Selasa, 25 Mei 2010

ANTIBIOTIKA




Pengertian

Adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme hidup, terutama fungi/jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain termasuk turunan yang dibuat secara sintetik dan dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme
Antibiotika harus memiliki toksisitas selektif : membunuh mikroorganisme penginvasi tetapi tidak merusak host.

Yang harus selalu diingat, antibiotika hanya ampuh dan efektif membunuh bakteri tetapi tidak dapat membunuh virus. Karena itu, penyakit yang dapat diobati dengan antibiotika adalah penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Penggolongan
1. Berdasarkan daya kerja : bakterisid (pada dosis biasa berkhasiat mematikan kuman, Contoh : pensisilin, sefalosporin, dll), bakteriostatik (pada dosis biasa berkhasiat menghentikan/menghambat pertumbuhan kuman, contoh : sulfonamida, kloramfenikol)
2. Berdasarkan struktur kimia : beta laktam (penisilin, sefalosporin), aminoglikosida, kloramfenikol, tetrasiklin, rifampisin, makrolida, polien, antibiotika lain

2. Berdasarkan Mekanisme kerja
Menghambat sintesis dinding sel atau mengaktivasi enzim yang merusak dinding sel mikroba shg menghilangkan kemampuan untuk berkembang biak, lisis (penisilin, sefalosporin, sikloserin, basitrasin)
Antibiotika yang bekerja langsung thd membran sel, mempengaruhi permeabilitas sehingga menimbulkan kebocoran dan menghilangkan senyawa intraseluler (polimiksin, nistatin, amfoterisin)

Antibiotika yang mengganggu fungsi ribosom bakteri, menyebabkan inhibisi sintesis protein (kloramfenikol, tetrasiklin, eritromisin, dll)
Antibiotika yang mengganggu pembentukan asam-asam inti (DNA,RNA) : rifampisin, kuinolon
Antagonisme saingan yaitu menyaingi zat-zat yang penting untuk metabolisme bakteri (sulfonamid, trimetoprim)

4. Berdasarkan sasaran kerja

Zat dengan aktivitas sempit (narrow spektrum) terutama aktif untuk beberapa jenis bakteri saja. Aktif untuk bakteri gram positif (penisilin G, V, kanamisin, eritromisin). Aktif untuk bakteri gram negatif (streptomisin, gentamisin, dll)
Zat dengan aktivitas luas (broad spektrum) baik gram positif maupun gram negatif (penisilin, sefalosporin, dll)

Efek samping
Sensitasi/hipersensitif
Resistensi
Super infeksi

Seleksi Obat Antimikroba
Dasar pertimbangan (ideal) :
Identifikasi & sensitivitas organisme,
Tempat infeksi,
Status pasien (umur, BB, keadaan patologis, kehamilan & laktasi),
Keamanan antibiotik,
Biaya.


Dalam prakteknya :
Terapi empirik sebelum identifikasi organisme.
Berdasar bukti-bukti ilmiah & pengalaman, dengan mempertimbangkan : mengutamakan obat bakterisid, memilih obat dengan daya penetrasi baik (jaringan tubuh, sistem saraf pusat), memilih obat dengan frekuensi pemberian rendah (drug compliance), mengutamakan obat dengan pengikatan protein rendah, tidak merutinkan penggunaan antibiotik mutakhir (misalnya sefalosporin gen-3) agar terjamin ketersediaan antibiotik yang lebih efektif bila dijumpai resistensi)

Pemberian AB

Dosis : kadar obat di tempat infeksi harus melampaui MIC kuman. Untuk mencapai kadar puncak obat dlm darah, kalau perlu dengan loading dose (ganda) dan dimulai dengan injeksi kemudian diteruskan obat oral.
Frekuensi pemberian : tergantung waktu paruh (t½ obat. Bila t½ pendek, maka frekuensi pemberiannya sering.
Lama terapi : harus cukup panjang untuk menjamin semua kuman telah mati & menghindari kekambuhan. Lazimnya terapi diteruskan 2-3 hari setelah gejala penyakit lenyap.

Kombinasi AB

Pemberian AB tunggal lebih dianjurkan untuk :
Organisme penyebab infeksi spesifik.
Menurunkan kemungkinan superinfeksi.
Menurunkan resistensi organisme.
Mengurangi toksisitas

Pemberian Antibiotik kombinasi untuk keadaan khusus :
Infeksi campuran.
Ada risiko resistensi organisme, misalnya pada TBC.
Keadaan yang membutuhkan AB dengan dosis besar, misalnya sepsis, dan etiologi infeksi yang belum diketahui.

Keuntungan AB Kombinasi

Efek sinergistik / potensiasi, misalnya :
a) Betalaktam + Aminoglikosid; b) Kotrimoksazol (Sulfametoksazol + Trimetoprim)
Mengatasi & mengurangi resistensi, misalnya : a) Amoksisilin + Asam klavulanat; b) Obat-obat TBC
Mengurangi toksisitas, misalnya : Trisulfa + sitostatika.

Kerugian Pemberian Antibiotik kombinasi :
Antagonisme pada penggunaan bakteriostatika & bakterisid yang bekerja pada fase tumbuh.

Resistensi Obat
Bila pertumbuhan bakteri tidak dapat dihambat oleh antibiotik pada kadar maksimal yang dapat ditolerir host.
Penyebab resistensi :
Perubahan genetik,
Mutasi spontan DNA,
Transfer DNA antar organisme (konjugasi, transduksi, transformasi),
Modifikasi tempat target,
Menurunnya daya penetrasi obat (adanya lapisan polisakarida, adanya sistem refluks),
Inaktivasi oleh enzim.

Pencegahan resistensi
Penggunaan AB hanya sesuai indikasi dan dosis yg tepat,jangka waktu cukup
Pembatasan penggunaan AB spektrum luas
Penggunaan AB di rumah sakit pada waktu tertentu sebaiknya dibatasi pada jenis jenis AB tertentu
Aplikasi penggunaan AB, khususnya di bidang peternakan perlu dibatasi

Antibiotika Profilaktik

Pemberian antibiotik untuk pencegahan infeksi, bukan untuk pengobatan infeksi.
Lama pemberian ditentukan oleh lamanya risiko infeksi.
Dapat timbul resistensi bakteri & superinfeksi.

Komplikasi Terapi AB

Hipersensitivitas, misalnya pada pemberian Penisilin berupa reaksi alergi ringan (gatal-gatal) hingga syok anafilaktik.
Toksisitas langsung, misalnya pada pemberian Aminoglikosid berupa ototoksisitas.
Superinfeksi, misalnya pada pemberian antibiotik spektrum luas atau kombinasi akan menyebabkan perubahan flora normal tubuh sehingga pertumbuhan organisme lain seperti jamur menjadi berlebihan dan resistensi bakteri.

Efek Samping
Reaksi hipersensitifitas dan dermatologi : shock, rash, urtikaria, eritema, pruritis, udema,
Hematologi : pendarahan, trombositopenia, anemia hemolitik Hematologi : pendarahan, trombositopenia, anemia hemolitik
Reaksi toksik
ex: tetrasiklin dapat mengganggu pertumbuhan tulang, gigi, hepatotoksik
Perubahan biologik dan metabolik

Kontra Indikasi
Hipersensitivitas pada antibiotik sefalosporin atau golongan betalaktam lainnya. Sebelum penggunaan antibiotik sefalosporin, terlebih dahulu dilakukan skin tes

Antibiotika dapat digolongkan sebagai berikut :

Antibiotika golongan aminoglikosid, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.
Antibiotika golongan sefalosforin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
Antibiotika golongan klorampenikol, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.
Antibiotika golongan makrolida, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri. Ex : Eritromisin
Antibiotika golongan penisilin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan.
Antibiotika golongan beta laktam golongan lain, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
Antibiotika golongan kuinolon, bekerja dengan menghambat satu atau lebih enzim topoisomerase yang bersifat esensial untuk replikasi dan transkripsi DNA bakteri. Ex : Siprofloksasin
Antibiotika golongan tetrasiklin, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.

Aminoglikosida
Efektif untuk bakteri gram –
Mekanisme kerja : menghambat sintesis sel bakteri
Sifat : bakterisidal
Efek samping : alergi, iritasi, ototoksik, nefrotoksik
Jenis : streptomisin, gentamisin, kanamisin, neomisin, amikasin, tobramisin, paromomisin
Indikasi : aerob gram -, Pseudomonas
Kontraindikasi : kehamilan, gangguan ginjal

Sefalosporin
Mekanisme menghambat sintesis dinding sel
Aktivitas bersifat bakterisid dengan spektrum luas terhadap gram positif dan negatif
Sefalosporin hanya digunakan untuk infeksi yang berat atau tidak dapat diobati dengan antimikroba yang lain


Kloramfenikol
Mekanisme kerja : menghambat sintesis protein kuman
Sifat : bakteriostatik
Spektrum antibakteri luas
Indikasi : demam tifoid, meningitis purulenta, riketsiosis, kuman anaerob
Efek samping : depresi sumsum tulang, alergi, reaksi sal.cerna, sindrom Gray, reaksi neurologik
Kontrindikasi : neonatus, gangguan faal hati, penderita yang hipersensitif

Penisilin
Antibiotika pertama yang ditemukan oleh Alexander Fleming
Mekanisme kerja : menghambat sintesis dinding sel bakteri sehingga bakteri lisis
Dapat terjadi resistensi bakteri dimana bakteri membentuk enzim betalaktamase atau berubah menjadi bakteri huruf L

Derivat Penisilin
Penisilin spektrum sempit
1. Benzil penisilin
Tidak tahan asam lambung, penggunaan secara injeksi
Fenoksimetil penisilin
Tahan terhadap asam lambung, pemberian sebaiknya sebelum makan
Penisilin tahan penisilinase
Aktivitas lebih ringan dari Penisilin G, cth kloksasilin, dikloksasilin, flukloksasilin.
Penisilin spektrum luas
Ampisilin, amoksilin

Sulfonamide
Aktivitas : spektrum antibakteri luas baik gram (+) maupun (-) yg peka, ct : Str. Pyogenes, E.coli, B. anthracis, v. cholerae, C. trachomatis, C. diphteriae
Bersifat bakteriostatik
Mekanisme kerja :antagonisme kompetitif PABA (para amino benzoid acid) dan sulfa
Sediaan : oral, parenteral, topikal
Efek samping : reaksi alergi, agranulositosis, trombositopeni, gangguan saluran kemih

Kotrimoksazole
Kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol
Spektrum antibakteri luas, ct : S. aureus, Str. Pneumoniae, N. meningitis, E. coli
Mekanisme kerja : sulfonamid menghambat masuknya PABA ke molekul asam folat, trimetoprim menghambat tjdnya reaksi reduksi dihidrofolat mjd tetrahidrofolat
Sediaan : tablet, suspensi, tablet pediatrik
Indikasi : ISK, infeksi saluran napas, infeksi gonokokal akut, shigellosis
Efek samping : alergi, mual, anemia, stomatitis

Tetrasiklin
Spektrum : luas, baik gram + atau -, aerob, anaerob, spirochaeta, klamiidia, riketsia
Derivat : tetrasiklin, klortetrasiklin, oksitetrasiklin, demeklosiklin, rolitetrasiklin, doksisiklin, minosiklin, limesiklin
Indikasi : infeksi klamidia, riketsia, mikoplasma, gonore, kokus, kollera
Efek samping : reaksi kepekaan, toksik dan iritatif
Sediaan : tablet, kapsul, sirup, salep, pulveres

Tuberkulostatik
Streptomisin
Bersifat bakteriostatik terhadap M. tuberkulosis
Waktu paruh obat 2-3 jam
Sediaan : bubuk injeksi 1 & 5 gram
Efek samping : sakit kepala, malaise, reaksi alergi
Untuk mengobati tuberkulosis harus diberikan kombinasi dengan obat lain

Isoniazid/INH

Invitro bersifat tuberkulostatik dan tuberkulosid pd kuman yang tumbuh aktif
Mekanisme kerja : menghambat sintesis dinding sel mikobakteria
Mudah diabsorbsi pada pemberian oral maupun parenteral
Efek samping : demam, urtikaria, anemia, neuritis perifer, hepatotoksik, mulut kering
Sediaan : tablet 50, 100, 300 dan 400mg, sirup 10 mg/ml

Rifampisin
Mekanisme kerja : menghambat polimerase RNA mikobakteria
Rifampisin meninggikan aktivitas streptomisin dan isoniazid
Efek samping: kemerahan, demam, mual, muntah, urtikaria, ikterus, anemia
Merupakan pemacu metabolisme obat yg cukup kuat, misalnya obat hipoglikemik oral, kortikosteroid, kontrasepsi oral
Sediaan : kapsul 150 dan 300 mg, tablet 450 dan 600 mg, suspensi 100 mg/5 ml

Etambutol
Bersifat tuberkulostatik
Resistensi dapat terjadi jika tidak dikombinasikan dengan obat lain
Efek samping : peningkatan kadar asam urat, neuritis optik, pruritus
Sediaan : tablet 250 mg dan 500 mg

Pirazinamid
Bersifat tuberkulostatik
Efek samping : kelainan hati, muntah, naussea
Bekerja pada suasana asam

Leprostatik
Sulfon
Derivat 4.4 diamino difenil sulfon (DDS, dapson)
Bersifat bakteriostatik
Mekanisme kerja : sama dengan sulfonamid
Pengobatan harus dimulai dengan dosis kecil baru dinaikkan perlahan
Merupakan sediaan terpilih untuk semua bentuk lepra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar