Sabtu, 17 April 2010

Asuhan Keperawatan
1.1 Latar Belakang
Penyakit herpes selama ini dianggap sebagai penyakit "kotor" karena berkaitan dengan aktivitas seksual yang tidak sehat. Padahal, tidak semua penyakit herpes disebabkan oleh kegiatan seksual. Dalam dunia media, penyakit herpes merupakan bentuk lain dari penyakit cacar. Ini merupakan peradangan kulit yang ditandai oleh pembentukan gelembung-gelembung berisi air secara berkelompok. Penyakit herpes merupakan salah satu penyakit yang bisa menular lewat hubungan seksual.

Sementara itu, herpes zoster atau shingles disebabkan oleh Virus Varisela Zoster. Gelembung cairan herpes zoster dapat timbul di mana saja di seluruh bagian tubuh. Jenis herpes yang juga dikenal dengan nama cacar ular ini disebut sebagai lanjutan penyakit cacar air. Pasalnya, jenis virus yang menyerang sama. Hanya saja, pada herpes zoster, gelembung cairan lebih besar dan berkelompok di bagian tertentu. Setiap orang yang pernah terkena cacar air berpotensi terkena herpes zoster.

Herpes simpleks dikenal juga dengan nama herpes febrilis, herpes labialis, herpes genitalia, fever blister, atau cold sore. Penyebabnya adalah virus herpes simpleks atau Herpes Virus Hominis (HVH) tipe-1 atau tipe-2. Faktor pencetusnya antara lain kondisi emosional, menstruasi, hubungan seksual, stres psikis, asupan minuman beralkohol, serta konsumsi makanan pedas atau daging kambing.

1.2 Rumusan Masalah
Apakah yang disebut herpes ?
Bagaimana etiologinya ?
Bagaimana Penatalaksaan asuhan keperawatannya ?

1.3 Tujuan
Dengan adanya makalah asuhan keperawatan herpes ini, mahasiswa mampu menjelaskan definisi herpes, baik herpes zoster maupun herpes simplek serta dapat mengetahui tata cara penanganannya dengan asuhan keperawatan yang benar dan tidak keluar dari etika keperawatan.


BAB 2
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Herpes Zoster
adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer.

Herpes Simplek
Penyakt infeksiosa dan kontagiosa yang disebabkan oleh virus herpes simplek tipe 1 dan 2 dengan kecenderungan menyerang kulit-mukosa (orofasial , genital), terdapat kemungkinan manifestasi ekstrakutan dan cenderung untuk residif karena sering terjadi persintensi virus. Derajat penularannya tinggi, tetapi karena patogenitas dan daya tahan terhadap infeksi baik, maka infeksi ini sering berjalan tanpa gejala atau gejala ringan, subklinis atau hanya local. ( Rassner Dermatologie Lehrbuch und atlas, 1995)

B. Etiologi
Herpes zoster :
Reaktivasi virus varisela zoster
Herpes Simplek :
Virus herpes simpleks ( VHS ) tipe 1 dan tipe 2 adalah virus herpes hominis yang termasuk virus DNA.

C. Patofisiologi
Herpes Zoster
Virus ini berdiam di ganglion posterior susunan syaraf tepi dan ganglion kranalis kelainan kulit yang timbul memberikan lokasi yang setingkat dengan daerah persyarafan ganglion tersebut. Kadang virus ini juga menyerang ganglion anterior, bagian motorik kranalis sehingga memberikan gejala-gejala gangguan motorik

Herpes Simpleks
. Belum jelas, ada kemungkinan :
- Infeksi primer akibat transmisi virus secara langsung melalui jalur neuronal dari
perifer ke otak melalui saraf Trigeminus atau Offactorius. Faktor precipitasi
adalah penurunan sistim imun host.
- Reaktivitas infeksi herpes virus laten dalam otak.
- Pada neonatus penyebab terbanyak adalah HSV-2 yang merupakan infeksi
dari secret genital yang terinfeksi pada saat persalinan.

D. Tanda dan Gejala
Herpes Zoster
Daerah yang paling sering terkena adalah daerah thorakal. Frekuensi penyakit ini pada pria dan wanita sama. Sedangkan mengenai umur lebih sering pada orang dewasa.
Sebelum timbul gejala kulit terhadap gejala prodromal baik sistemik seperti demam, pusing, malaise maupun lokal seperti nyeri otot-tulang, gatal, pegal dan sebagainya. Setelah timbul eritema yang dalam waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit yang eritema dan edema. Vesikel ini berisi cairan jernih kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu) dapat menjadi pastala dan krusta. Kadang vesikel mengandung darah yang disebut herpes zoster haemoragik dapat pula timbul infeksi sekunder sehingga menimbulkan ulkus dengan penyembuhan berupa sikatriks.

Massa tunasnya 7-12 hari. Massa aktif penyakit ini berupa lesi-lesi baru yang tetap timbul berlangsung kurang lebih 1-2 minggu. Disamping gejala kulit dapat juga dijumpai pembesaran kelenjar geth bening regional. Lokalisasi penyakit ini adalah unilateral dan bersifat dermatomal sesuai dengan tempat persyarafan. Pada susunan saraf tepi jarang timbul kelainan motorik tetapi pada susunan saraf pusat kelainan ini lebih sering karena struktur ganglion kranialis memungkinan hal tersebut. Hiperestesi pada daerah yang terkena memberi gejala yang khas. Kelainan pada muka sering disebabkan oleh karena gangguan pada nervus trigeminus atas nervus fasialis dan otikus.

Herpes zoster oftalmikus disebabkan oleh infeksi cabang-cabang pertana nervus trigeminus. Sehingga menimbulkan kelainan pada mata, disamping itu juga cabang kedua dan ketiga menyebabkan kelainan kulit pada daerah persyarafannya. Sindrom Ramsay Hunt diakibatkan oleh gangguan nervus fasalis dan otikus sehingga menyebabkan pengelihatan ganda paralisis otot muka (Paralisis Bell), kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat persyarafan, tinnitus vertigo, gangguan pendengaran, nistagmus, nausea, dan gangguan pengecapan. Herpes zoster abortif artinya penyakit ini berlangsnug dalam waktu yang singkat dan kelainan kulit hanya berupa vesikel dan eritema. Pada Herpes Zoster generalisata kelainan kulitnya unilateral dan segmental ditambah kelainan kulit yang menyebar secara generalisa berupa vesikel yang solitar dan ada umbilikasi. Nauralgia pasca laterpetik adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan. Nyeri ini dapat berlangsung sampai beberapa bulan bahkan bertahun-tahun dengan gradasi nyeri yang bervariasi. Hal ini cenderung dijumpai pada usia lebih dari 40 tahun.

Herpes simpleks
Masa inkubasi umunya berkisar antara 3-7 hari, tapi dapat lebih lama
• Infeksi primer
Berlangsung kira-kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, malaise, anoreksia, dan dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening regional.
Tempat predileksi VHS tipe 1 di daerah pinggang ke atas terutama di daerah mulut dan hidung, bisaanya dimulai pada usia anak – anak. Inkolasi dapat terjadi secara kebetulan, musalna kontak kulit pada perawata . dokter gigi, atau pada orang yang sering menggigit jari. Virus ini juga sebagai penyebab herpes ensefalitis.
Tempat predileksi VHS tiper 2 di daerah pinggang ke bawah, terutama di daerah genital, juga dapat menyebabkan herpes meningitis dan infeksi neonatus.
Cara hubungan seksual orogenital, dapat menyebabkan herpes pada daerah genital yang disebabkan oleh VHS tipe 1 atau di daerah mulut dan rongga mulut yang disebabkan VHS tipe 2
• Fase Laten
Tidak ditemukan gejala klinism tetapi VHS dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis. Penularan dapat terjadi pada fase ii, akibat pelepasan virus terus berlangsung meskipun dalam jumlah sedikit.

• Infeksi Rekurens
Reaktivasi VHS pada ganglion dorsalis mencapai klit sehingga menimbulkan gejala klinis. Dapat dipicu oleh trauma fisik. Obat-obatan, menstruasi, dan dapat pula timbul akibat jenis makan dan minuman yang merangsang.

Gejala klinis yang timbul lebih ringan daripada infeksi primer dan berlangsung kira-kira 7-10 hari. Sering ditemukan gejala prodromal local sebelum timbul vesikel, berupa rasa panas, gatal, dan nyeri. Dapat timbul pada tempat yang sama(loco) atau tempat lain/temat disekitarnya (non loco).

E. Pemeriksaan Penunjang
Herpes Zoster
Pada pemeriksaan percobaan Tzanck dapat ditemukan sel datia berinti banyak

Herpes Simpleks
Virus herpes dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibia. Jika tidak ada lesi dapat diperiksa antibody VHS. Pada percobaan Tzanck denga perwarnaan Giemsa dari bahan vesikel dapat ditemukan sel datia berinti banyka dan badan inklusi intranuklear.

F. Komplikasi
Herpes Zoster :
Pada usia lanjut lebih dari 40 tahun kemungkinan terjadi neuralgia pasca herpetik.

Herpes Simpleks
- Infeksi bakteri sekunder/
- Eritema multiforme portherpetika

G. Penatalaksanaan

Herpes Zoster
Terapi sistemik umumnya bersifat simtonatik, untuk nyerinya diberikan analgetik, jika disertai infeksi sekunder diberikan antibiotik.
Pada herpes zoster oftalmikus mengingat komplikasinya diberikan obat antiviral atau imunostimulator. Obat-obat ini juga dapat diberikan pada penderita dengan defisiensi imunitas.
Indikasi pemberian kortikosteroid ialah untuk Sindrom Ramsay Hunt. Pemberian harus sedini-dininya untuk mencegah terjadinya parasialis. Terapi seirng digabungkan dengan obat antiviral untuk mencegah fibrosis ganglion.
Pengobatan topical bergantung pada stadiumnya. Jika masih stadium vesikel diberikan bedak dengan tujuan protektif untuk mencegah pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder bila erosit diberikan kompres terbuka. Kalau terjadi ulserasi dapat diberikan salep antibiotik.

Herpes Simpleks
1. Medikamentosa
• Belum ada terapi radikal
• Pada episode pertama, berikan:
- Asiklovir 200mg per oral 5 kali sehari selama 7 hari, atau
- Asiklovir 5 mg/kg BB , Intravena tiap 8 jam selama 7 hari ( bila gejala sistemik berat), atau
- Preparat isoprinoson sebagai imunomodulator , atau
- Asklovir parenteral atau preparat adenine arainosid ( vitarabin) untuk penyakit yang lebih berat atau timbul komplikasi pada alat dalam.
• Pada episode rekurensi, umumnya tidak perlu diobati karena bisa membaik, namun bila perlu dapat di obati dengan krim asiklovir. Bila pasien dengan gejala berat dan lama, berikan asiklovir 200mg peroral 5 kali sehari, selam 5 hari. Jika timbul ulserasi dapat dilakkkan kompres.

2. Nonmedikamentosa
Memberikan pendidikan kepada pasien denga menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
- Bahaya PMS dan komplikasinya
- Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
- Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
- Hindari hubungan seksual sebelum sembuh , dan memakai kondom jika tak dapat menghindari lagi
- Cara – cara menghindari infeksi PMS di masa dating berlangsung lebih singkat dan rekurens lebih panjang.


 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Data Subyektif
Demam, pusing, malaise, nyeri otot-tulang, gatal dan pegal, hipenestesi.
Data Obyektif
Eritema, vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit yang eritema dan edema. Vesikel berisi cairan jernih kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu) dapat menjadi pustule dan krusta. Kadang vesikel mengandung darah, dapat pula timbul infeksi sekunder sehingga menimbulkan aleus dengan penyembuhan berupa sikatrik.
Dapat pula dijumpai pembesaran kelenjar lympe regional. Lokalisasi penyakit ini adalah unilateral dan bersifat dermafonal sesuai dengan tempat persyarafan.
Paralitas otot muka
Data Penunjang
Pemeriksaan percobaan Tzanck ditemukan sel datia berinti banyak.

B. Diagnosa Keperawatan
• Gangguan rasa nyaman nyeri s.d infeksi virus
• Gangguan integritas kulit s.d vesikel yang mudah pecah
• Cemas s.d adanya lesi pada wajah
• Potensial terjadi penyebaran penyakit s.d infeksi virus

C. Rencana
No Diagnosa
Keperawatan Perencanaan Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri s.d infeksi virus, ditandai dengan :
DS : pusing, nyeri otot, tulang, pegal
DO: erupsi kulit berupa papul eritema, vseikel, pustula, krusta Tujuan :
Rasa nyaman terpenuhi setelah tindakan keperawatan
Kriteria hsil :
Rasa nyeri berkurang/hilang
Klien bisa istirahat dengan cukup
Ekspresi wajah tenang Kaji kualitas & kuantitas nyeri
Kaji respon klien terhadap nyeri
Jelaskan tentang proses penyakitnya
Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
Hindari rangsangan nyeri
Libatkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang teraupeutik
Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program
2. Gangguan integritas kulit s.d vesikel yang mudah pecah, ditandai dengan :
DS : -
DO: kulit eritem vesikel, krusta pustula Tujuan :
Integritas kulit tubuh kembali dalam waktu 7-10 hari
Kriteria hasil :
Tidak ada lesi baru
Lesi lama mengalami involusi Kaji tingkat kerusakan kulit
Jauhkan lesi dari manipulasi dan kontaminasi
Kelola tx topical sesuai program
Berikan diet TKTP
3. Cemas s.d adanya lesi pada wajah, ditandai dengan :
DS : klien menyatakan takut wajahnya cacat
DO : tampak khawatir lesi pada wajah Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan cemas akan hilang/berkurang
Kriteria hasil :
Pasien merasa yakin penyakitnya akan sembuh sempurna
Lesi tidak ada infeksi sekunder Kaji tingkat kecemasan klien
Jalaskan tentang penyakitnya dan prosedur perawatan
Tingkatkan hubungan teraupeutik
Libatkan keluarga untuk member dukungan
4. Potensial terjadi penyebaran penyakit s.d infeksi virus Tujuan :
Setelah perawatan tidak terjadi penyebaran penyakit Isolasikan klien
Gunakan teknik aseptic dalam perawatannya
Batasi pengunjung dan minimalkan kontak langsung
Jelaskan pada klien/keluarga proses penularannya


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Herpes Merupakan Penyakit menular dan infeksius yang bisa menyerang seseorang dimana saja dan kapan saja. Jadi herpes bukan merupakan penyakit yang dianggap masyarakat sebagai penyakit “kotor” karena herpes menular tidak saja dengan hubungan seksual namun kontak langsung dengan virus ini ditempat lain juga bisa tertular. Misalnya makan makanan yang tidak bersih dan terkontaminasi virus herpes atau mungking terpapar, tersentuh, kontak langsung dengan penderita herpes.

3.2 Saran
Taati UP ( universal precausion ) dengan baik. Gunakan pengaman jika terpaksa kontak dengan penderita herpes. Makanlah makanan yang bersih dan pastikan bahwa makanan tersebut sudah benar – benar masak. Jika ada penderita yang belum tertangani, segera tangani dengan baik. Segera rujuk ke Rumah Sakit jika penyakit mengganas



DAFTAR PUSTAKA

FKUI, 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta. Media Aesculapius. Hal:151-152
Rassner, 1995. Buku Ajar Dan Atlas Dermatologi. Jakarta. EGC. Hal:42-43
Wikipedia, 2010. Herpes Zoster. Http://id.wikipedia.com. (12 April 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar