT HEMATOGENOUS :Anak-anak
Tulang Panjang
Hematogen
MetaphysisTrauma
Urut/ massage

GEJALA
  • Riwayat trauma (50%)
  • Nyeri tekan
  • Nyeri hebat
  • Functiolaesa
  • Tanda-tanda radang
  • Panas
  • Malaise
  • Anorexia


RONGTEN

Pembengkakan

Periosteal reaction (> 7 hari)

Scintigrafi / MRI / CT- Scan

Diagnosis Banding

  1. Cellulitis
  2. Osteosarcoma/Ewing sarcoma
  3. Rheumatif fever
  4. Lokal trauma





Penanganan
Perbaiki Kondisi umum
Infus
Diet TKTP
Bed Rest / kruk / splint / traksi

Terapi
Analgetik
Penicillin Derivat
Cephalosporin generasi I
AB ≈ kultur
Intravenous : 2 minggu, oral 4 minggu
Evakuasi pus bila 24 jam tidak ada perbaikan

Prognosis
Tergantung
Waktu terapi
<> 7 hari : dubia
Dosis antibiotik
Durasi terapi

Komplikasi

AWAL
- Sepsis
- Abses kronis
- Septic arthritis

LAMBAT
- Osteomyelitis kronis
- Degenerasi maligna
- Fraktur patologis
- Kontraktur
- Gangguan pertumbuhan

Osteomyelitis sekunder → kronis
Penyebab :
Operasi
Fraktur terbuka
Orif → Implant

Gejala ≈ Acut HEMATOGENOUS
Penanganan
- Gathering → Irigasi
- Cabut implant → ganti external fixasi
- Antibiotik :
- Interovenous
- Gentamycin

AMPUTASI

Amputasi


Merupakan perlakuan yang menyebabkan cacat menetap

Merupakan suatu titik awal kehidupan baru yang lebih bermutu
Amputasi dengan indikasi yang tepat tidak perlu disesalkan oleh dokter atau penderita
Indikasi amputasi adalah kelainan yang disebabkan penyakit pembuluh darah, cedera dan tumor ganas
Amputasi jarang dilakukan karena infeksi, kelainan bawaan, atau kelainan neurologik
Amputasi karena kelainan pembuluh darah sering pada orang tua, jarang pada orang dewasa
Amputasi karena tumor ganas sering pada anak-anak dan dewasa, sebagai upaya untuk mencegah penyebaran tumor
Amputasi tangan atau lengan hanya dilakukan pada cedera berat atau pada tumor ganas, karena protesis tangan sangat mengecewakan

baca Askep Amputasi

Batas amputasi

Batas amputasi ditentukan oleh luas dan jenis penyakit
Batas amputasi cedera ditentukan oleh peredaran darah yang adekuat
Batas amputasi tumor ganas ditentukan oleh daerah bebas tumor dan bebas risiko kekambuhan lokal
Batas amputasi penyakit pembuluh darah ditentukan oleh vaskularisasi sisa ekstremitas dan daya sembuh puntung
Umumnya batas amputasi dilakukan sedistal mungkin
Untuk ekstremitas bawah, untuk alasan protesis dipakai istilah batas amputasi klasik
Pada ekstremitas atas tidak dipakai batas amputasi tertentu, dianjurkan batas amputasi sedistal mungkin (setiap sentimeter harus diselamatkan)
Batas amputasi klasik

Eksartikulasi jari-jari
Transmetatarsal
Artikulasi pergelangan kaki (Syme)
Amputasi tungkai bawah (batas amputasi ideal)
Tungkai bawah batas amputasi minimal
Eksartikulasi lutut
Amputasi tungkai atas jarak minimal dari sela lutut
Amputasi tungkai atas (batas amputasi ideal)
Amputasi tungkai atas batas minimal
Eksartikulasi tungkai
Hemipelvektomi

Untuk mengatasi masalah paska amputasi, dapat digunakan protesis untuk menggantikan bagian ekstremitas yang hilang
Setelah amputasi selalu terdapat perasaan bagian ekstremitas yang hilang masih ada dan setiap penderita akan mengalami. Sebagian penderita merasa terganggu dan sebagian lagi merasa nyeri. Keadaan ini disebut Fenomena Fantom

Rabu, 19 Mei 2010

ASKEP PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI

HALUSINASI



A. Pengertian

Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) pasca indera tanpa adanyarangsangan dari luar yang dapat meliputi semua system penginderaan di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik.

Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi ini kadang-kadang menyenangkan misalnya bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain.

Menurut May Durant Thomas (1991) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa seperti: Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lingkungan. Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien dirumah sakit jiwa ditemukan 85% pasien dengan kasus halusinasi. Sehingga penulis merasa tertarik untuk menulis kasus tersebut dengan pemberian Asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi.

B. Klasifikasi
Klasifikasi halusinasi sebagai berikut :

a. Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada suara di sekitarnya.
b. Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada.
c. Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang di dapatkan. Pasien yang mengalami mengatakan mencium bau-bauan seperti bau bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak ada sumbernya.
d. Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau / hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di mulutnya.
e. Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaab ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi heptik.

C. Etiologi
Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi adapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis , psikologis , sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan , biologis , pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping.

D. Psikopatologi
Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum diketahui. Banyak teori yang diajukan yang menekankan pentingnya faktor-faktor psikologik, fisiologik dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa dalam keadaan terjaga yang normal otak dibombardir oleh aliran stimulus yang yang datang dari dalam tubuh ataupun dari luar tubuh. Input ini akan menginhibisi persepsi yang lebih dari munculnya ke alam sadar.Bila input ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai pada keadaan normal atau patologis, maka materi-materi yang ada dalam unconsicisus atau preconscious bisa dilepaskan dalam bentuk halusinasi.

Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan adanya keinginan yang direpresi ke unconsicious dan kemudian karena sudah retaknya kepribadian dan rusaknya daya menilai realitas maka keinginan tadi diproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus eksterna.

E. Tanda dan Gejala
Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering di dapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau bicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang di alaminya (apa yang di lihat, di dengar atau di rasakan).

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :

a. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan.

Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan.

b. Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.

c. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada.
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.

d. Memberi aktivitas pada pasien
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.

e. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.

F. Pengkajian
Pada tahap ini perawat menggali faktor-faktor yang ada dibawah ini yaitu :

a. Faktor predisposisi.
Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh baik dari pasien maupun keluarganya, mengenai factor perkembangan sosial kultural, biokimia, psikologis dan genetik yaitu factor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.

Faktor Perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stress dan kecemasan.

Faktor Sosiokultural
Berbagai faktor dimasyarakat dapat menyebabkan seorang merasa disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien di besarkan.

Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Dengan adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP).

Faktor Psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realitas.

Faktor genetik
Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia belum diketahui, tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.

b. Faktor Presipitasi
Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman / tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek yang ada dilingkungan juga suasana sepi / isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.

c. Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, prilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock, 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakekat keberadaan seorang individu sebagai mahkluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari dimensi yaitu :

1. Dimensi Fisik

Manusia dibangun oleh sistem indera untuk menanggapi rangsang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.

2. Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.

3. Dimensi Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol semua prilaku klien.

4. Dimensi Sosial
Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan adanya kecenderungan untuk menyendiri. Individu asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem control oleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.

5. Dimensi Spiritual
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, sehingga interaksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. Pada individu tersebut cenderung menyendiri hingga proses diatas tidak terjadi, individu tidak sadar dengan keberadaannya dan halusinasi menjadi sistem kontrol dalam individu tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya individu kehilangan kontrol kehidupan dirinya.

d. Sumber Koping
Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu dapat mengatasi stress dan anxietas dengan menggunakan sumber koping dilingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya, dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil.

f. Mekanisme Koping
Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri

G. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul
a. Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan
dengan halusinasi.
b. Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri
c. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

H. Intervensi
a. Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan
dengan halusinasi
Tujuan : Tidak terjadi perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain.
Kriteria Hasil :
1. Pasien dapat mengungkapkan perasaannya dalam keadaan saat ini secara verbal.
2. Pasien dapat menyebutkan tindakan yang biasa dilakukan saat halusinasi, cara memutuskan halusinasi dan melaksanakan cara yang efektif bagi pasien untuk digunakan
3. Pasien dapat menggunakan keluarga pasien untuk mengontrol halusinasi dengan cara sering berinteraksi dengan keluarga.

Intervensi :
a. Bina Hubungan saling percaya
b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya.
c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati
d. Adakan kontak secara singkat tetapi sering secara bertahap (waktu disesuaikan dengan kondisi klien).
e. Observasi tingkah laku : verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasi.
f. Jelaskan pada klien tanda-tanda halusinasi dengan menggambarkan
tingkah laku halusinasi.
g. Identifikasi bersama klien situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi, isi, waktu, frekuensi.
h. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya saat
alami halusinasi.
g. Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan bila sedang
mengalami halusinasi.
h. Diskusikan cara-cara memutuskan halusinasi
i. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan cara memutuskan halusinasi yang sesuai dengan klien.
j. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok
k. Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga ketika mengalami
halusinasi.
l. Diskusikan dengan klien tentang manfaat obat untuk mengontrol
halusinasi.
m. Bantu klien menggunakan obat secara benar.

b. Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri
Tujuan : Klien mampu mengontrol halusinasinya
Kriteria Hasil :
1. Pasien dapat dan mau berjabat tangan.
2. Pasien mau menyebutkan nama, mau memanggil nama perawat dan mau duduk bersama.
3. Pasien dapat menyebutkan penyebab klien menarik diri.
4. Pasien mau berhubungan dengan orang lain.
5. Setelah dilakukan kunjungan rumah klien dapat berhubungan secara bertahap dengan keluarga

Intervensi :
a. Bina hubungan saling percaya.
b. Buat kontrak dengan klien.
c. Lakukan perkenalan.
d. Panggil nama kesukaan.
e. Ajak pasien bercakap-cakap dengan ramah.
f. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
serta beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaan penyebab pasien tidak mau bergaul/menarik diri.
g. Jelaskan pada klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta yang mungkin jadi penyebab.
h. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan.
i. Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan.
j. Perlahan-lahan serta pasien dalam kegiatan ruangan dengan melalui
tahap-tahap yang ditentukan.
k. Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai.
l. Anjurkan pasien mengevaluasi secara mandiri manfaat dari berhubungan.
m. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan pasien mengisi waktunya.
n. Motivasi pasien dalam mengikuti aktivitas ruangan.
o. Beri pujian atas keikutsertaan dalam kegiatan ruangan.
p. Lakukan kungjungan rumah, bina hubungan saling percaya dengan
keluarga.
q. Diskusikan dengan keluarga tentang perilaku menarik diri, penyebab
dan car a keluarga menghadapi.
r. Dorong anggota keluarga untuk berkomunikasi.
s. Anjurkan anggota keluarga pasien secara rutin menengok pasien minimal
sekali seminggu.

c. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
Tujuan : Pasien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap.
Kriteria Hasil :
1. Pasien dapat menyebutkan koping yang dapat digunakan
2. Pasien dapat menyebutkan efektifitas koping yang dipergunakan
3. Pasien mampu memulai mengevaluasi diri
4. pasien mampu membuat perencanaan yang realistik sesuai dengan
kemampuan yang ada pada dirinya
5. Pasien bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang dilakukan sesuai
dengan rencanan

Intervensi :
a. Dorong pasien untuk menyebutkan aspek positip yang ada pada
dirinya dari segi fisik.
b. Diskusikan dengan pasien tentang harapan-harapannya.
c. Diskusikan dengan pasien keterampilannya yang menonjol selama di
rumah dan di rumah sakit.
d. Berikan pujian.
e. Identifikasi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh pasien
f. Diskusikan koping yang biasa digunakan oleh pasien.
g. Diskusikan strategi koping yang efektif bagi pasien.
h. Bersama pasien identifikasi stressor dan bagaimana penialian pasien
terhadap stressor.
i. Jelaskan bahwa keyakinan pasien terhadap stressor mempengaruhi
pikiran dan perilakunya.
j. Bersama pasien identifikasi keyakinan ilustrasikan tujuan yang tidak
realistic.
k. Bersama pasien identifikasi kekuatan dan sumber koping yang dimiliki
l. Tunjukkan konsep sukses dan gagal dengan persepsi yang cocok.
m. Diskusikan koping adaptif dan maladaptif.
n. Diskusikan kerugian dan akibat respon koping yang maladaptive.
o. Bantu pasien untuk mengerti bahwa hanya pasien yang dapat merubah
dirinya bukan orang lain
p. Dorong pasien untuk merumuskan perencanaan/tujuannya sendiri
(bukan perawat).
q. Diskusikan konsekuensi dan realitas dari perencanaan / tujuannya.
r. Bantu pasien untuk menetpkan secara jelas perubahan yang diharapkan.
s. Dorong pasien untuk memulai pengalaman baru untuk berkembang
sesuai potensi yang ada pada dirinya.



DAFTAR PUSTAKA
Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen Yan. Kes. Dep. Kes R.I. Keperawatan Jiwa. Teori
dan Tindakan Keperawatan Jiwa, , 2000
Keliat Budi, Anna, Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa, EGC,
, 1995
Keliat Budi Anna, dkk, Proses Keperawatan Jiwa, EGC, , 1987
Maramis, W.F, Ilmu Kedokteran Jiwa, Erlangga Universitas Press, , 1990
Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga, CV.
Sagung Seto, , 2001.
Residen Bagian Psikiatri UCLA, Buku Saku Psikiatri, EGC, 1997
Stuart & Sunden, Pocket Guide to Psychiatric Nursing, EGC, , 1998